Sabtu, 24 Februari 2024

Parenting for All, Upaya Ratakan Pendidikan Pola Asuh pada Anak

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Program pengabdian masyarakat bertajuk "Parenting for All". Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Bermula dari keprihatinan melihat pola asuh anak yang bermasalah di beberapa kampung Surabaya, Yayasan Seribu Senyum menggagas program pengabdian masyarakat bertajuk “Parenting for All”.

Umdatul Ummah Manager Program Development Yayasan Seribu Senyum mengatakan, program ini digagas setelah mereka menyadari bahwa pendidikan pola asuh kepada anak tidak menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

“Orang-orang di kelas atas kan biasa tuh di sekolah-sekolah elit sudah ada ilmu tentang pola asuh anak. Anak-anak yang di kampung dampingan kami gak ada sama sekali, ada anaknya yang pulang sering dipukuli sama ibunya. Menghardik, menghina anak, tidak merawat dan tidak mempedulikan,” ujar Umda pada suarasurabaya.net, Jumat (31/5/2019).


Perwakilan Yayasan Seribu Senyum memberikan penjelasan kepada ibu-ibu tentang pola asuh anak. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Ia menilai, pola asuh yang bermasalah akan menghasilkan masalah lain di kemudian hari. Anak tumbuh secara liar, tidak memiliki empati dan etika menjadi salah satu hasil pola asuh anak yang bermasalah.

Pada tahun 2018 lalu, mereka akhirnya membuat parenting fair untuk menggalang dana. Hasilnya, hingga saat ini program ini masih eksis di empat kampung binaan yaitu Keputih, Sulung, Tambakpring, dan Karangpilang.

Terhitung, hingga saat ini per kampung ini sudah mendapatkan 10 kali pelatihan tentang Parenting. Mereka konsisten mengadakan pelatihan tiap minggu bergantian antar kampung binaan. Umda mengaku, meski belum sepenuhnya berhasil, sudah ada hasil dari pelatihan ini.

“Mereka sudah mulai nggak sering mukul anaknya, itu sudah Alhamdulillah banget, mas. Kalau misuhi (menghardik, red) anaknya masih adalah beberapa, tapi sebagian besar sudah berkurang. Sudah mulai berkata-kata baik ke anaknya. Sudah mau memahami, mau diajak curhat anaknya. Anaknya juga mulai ada perubahan. Lebih penurut dan punya sopan-santun,” katanya.

Ia bercerita, tak mudah mengajak para orang tua untuk mau belajar soal parenting. Ketika dulu mereka mengundang para orang tua, tak ada yang datang. Akhirnya mereka masuk lewat giat-giat lain di kampung tersebut, seperti yasinan, tahlilan bahkan rapat kampung. Namun, seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka mulai memahami.

“Tapi sekarang mulai ada perubahan. Mungkin tidak semuanya, separuhnya datang sudah Alhamdullilah. Kita juga tidak setiap bulan kita ngundang judulnya parenting, tapi masuk kajian-kajian mereka sendiri,” ungkapnya mengenang.

Mereka bersyukur, selama ini program ini terus di support terutama oleh para ahli parenting sepeti Bunda Aisyah Kamelia dari komunitas Cahaya Bunda dan Bunda Luluk Pimpinan Aisyiyah Surabaya.

“Kami punya impian, membagikan ilmu tentang pola asuh ini ke kampung-kampung dampingan kami. Jadi biar sama ilmunya antara orang-orang yang gak punya dan yang punya,” tutur Umda.

Meski jalan masih panjang, tapi Umda mengaku terus memiliki harapan. Ia menilai anak adalah aset penting karena merekalah generasi penerus bangsa. Jika tidak, bisa saja bangsa ini hancur suatu saat nanti. (bas/tin/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok, Jembatan Branjangan Macet Total

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Bus Tabrak Tiang Listrik di Sukodadi Lamongan

Surabaya
Sabtu, 24 Februari 2024
27o
Kurs