Jumat, 3 April 2020

Hutan Kritis di Jatim Jutaan, Pemprov Libatkan Pendaki Gunung

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Kebakaran Gunung Ranti terlihat dari Paltuding, Gunung Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (22/10/2019). Foto: Antara

Kemarau panjang 2019-2020 menyebabkan ribuan hektare hutan di sejumlah gugusan gunung di Jawa Timur terbakar. Jumlah hutan dan lahan kritis pun makin mengkhawatirkan.

Gugusan gunung di Jatim yang terdampak karhutla kemarau 2019 antara lain Taman Hutan Rakyat (Tahura) Raden Soerjo (Arjuno-Welirang), Selingkar Ijen, Selingkar Wilis, dan Bromo-Tengger-Semeru.

Data Dinas Kehutanan Provinsi Jatim menunjukkan, hutan dan lahan kritis akibat kebakaran hutan mencapai 1,5 juta hektare. Tidak hanya alam, manusia juga berperan lewat pembalakan liar dan ilegal.

Di musim penghujan, selama kurun Januari-Februari ini, banjir bandang terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur. Baik di Kabupaten Mojokerto, di Malang, Bondowoso, dan Jember.

Hutan kritis alias gundul yang kemudian disalahkan jadi salah satu penyebab banjir bandang yang terjadi. Khofifah Gubernur Jatim mengakui, itu masih menjadi PR selama setahun memimpin bersama Emil.

Persoalan lingkungan hidup ini menjadi perhatian Khofifah-Emil pada tahun-tahun mendatang selain upaya mengurangi kemiskinan dan meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM).

Saat mengudara di Radio Suara Surabaya beberapa waktu lalu, Khofifah menyatakan, langkah utamanya untuk mengatasi masalah ini adalah dengan reboisasi.

Penanaman pohon menjadi program yang akan dilakukan Khofifah untuk menambah tutupan lahan, terutama untuk jutaan hektare lahan kritis yang tersebar di sejumlah kawasan di Jawa Timur.

Dewi Putriatni Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jatim menjelaskan, sebenarnya kriteria hutan dan lahan kritis ada tiga. Ada yang terkategori sangat kritis, kritis, dan potensial kritis.

Kalau dijumlah semua, kata Dewi, totalnya memang mencapai 1,5 juta hektare lahan kritis per tahun. Dalam penanganannya Pemprov Jatim fokus menangani hutan dan lahan kategori sangat kritis dan kritis.

Satu-satunya caranya, ya, cuma satu. Hanya dengan menanam kembali atau reboisasi. Beberapa waktu lalu, Khofifah sempat memunculkan wacana tabur biji lewat udara (helikopter). Tapi ini belum terlaksana.

Pelaksanaan tabur biji lewat udara ini menurut Dewi Kepala Dishut Jatim perlu kehati-hatian dan perencanaan yang matang. Sebab, berdasarkan pengalaman, keberhasilannya di bawah 10 persen.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan punya standar, upaya reboisasi dibilang berhasil kalau 60 persen dari benih yang disebar hidup. Tingkat keberhasilan itu biasanya dengan cara manual.

Tabur biji lewat udara atau aeroseeding tetap menjadi alternatif upaya reboisasi meski tingkat keberhasilannya rendah karena lebih murah dari cara manual yang melibatkan orang banyak.

Karena itu tabur biji lewat udara ini, kata Dewi, akan tetap dilakukan tapi tidak dalam waktu dekat. Ada cara lain yang sedang disiapkan Dishut Jatim untuk mencapai hasil yang lebih maksimal.

Salah satunya dengan melibatkan para pecinta alam. Komunitas-komunitas yang gemar mendaki gunung-gunung yang ada di Jawa Timur. Pemprov akan melakukan gerakan titip biji kepada mereka.

Dinas Kehutanan Jatim saat ini sedang menelaah pembuatan seed ball (bola berisi benih atau biji-bijian) yang akan disebar di lahan kritis. Dewi berharap ini menjadi sebuah percontohan.

Sedang ditelaah, seed ball itu adalah sejumlah benih tanaman baik yang bisa tumbuh tinggi dan ada yang bisa menjadi semak belukar dibungkus dengan media tanam (tanah plus kompos dan pupuk).

Bola benih itulah yang akan dititipkan kepada para pendaki gunung agar disemai di lahan-lahan kritis yang relatif terjangkau. Penyemaiannya sederhana, cukup dilempar atau dilontarkan dengan ketapel.

Hanya saja, Dewi belum berani menjamin tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Banyak faktor yang mengancam ketidakberhasilan penyemaian benih, yang memang sulit diantisipasi.

Kalau hanya berupa biji yang disebar, kemungkinan dimakan satwa, terbawa air ketika hujan, atau kebetulan jatuh di atas bebatuan dan perdu sangat tinggi. Seed ball Dewi harapkan menjadi solusi.

Penerapan seed ball ini juga akan dilakukan Dishut Jatim ketika menyiapkan biji yang akan ditabur lewat udara. “Saat ditebar nanti dibungkus besek, supaya seed ball itu tidak segera pecah ketika jatuh ke tanah,” ujarnya.(den/tin/ang)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Trailler Tabrak Pembatas Jalan di Tol

Mobil Terbakar di Karah Indah 1

Penyemprotan Disinfektan di A.Yani

Surabaya
Jumat, 3 April 2020
30o
Kurs