Kerja keras tidak akan menghianati hasil, itulah yang dibuktikan oleh Rebecca Alexandria Hadibroto seorang gadis asal Jakarta yang masih berusia 12 tahun. Berawal dari film Barbie “The Twelve Dancing Princesses”, gadis yang akrab disapa Rebecca itu, mulai terinspirasi dan memantapkan niatnya untuk terjun ke dunia balet.
Di Indonesia, tari balet belum terlalu familiar dibandingkan dengan tari-tarian yang lain. Balet masih dikenal sebagai pertunjukkan kelas menengah atas dan biaya les balet juga tergolong mahal. Orang tua Rebecca sempat dilema akan hal itu. Mengingat, Rebecca lahir dari keluarga yang sangat terbatas secara ekonomi.
Namun dengan tekat yang kuat, seorang pelatih balet memberikan kesempatan gratis kepada Rebecca untuk berlatih balet. Kesempatan itu tidak diberikan secara cuma-cuma, tapi karena melihat bakat dan potensi besar yang dimiliki Rebecca. Akhirnya, dia pun bergabung dalam sekolah balet tertua dan terbesar di Indonesia, yaitu Marlupi Dance Academy (MDA).

Fokus dengan les baletnya, tidak membuat Rebecca lupa dengan pentingnya pendidikan. Dengan jadwal yang sudah diatur, orang tua Rebecca memutuskan untuk menjalani homeschooling. Sebelum les, Rebecca akan belajar seperti siswa pada umumnya di sekolah. Hanya saja, kegiatan itu dilakukannya di rumah bersama dengan guru privatnya.
“Ya aku homeschooling. Jadi sebelum aku berangkat les balet, aku belajar dulu. Terus misal guru les baletnya ada acara, ya aku gunakan untuk belajar. Masih tetap punya banyak teman kok. Karena seringkali aku belajar tidak sendiri, tapi bareng sama teman-temanku,” kata Rebecca, Selasa (4/9/2018).
Selama berlatih, diakuinya menari balet ternyata bukan hal yang mudah. Banyak tantangan yang harus dia dihadapi, terutama soal mental dan kedisiplinan. Kaki terkilir hingga memar, sudah sering ia rasakan selama ini. Belum lagi tindakan bullying dari teman-temannya, karena kondisi ekonomi Rebecca. Namun dia sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Dengan semangat dan dukungan positif dari orang di sekelilingnya, dia berhasil menorehkan prestasi di kompetisi balet.
“Kesan pertama kali latihan balet itu capek banget karena loncat-loncat. Terus aku juga pernah keseleo, cedera, sampai memar. Tapi menurut aku itu udah biasa sih. Memang sakit, tapi dalam mindset aku, tidak boleh menyerah dan pasti bisa. Guruku bilang, semua itu ada dipikiran. Kalau pikiran kita nggak semangat, ya belajar pun jadi malas. Tapi kalau pikiran kita semangat, pasti bisa melakukannya,” kata dia.
Di usianya yang masih muda, Rebecca sudah memiliki segudang pengalaman di kompetisi balet internasional. Salah satunya di gelaran Youth America Grand Prix (YAGP), yang merupakan kompetisi balet bergengsi dan terbesar di seluruh dunia dan diadakan di Amerika Serikat. Bertekad dengan penuh keyakinan, Rebecca mampu merebut piala kemenangannya dan meraih juara pertama mengalahkan peserta dari berbagai negara.
Bahkan, dia juga menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia, yang pertama kali menjuarai kompetisi internasional ini. Tidak lupa dengan bangsanya, Rebecca kerap kali membawa dan mengibarkan bendera Indonesia, saat berada di kompetisi balet.
“Aku ke beberapa negara untuk ikut kompetisi, mulai dari kompetisi di Hongkong, Malaysia, Singapura, Australia, Taiwan hingga New York. Paling berkesan itu yang ke Australia dan Taiwan. Di sana aku ketemu orang Asia dan orang bule. Mereka cenderung menggunakan lagunya dengan khas. Itu yang bikin aku menarik dan semangat. Kalau soal saingan terberat menurutku Korea dan Jepang. Tapi tergantung sekolahnya juga sih,” tuturnya.
Dengan prestasi yang begitu membanggakan, tidak heran banyak masyarakat yang mengidolakan Rebecca. Bukan hanya kecantikan dan sifat manisnya, tapi cara bertuturnya yang menunjukkan sikap kedisiplinannya selama belajar diterapkan dengan baik.
Seperti di Surabaya, Rebecca tampil menari ballet dihadapan beberapa masyarakat Surabaya. Penampilannya membuat para penontonnya kagum. Karena tidak semua orang bisa melakukannya dan Rebecca menampilkan tarian terbaiknya di Kantor Konjen AS, sore ini, Selasa (4/9/2018). Di kesempatan itu, Rebecca mengaku memiliki target untuk kembali mengharumkan nama Indonesia. Dia ingin mengikuti Prix de Lausanne, kompetisi balet dunia di Swiss, yang dikenal ajang paling bergengsi.
“Kalau bisa aku ingin selamanya jadi Ballerina. Mungkin suatu saat aku bisa mengajar juga. Targetku sementara ini ingin tambah pengalaman lewat lomba-lomba. Kuncinya kalau mau sukses, terus bekerja keras dan pantang menyerah,” tutupnya. (ang/iss/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
