Rabu, 26 Februari 2020

Wakil Ketua MPR Menduga Soal Ujian Bernuansa Khilafah Bukan Bikinan Kemenag

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Jazilul Fawaid Wakil Ketua MPR RI(kemeja putih) foto bersama sejumlah warga pasuruan, usai kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR, Sabtu (7/12/2019), di Ruang Serba Guna Djoglo Kedjajan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Foto: Farid suarasurabaya.net

Jazilul Fawaid Wakil Ketua MPR RI menyayangkan adanya soal ujian Madrasah Aliyah di daerah Kediri, Jawa Timur, yang bernuansa khilafah.

Walau sudah ditarik, soal ujian kontroversial itu sudah terlanjur viral di berbagai media sosial dan mendapat kecaman publik.

Menurut Jazilul, semestinya Kementerian Agama (Kemenag) jeli memilih soal ujian, dan memperhatikan siapa yang membuat soal itu.

“Itu harus dilacak yang membuat soal ujian. Kalau nanti ditemukan, harus ditanyakan apa konteks membuat soal ujian seperti itu,” ujarnya usai melakukan silaturahim dan sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Sabtu (7/12/2019), di Ruang Serba Guna Djoglo Kedjajan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengatakan, tidak tahu apakah pihak Kemenag yang membuat sendiri soal ujian itu, atau memesan ke pihak lain dari luar Kemenag.

“Saya ragu, jangan-jangan soal itu hasil order, dan kebetulan yang menerima orderan itu orang yang suka bicara khilafah. Sepertinya Kemenag itu order soal ujian,” tegasnya.

Kata Jazilul, seharusnya tidak ada kejadian seperti itu, karena di Kemenag ada pengawas yang menilai dan mengukur konten soal ujian.

“Apa jangan-jangan tidak ada yang membaca dan mengevaluasi draf soal ujian itu,” katanya.

Sekadar informasi, Kemenag menarik soal ujian semester mata pelajaran Fikih untuk kelas XII Madrasah Aliyah di Kediri Utara, Jawa Timur karena mengandung konten khilafah.

Selain menarik soal ujian, Kemenag meminta Kanwil Kemenag Jawa Timur mengulang ujian semester khusus mata pelajaran Fikih. Hal itu dilakukan karena Kemenag melihat ada potensi konten khilafah disalahpahami peserta didik.

Kemenag juga berencana mengusut penyebab kejadian itu. Soal yang dipakai untuk ujian semester tanggal 2-7 Desember 2019 tersebut dirumuskan oleh Kelompok Kerja Madrasah (KKM) tiga Kabupaten di wilayah kerja Kediri Utara, yaitu Kota Kediri, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Nganjuk.(rid/tin)

Berita Terkait