Rabu, 3 Maret 2021

Soal Puisi Neno Warisman, KH Marzuki Mustamar: Ini Bukan Perang Badar

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
KH Marzuki Mustamar Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Foto: Denza suarasurabaya.net

Pembacaan puisi oleh Neno Warisman di acara Munajat 212 di Monas, Kamis (21/2/2019) lalu, yang serupa doa meminta agar Allah SWT memenangkan pasangan calon yang dia dukung memicu kontroversi.

KH Marzuki Mustamar Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang, yang saat ini menjadi Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, turut berkomentar.

“Ini bukan perang Badar,” tegasnya. “Siapa pun, tidak hanya Neno Warisman, besok pasti dihisab. Hati-hati omong lisan. Menyamakan ini (kontestasi Pilpres) kayak Perang Badar,” ujarnya.

Dia menjelaskan, di Perang Badar, Nabi Muhammad SAW berperang bersama para sahabatnya yang telah beriman penuh, bertauhid penuh, menjalankan Islam secara penuh melawan orang-orang yang sangat kafir, dan sangat musyrik.

Sehingga, menurut Kiai Marzuki, pantas bila Nabi Muhammad berdoa demikian, seperti puisi Neno Warisman, memohon kepada Allah SWT agar memenangkan kubunya karena khawatir bila kalah tidak ada lagi yang akan menyembah Allah SWT.

“Kalau doa itu dibaca sekarang, kayak yang satu itu pasukan Perang Badar Kanjeng Nabi, lawannya, pol, kafir, musyrik. Ya enggaklah. Ada Habib Luthfi masak musyrik? ada Kyai Haji Maimun Zubair masak musyrik? Ada massa pondok-pondok, masak iya musyrik?” kata Kiai Marzuki.

Dia meminta, siapa pun, tidak hanya Neno Warisman, agar tidak membuat statement yang tidak baik, yang akan memicu perpecahan. Seperti juga yang disampaikan salah satu tokoh di acara Alumni salah satu pondok besar di Ponorogo.

KH Marzuki menyebutkan, tokoh itu menyatakan sesuatu hal, dia mundur dari sebuah peran karena merasakan sesuatu hal tertentu, kemudian menyatakan jangan sampai di Pilpres 2019 ini muslim kalah.

“Stigma yang dibuat ini, kayak yang ini muslim melawan orang kafir. Padahal yang di sini hafiz Alquran banyak, yang punya pesantren banyak, yang rajin mengaji juga banyak. Mohon sekali lagi mohon, itu bisa membuat situasi panas, membuat negeri ini terpecah belah, dan hisab Allah berat,” ujarnya.

KH Marzuki Mustamar menegaskan, “kita sesama muslim beda pilihan, bukan beda agama.” NU sebagai salah satu organisasi keagamaan Islam di Indonesia, kata dia, hanya akan memberikan pemahaman kepada warganya bahwa apa yang disampaikan Neno Warisman dan tokoh di Ponorogo itu tidak benar.

“Tidak usah panas-panas. Kalau panas yang rugi kita juga. Perkara ada satu-dua pribadi NU yang menggugat (Neno Warisman,red) itu urusannya dia, bukan urusan organisasi (NU),” ujarnya.(den/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Atap Ambruk di Rangkah

Berlubang dan Berkubang

Kebakaran Rumah di Wonosari Surabaya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Surabaya
Rabu, 3 Maret 2021
27o
Kurs