Minggu, 22 Mei 2022

Pasca Gelombang Tinggi, Pemkab Gunung Kidul Atur Bangunan Bibir Pantai

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi. Foto: Antara

Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan melakukan penataan kawasan wisata pantai pascagelombang pasang yang menyebabkan ratusan bangunan rusak dan hanyut terbawa ombak.

Asti Wijayati Kepala Dinas Pariwisata Gunung Kidul di Gunung Kidul, Minggu (29/7/2018) mengatakan, musibah gelombang tinggi sebagai momentum penataan kawasan pantai.

“Selalu ada berkah di balik musibah. Peristiwa ini bisa digunakan pemkab untuk menata ulang seluruh kawasan pantai yang selama ini kesulitan ditata,” kata Asti dilansir Antara.

Ia menegaskan, nantinya kawasan pantai akan dikemas sedemikian rupa sehingga bangunan yang berada di pinggir pantai yang melanggar sempadan pantai akan ditertibkan. Selain itu bangunan juga akan dibuat agar mengedepankan kearifan lokal.

“Kami berharap mendapatkan dukungan dari semua pihak, termasuk warga maupun pengelola wisata,” harapnya.

Sementara itu, Immawan Wahyudi Wakil Bupati Gunung Kidul mengatakan, sebenarnya pascagelombang tinggi 2017, ada tim revitalisasi pantai yang dibentuk untuk membuat kajian agar bangunan dimundurkan ke wilayah aman.

“Sudah ada tim sejak 2017 tetapi hingga saat ini mereka tidak jalan, padahal janjinya dalam enam bulan sudah selesai revitalisasi pantai,” ucapnya.

Dia mengatakan perlu penataan karena lapak-lapak dan gazebo milik masyarakat ini terlalu dekat dengan bibir pantai. Hal itu membuat jika ada gelombang tinggi dapat terkena sewaktu-waktu.

Kawasan sempadan pantai tercatat sepanjang 100 meter dari pantai telah diatur dalam regulasi baik dalam Perda DIY dan perda kabupaten maupun Undang-Undang 27 Tahun 2007. Namun peraturan itu diakui karena keberadaan bangunan apapun di wilayah tersebut.

“Nanti kami laporkan ke Bupati (Badingah, red) terkait tim ini sehingga memberikan solusi,” katanya.

Marjono Koordinator SAR Satlinmas Korwil II Gunung Kidul mengatakan gelombang tinggi yang menerjang kawasan pesisir pantai selatan merupakan siklus tahunan yang selalu berulang setiap tahun.

“Gelombang tinggi seperti ini biasa setiap tahunnya, ini merupakan siklus tahunan,” katanya.

Gelombang tinggi yang berlangsung sejak beberapa hari terakhir nyaris tidak pernah surut. Puncaknya terjadi Selasa (24/7/2018) hingga Rabu (25/7/2018) dini hari, di mana ombak menghancurkan ratusan bangunan yang berada di sepadan pantai.

“Puncak gelombang sampai 30,3 feet, sampai akhir Juli diprediksi masih tinggi tetapi hanya sekitar 15 feet,” ucapnya.(ant/tin/dwi)

Berita Terkait

Surabaya
Minggu, 22 Mei 2022
29o
Kurs