Kamis, 13 Mei 2021

Polda Jatim Lakukan Rekonstruksi Kasus Mutilasi Guru Tari di Kediri dan Blitar

Laporan oleh Dwi Yuli Handayani
Bagikan
Pelaku saat menjalani proses rekonstruksi kasus mutilasi guru tari asal Kota Kediri, Jawa Timur, di sebuah warung Desa Sambi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (24/4/2019). Foto: Antara

Aparat Kepolisian Daerah Jawa Timur melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan disertai mutilasi dengan korban Budi Hartanto (28) di sejumlah lokasi wilayah Kediri dan Blitar.

“Total ada 38 adegan. Rekonstruksi ini menggambarkan bagaimana polisi melakukan penyelidikan secara transparan, akurat dan kami ingin tunjukkan kepada masyarakat mengenai TKP ini yang sebenarnya,” kata Kombes Pol Frans Barung Mangera Kabid Humas Polda Jatim di sela rekonstruksi di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, Jatim, Rabu (24/4/2019).

Menurut Barung, setiap adegan menunjukkan apakah keterangan dari pelaku sesuai dengan kejadian. Hal itu akan tergambar dari berbagai adegan yang direkonstruksi di sejumlah lokasi.

Ia menambahkan bahwa kasus pembunuhan itu terjadi karena sebelumnya ada cekcok. Ada dua pelaku yang terlibat, yakni AS (34) dan AP (22).

Saat rekonstruksi di warung tempat kejadian perkara tersebut, AS dan AP berada di warung, kemudian korban datang mengendarai sepeda motor dan bertemu dengan keduanya.

Barung mengatakan hubungan antara korban dengan pelaku, terutama AS cukup dekat. Budi Hartanto sempat meminta uang, namun tidak mendapat uang tunai dari AS, sehingga emosi dan memaki pelaku. Di tengah perselisihan, tersangka lain, yakni AP, mengetahui hal itu, kemudian berusaha menengahi.

“Kenapa ini awal mulanya, ini persoalannya transaksional. Almarhum marah dan setelah marah si Azis (AP) ini bilang jangan marah-marah karena sudah malam, tapi diabaikan, dijawab ini bukan masalah kamu,” kata dia, seperti dilansir Antara.

Pertikaian akhirnya terjadi, Budi Hartanto yang tidak terima kemudian menampar dan berusaha menyabetkan parang kepada pelaku, namun AP berhasil menangkisnya dan justru membalas serangan tersebut.

AP yang berhasil merebut parang tersebut lantas menyabetkan beberapa kali bacokan ke tubuh korban hingga tersungkur dan akhirnya kehilangan nyawanya.

Setelah itu, AS pulang ke rumah mengambil koper milik ibunya. Bersama AP, jasad korban yang sudah tak bernyawa dimasukkan ke koper, namun ternyata koper tersebut tak cukup memuat seluruh tubuh korban, sehingga bagian kepala korban dipotong.

Barung menegaskan bahwa saat terjadi mutilasi tersebut korban sudah meninggal dunia. Tubuh korban yang berada dalam koper lantas dibuang di bawah jembatan Karanggondang, Kabupaten Blitar. Sementara kepala korban yang terbungkus kantong plastik, dibuang di bantaran Sungai Ploso Kerep, Kabupaten Kediri.

“Dari awal penghilangan leher adalah hilangkan jejak awam, wajahnya dia. Kalau orang awam melihat wajahnya tahu. Yang kedua, agar mudah masuk koper. Lalu pembuangan dan mulai dikubur (kepala korban),” ungkapnya.

Proses rekontruksi juga berjalan dengan lancar. Puluhan warga sudah memadati lokasi rekonstruksi sejak awal, bahkan tidak jarang polisi harus tegas karena warga merangsek masuk ke dalam garis polisi.

Setelah dari warung nasi goreng tempat kejadian perkara selesai rekonstruksi, kegiatan dilanjutkan dengan lokasi pembuangan kepala korban dan pembuangan tubuh korban.

Kasus penemuan mayat dalam koper tersebut terjadi pada Rabu (3/4/2019) pukul 07.00 WIB. Hal itu membuat warga Kabupaten Blitar geger. Koper berwarna hitam itu ditemukan pencari rumput di Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu. (ant/dwi)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Wadungasri Macet

Kecelakaan di Gunungsari

Kecelakaan di Manyar Gresik

Truk Terguling, Solar Menggenangi Jalan

Surabaya
Kamis, 13 Mei 2021
30o
Kurs