Minggu, 28 November 2021

Populasi Elang Flores di Gunung Rinjani Terancam Punah

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Elang flores (Nisaetus floris). Foto: Burung Indonesia

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menyatakan populasi elang flores (Nisaetus floris) yang termasuk burung endemik Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), terancam punah akibat perburuan liar, kebakaran hutan dan penebangan pohon.

“Elang flores di Gunung Rinjani tergolong burung yang terancam punah,” kata Dwi Pangestu Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) di Mataram, Minggu (21/1/2018).

Ancaman kepunahan tersebut, menurut dia, berdasarkan hasil observasi keberadaan elang flores di wilayah kerja Resort Sembalun, Seksi Pengelolaan Wilayah II Kabupaten Lombok Timur, dengan luas areal pengamatan 36,1 hektare (ha).

Kegiatan monitoring yang melibatkan lima anggota tim pelaksana itu dilakukan selama enam hari, yakni 16 hingga 21 Juni 2017.

Dwi yang didampingi Pengendali Ekosistem Hutan Pertama BTNGR Kenny Apriliani, menyatakan kegiatan pemantauan populasi didasarkan pada perjumpaan-perjumpaan secara langsung yang dilakukan di sejumlah lokasi yang selama ini dijadikan situs pengamatan (monitoring site).

Lokasi pengamatan itu berada di wilayah Dendaun yang termasuk kawasan berbukit, dan memiliki kawasan kantung berupa padang savana dikelilingi bukit dan hutan.

Selain itu, menurut dia, wilayah pemantauan Sajang yang merupakan wilayah padang savana berbatasan dengan hutan primer. Kondisi hutan tersebut masih asli, di mana banyak ditemui sejumlah lembah.

Lokasi pemantauan terakhir, dikemukakannya, di Mangku Sakti yang merupakan titik lokasi paling sering dijumpai elang flores bertengger.

“Dari hasil monitoring dapat disimpulkan bahwa pada habitat atau monitoring site elang flores yang terdapat di Resort Sembalun seluas 36,1 hektare terdapat dua elang flores,” ujarnya.

Ia mengatakan untuk menjaga kelestarian elang flores di Gunung Rinjani, maka perlu dilakukan kegiatan penelitian secara maksimal, khususnya mengenai sarang guna memudahkan dugaan populasi serta informasi lainnya.

Selain itu, BTNGR akan mengintensifkan penyuluhan kepada masyarakat tentang status keberadaan jenis elang tersebut mengingat keberadaannya semakin kritis atau terancam punah.

Upaya lain, dinilainya, perlu meningkatkan patroli kawasan terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat mempengaruhi kelestarian elang flores.

“Elang flores merupakan jenis elang di wilayah Nusa Tenggara yang berdasarkan International Union for Conservation of Nature masuk dalam kategori terancam punah. Jika tidak mendapatkan perhatian khusus, maka tidak mustahil akan punah di Rinjani,” demikian Dwi Pangestu.(ant/iss/bid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Minggu, 28 November 2021
28o
Kurs