Rabu, 26 Februari 2020

Kasus Pencabulan 20 Anak, Peringatan Besar Untuk Perkuat Program Sekolah Ramah Anak

Laporan oleh Dwi Yuli Handayani
Bagikan

Kasus pencabulan 20 anak oleh wali kelas salah satu SD swasta di Surabaya menjadi peringatan besar untuk memperkuat lagi program pemerintah. Sekolah ramah anak yang selama ini jadi angan-angan semata, menunjukkan ada gunung es problem perlindungan anak.

Prof. Dr. Ahmad Muzakki Ketua Dewan Pendidikan Jatim mengatakan, pemerintah harus melihat ini sebagai kasus besar. Anak-anak harus tumbuh di bawah perlindungan orang dewasa harus diperkuat lagi.

“Ini bukan persoalan ringan bahwa pemeirntah harus hadir, jangan banyak berwacana,” kata Ahmad Muzzaki pada Radio Suara Surabaya.

Saat ini, kata di, UU perlindungan anak dan Perdanya sudah ada. Tapi faktanya belum ada tindakan nyata. Masalahnya, regulasi kita butuh diturunkan lagi untuk diimplementasikan.

Selain itu, CCTV juga tidak hanya dibutuhkan untuk ujian nasional (UN) tapi dibutuhkan juga untuk mengawasi lingkungan sekolah.

Pendidikan profesi guru juga harus menyentuh perlindungan anak. Karena selama ini masih bicara materi, belum pada pelayanan anak.

“Kalau di luar negeri, harus ada kompetensi khusus yang dimiliki tenaga pendidik soal child protection. Jadi ketika lulus dan jadi guru, hak-hak khusus yang dimiliki akan harus dipenuhi orang dewasa,” ujarnya.

Kasus pencabulan ini, kata dia, tidak bisa dibiarkan. Kerjasama orang tua, sekolah dan masyarakat harus diperkuat untuk perlindungan anak. Supaya masalah ini bukan hanya jadi perhatian orang tua tapi juga sekolah dan masyarakat.

“Kita akan mencoba segera berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan karena masalah ini serius. Kita juga akan dorong pemerintah evaluasi ulang sekolah ramah anak dengan program yang lebih konkrit,” tambahnya. (dwi)

Berita Terkait