Sabtu, 16 Januari 2021

Idul Fitri 1440 Hijriah, Saatnya Rekonsiliasi

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Prof. Dr Masdar Hilmy Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Foto: Denza suarasurabaya

Prof. Dr Masdar Hilmy Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dalam Khutbahnya usai Salat Idul Fitri di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya mengajak umat muslim kembali bersatu.

Prof. Masdhar membuka khutbahnya dengan menyatakan bahwa Ramadhan kali ini istimewa karena beriringan dengan pesta demokrasi lima tahunan, Pemilihan presiden dan wakil presiden, pada 17 April lalu.

“Ini mengingatkan kita dengan beberapa Ramadhan yang terjadi di masa lalu, yang pelaksanaannya beriringan dengan agenda nasional. Contohnya Ramadhan pada 1945 silam yang mana Deklarasi Kemerdekaan RI dibacakan oleh Soekarno-Hatta,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan beberapa peristiwa sejarah yang terjadi pada Ramadhan saat Nabi Muhammad SAW masih hidup. Seperti Perang Badar, penaklukkan Makkah (fathu Makkah), dan peristiwa turunnya Alquran (Nuzulul Quran).

“Sayang seribu sayang, Ramadhan kali ini agak ternoda dengan aksi kerusuhan massa di Jakarta yang menimbulkan korban jiwa. Aksi ini patut disayangkan karena korban dan mayoritas petugas sama-sama sedang menjalankan ibadah puasa,” katanya.

Sebab itulah pada 1 Syawal 1440 Hijriah ini dia mengajak seluruh umat mengakhiri perpecahan, menjaga persaudaraan, dan menjad warga negara yang cerdas yang tidak mudah percaya berita bohong.

Masdhar sempat mengutip dua Surah Alquran: Al-Hujurat Ayat 10 tentang mendamaikan selisih di antara umat muslim, dan Ali Imran Ayat 103 tentang Tali Agama dan seruan tidak bercerai-berai.

“Dari kedua ayat di atas maka jelaslah bahwa menjalin ukhuwwah dan persatuan umat merupakan perintah Allah SWT yang wajib kita patuhi, terlepas dari perbedaan-perbedaan pilihan yang diambil dalam kehidupan ini,” katanya.

Dia meminta warga mewaspadai sumber-sumber perpecahan bangsa. Upaya adu domba, meremehkan orang lain, mencaci maki, dan semacamnya. Pilihan politik yang berbeda, menurutnya, seharusnya tidak membuat warga saling mencaci maki.

“Sebutan kecebong, kampret, taghut, dajjal dan julukan-julukan lain terhadap sesama saudara kita sendiri sungguh tidak mencerminkan keluhuran akhlak dan budi pekerti Islam,” ujarnya.

Istilah-istilah itu hanya menimbulkan kecurigaan, kebencian, bahkan perpecahan bangsa. Jika tidak segera dipulihkan, kata Masdhar, hal-hal semacam itu akan mengantarkan pada kehancuran bangsa dan negara secara total.(den/dwi)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan di Margorejo

PickUp Mogok di Flyover Waru

Pantauan Lalu Lintas Wonokromo arah A.Yani

Rusak, Berlubang, dan Bergelombang

Surabaya
Sabtu, 16 Januari 2021
29o
Kurs