Senin, 24 Januari 2022

Pengurus MUI Tanggapi Halal-Haram Bitcoin

Laporan oleh Restu Indah
Bagikan
Ilustrasi

Cholil Nafis Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia secara pribadi menanggapi soal hukum halal dan haram Bitcoin yang menjadi alat tukar daring dan sebagai sarana investasi masyarakat.

“Kalau sebagai alat tukar yang penting mau menerimanya it`s okay. Tapi kalau jadi mata uang kita mengikuti standar pemerintah dengan Indonesia tidak memperbolehkan tukar uang selain pakai Rupiah,” kata Cholil seperti dikutip Antara.

Dia mengibaratkan Bitcoin sebagai alat tukar itu sebagaimana menjadikannya seperti kupon atau hadiah poin. Saat seseorang mendapatkan “reward” poin maka dia bisa menukarnya dengan sesuatu. Hal itu juga berlaku bagi Bitcoin tapi berbeda jika membuatnya menggantikan sebagai mata uang pengganti.

Sementara itu, dia mengatakan jika Bitcoin jadi alat untuk investasi maka tidak boleh secara agama atau haram karena mengandung unsur “gharar” atau pertaruhan yang dapat merugikan orang lain.

Menurut dia, Bitcoin sebagai investasi menjadikannya ada unsur spekulasi yang merugikan orang lain.

“Kalau tidak merugikan orang lain tidak apa-apa, seperti orang bisnis barang langka di pasaran tapi saat menjualnya jadi murah dan rugi. Dia tidak merugikan orang lain,” kata dia.

Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia itu mengatakan Bitcoin saat ini sebagai investasi tidak memiliki jaminan bisa ditukar kapanpun. Kemudian, jika terdapat permasalahan menggunakan Bitcoin pengguna tidak bisa melakukan komplain sehingga berpotensi dirugikan.

Terlebih, kata dia, Bitcoin tidak memiliki “hedging”. “Hedging” adalah strategi perdagangan valuta untuk ?membatasi? atau ?melindungi? dana trader dari naik turunnya nilai tukar mata uang yang tidak menguntungkan.

“Kalau ada masalah tidak bisa komplain apalagi tidak ada “hedging”-nya. Harusnya ada sesuatu yang dijadikan sebagai standar dari materinya. Naiknya Bitcoin fluktuatif tanpa kendali, kalau turun cepat,” kata dia.

Dia mencontohkan setelah ada peringatan Bank Indonesia soal Bitcoin nyatanya mampu menurunkan nilainya sampai 40 persen.

“Kondisi tidak ada kontrol ini saya secara pribadi menggolongkannya haram sebagai investasi. MUI secara kolektif sedang membahas Bitcoin dan dalam waktu dekat akan keluar fatwanya,” kata dia. (ant/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Senja Penutup Tahun

Truk Derek Ringsek Setelah Tabrak Truk Gandeng Parkir

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Surabaya
Senin, 24 Januari 2022
32o
Kurs