Rabu, 5 Agustus 2020

Meski Kena Dampak Banjir, Mendikbud Tidak Beri Dispensasi Ujian Bagi Siswa di Madiun

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Muhadjir Effendy Mendikbud melakukan peninjauan sekolah terdampak bencana banjir bandang di Kabupaten Madiun, Senin (11/3/2019). Foto: Istimewa

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) memprioritaskan untuk memperbaiki fasilitas belajar bagi sekolah dan peserta didik terdampak bencana banjir di Kabupaten Madiun. Fasilitas belajar merupakan kerusakan yang paling banyak terjadi pada banjir bandang di Kabupaten Madiun beberapa waktu lalu (5/3/2019).

Hal ini terungkap saat Muhadjir Effendy Mendikbud melakukan peninjauan sekolah terdampak bencana banjir bandang di Kabupaten Madiun, Senin (11/3/2019).

Kabupaten Madiun merupakan wilayah terdampak bencana banjir bandang terparah dari 15 kabupaten yang terdampak banjir di Provinsi Jawa Timur. Terdapat sebanyak delapan kecamatan yang terendam banjir, meliputi Kecamatan Madiun, Saradan, Pilangkenceng, Balerejo, Sawahan, Mejayan, Wungu, dan Wonosari.‎

“Sekolah-sekolah memang ada kerusakan tapi tidak fatal, atau hanya mengalami kerusakan ringan,” jelas Muhadjir.

Kerusakan itu, kata Muhadjir mencakup fasilitas sekolah, buku-buku perpustakaan, alat elektronik, komputer dan alat musik.

“Nanti dari pemerintah pusat akan ada bantuan, akan kita rumuskan terlebih dahulu, kerja sama akan dilakukan dengan kabupaten untuk jenjang SD dan SMP,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia tidak merencanakan untuk memberlakukan dispensasi untuk penyelenggaraan ujian bagi para siswa. Sebagai informasi, bencana banjir terjadi bertepatan saat para siswa sedang mengikuti ujian, dan latihan ujian untuk persiapan ujian tingkat nasional atau try out.

“Kelas 3 SMP tidak diberi dispensasi ujian, tidak perlu kayaknya karena mereka bisa menyesuaikan diri, termasuk memberikan bahan bantuan untuk ujian sekolah,” tegasnya.

Data lembaga pendidikan yang terkena bencana lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun per 6 Maret 2019 mencatatkan terdapat sebanyak 33 satuan pendidikan terdampak bencana. Sekolah ini terdiri atas 22 Sekolah Dasar (SD), sembilan Taman Kanak-Kanak (TK), dan dua Sekolah Menengah Pertama Negeri.

Saat peninjauan, Sodik Hery Purnomo, selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, mengungkapkan banjir mengakibatkan kerusakan fasilitas belajar.

“Kerusakan akibat banjir mencakup fasilitas kegiatan belajar mengajar dari masing-masing sekolah, seperti komputer, buku, alat musik,” ujar Sodik.

Oleh karena itu, Sodik melanjutkan, banjir tidak menghentikan siswa untuk belajar, bahkan tetap mengikuti ujian umum bersama dan ujian tengah bagi jenjang Sekolah Menengah Pertama. Ke depan, Sodik menjelaskan bahwa secara individual para siswa pun kehilangan kebutuhan bersekolah sehari-hari, seperti seragam, buku.

Sementara Muhadjir Effendy menekankan perlunya pengajaran mitigasi bencana di tingkat kabupaten. Pengajaran ini sebagai langkah preventif jangka panjang untuk penanganan bencana di masing-masing daerah.

“Pengajaran ini saya anjurkan Bapak Bupati untuk memasukkan kurikulum pengajaran mitigasi penangananan banjir,” jelas Mendikbud, di sela-sela tinjauan daerah terdampak banjir di Kecamatan Balurejo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Pengajaran mitigasi bencana merupakan bagian dari pendidikan karakter di sekolah-sekolah di Indonesia. Pelaksanaannya bekerjasama dengan kementerian terkait untuk mengajar kebencanaan dengan integratif di luar kurikulum jam sekolah.

“Di sekolah itu ada delapan jam, ada sisa waktu selain intrakurikuler, ada sisa waktu sebetulnya untuk mitigasi, itu bisa diterapkan di sekolah. mereka bisa diberikan materi di luar kelas yang sifatnya menggembirakan tidak menjemukan,” ujar Mendikbud.

Untuk pengajar, lanjut Mendikbud, terdapat pengajar dari Kementerian Sosial untuk mengajar penanganan bencana. Pendidikan mitigasi ini, lanjut Mendikbud, dapat dilaksanakan di luar mata pelajaran. pendidikan ini berlangsung di semua jenjang bahkan hingga ke perguruan tinggi.

Materi pengajaran pendidikan mitigasi menyesuaikan dengan potensi bencana dari wilayah bersangkutan. Sehingga, para peserta didik mendapatkan bekal kebencanaan menyesuaikan dengan potensi bencana di wilayah masing-masing.

“ini akan terus kita galakkan di tingkat nasional, dan ini masing-masing sekolah akan diberi materi mengenai kebencanaan terutama yang memang dialami atau berpotensi dialami di tempat itu. Kalau ada wilayah potensial banjir ya diajari mitigasi bencana banjir, kalau di wilayah gempa ya akan diajari mitigasi bencana gempa, menyelamatkan diri dan melindungi diri dari gempa, erupsi gunung berapi akan diajari untuk mitigasinya. nanti akan diajari secara spesifik menurut bencana yang berpeluang,” kata Muhadjir.

Rute peninjauan lokasi terdampak banjir di Kabupaten Madiun oleh Mendikbud mencakup Posko Utama kantor Kecamatan Balerejo, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 01 Balerejo, TK/Sekolah Dasar Glonggong, TK/SD Jerukgulung 01, TK/SD Warurejo, TK/SD Babadan Lor 01, SD Purworejo, Sekolah Menengah Kejuruan Pendidikan Guru Republik Indonesia (SMK PGRI) Mejayan. Rangkaian agenda peninjauan berlangsung selama tiga hari yaitu dari Senin hingga Rabu ini (11-13 Maret 2019). (faz/dwi)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Radityo Jufriansah

Potret NetterSelengkapnya

Truk Patah As di Gedangan

Truk Muat Pasir Terguling di Balongbendo

Kerikil Berserakan, Lalu Lintas Macet

Fortuner Masuk Sungai Kaliwaron

Surabaya
Rabu, 5 Agustus 2020
26o
Kurs