Senin, 3 Agustus 2020

Sempat Diblokir Pengunjuk Rasa, Jalur Utama Pandaan-Beji Telah Dibuka

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ratusan warga Desa Baujeng, Beji, Pasuruan berunjuk rasa dengan menutup total jalur utama Pandaan-Beji, Senin (7/10/2019) pagi. Foto: Harsoyo via e100

Pascademo yang dilakukan ratusan warga Desa Baujeng, Beji, Pasuruan, hingga menutup total jalur utama Pandaan-Beji, Senin (7/10/2019) pagi, akhirnya pada Senin siang sekitar pukul 13.00 WIB ini, jalur tersebut resmi dibuka dua arah. Sehingga arus lalu lintas kendaraan yang melaju di jalur tersebut telah berangsur normal.

Hal ini disampaikan oleh Ipda Gede Sukana Kanit Lantas Polsek Beji, bahwa material yang digunakan untuk menutup jalan seperti ban bekas, saat ini sudah dipinggirkan. Dengan begitu, pengguna jalan dapat kembali melewati jalur utama Pandaan-Beji.

“Alhamdulillah, barusan juga material-material dan bahan-bahan yang digunakan untuk menutup arus sudah dipinggirkan. Saat ini jalur sudah dibuka, arus 2 arah sudah normal,” kata Ipda Gede kepada Radio Suara Surabaya.

Menurutnya, demo mereda saat perwakilan pengunjuk rasa melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan, hingga tercapainya kesepakatan.

Aksi yang terjadi Senin pagi tersebut merupakan salah satu bentuk protes terhadap pabrik yang membuang limbah dan mencemari sungai yang ada di sekitar Desa Baujeng.

Abdul Rouf salah satu perwakilan warga mengatakan, menurut hasil pertemuan antara Muspika dan Polri, akhirnya muncul kesepakatan antara pihak perusahaan dan warga.

“Jadi satu bulan terhitung hari ini, tidak boleh membuang limbah apapun di aliran sungai. Seiring itu, perusahaan harus membenahi air limbah. Jika dalam waktu satu bulan ditemukan pembuangan limbah lagi, maka perusahaan siap ditutup,” ujarnya.

Sedangkan selama satu bulan tersebut, warga tidak akan melakukan unjuk rasa, apalagi sampai menutup jalur utama Pandaan-Beji.

Rouf menambahkan, konflik antara perusahaan dan warga setempat telah beberapa kali terjadi. Diantaranya pada tahun 2011 dan 2014, walaupun kedua konflik tersebut akhirnya berakhir damai.

Meski perusahaan berlokasi jauh dari permukiman penduduk, namun limbah yang dibuang ke aliran sungai, kemudian mengalir dan masuk ke pemukiman penduduk. Warga pun yang menjadi dampak atas pencemaran lingkungan tersebut.(tin/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

Bintang Rahmadani

Potret NetterSelengkapnya

Truk Patah As di Gedangan

Truk Muat Pasir Terguling di Balongbendo

Kerikil Berserakan, Lalu Lintas Macet

Fortuner Masuk Sungai Kaliwaron

Surabaya
Senin, 3 Agustus 2020
27o
Kurs