Senin, 15 Agustus 2022

Pakar Pendidikan Finlandia Paparkan Konsep Pendidikan di Unusa

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Seminar dan workshop internasional bahas pendidikan di Finlandia digelar kampus Unusa. Foto: Istimewa

Unusa gandeng Next Edu hadirkan pakar pendidikan, Allan Schneitz (Finlandia), Muslimin Ibrahim (Indonesia), Munif Chatib (Indonesia) memberikan wawasan pendidikan di negara Finlandia, Kamis (9/1/2020).

Sistem pendidikan Finlandia dianggap sebagai satu diantara sistem pendidikan terbaik di dunia. Pendidikan di negeri ini secara rutin mengungguli Amerika Serikat dalam bidang pendidikan termasuk, literasi membaca, sains, dan matematika.

Finlandia selalu menempati skor terbaik dalam survei penilaian siswa internasional (PISA) yang dilakukan tiga tahun sekali sejak 2000.

Allan Schneitz yang juga pencetus ide Dream School asal Finlandia, mengungkapkan pendidikan harus mampu menyiapkan anak-anak untuk menghadapi masa depannya. Karena tantangan yang datang di masa depan akan berbeda dengan apa yang terjadi saat ini.

“Tujuan pendidikan yang utama adalah menyiapkan bekal bagi anak-anak untuk menghadapi masa depannya. Karena itu perlu bagi para pendidik untuk mendapatkan wawasan apa yang sebenarnya terbaik bagi anak-anak dalam pendidikan di sekolah,” terang Allan Schneitz.

Finlandia sendiri, lanjut Allan selama ini dinilai sebagai negara dengan pendidikan terbaik karena konsep pendidikan yang sebenarnya sederhana. Yakni konsep pendidikan yang memberi kesempatan seluas-luasnya bagi anak untuk dapat mengembangkan minat dan bakatnya.

Mengedepankan nilai-nilai baik yang membentuk perilaku dan sikap positif. Finlandia percaya semua anak memiliki keunggulan masing-masing selama diberi kesempatan.

“Anak-anak tepat belajar matematika, bahasa sebagai pengetahuan dasar. Tapi kami lebih mengedapankan pendidikan yang menanamkan nilai-nilai pada anak-anak,” tambah Allan.

Secara khusus, lanjut Allan untuk menghadapi masa depan, ada keterampilan abad 21 yang harus dimiliki anak-anak, yaitu bagaimana menumbuhkan kreativitas, membangun kerja sama dan berkolaborasi, berpikir kritis dan membangun komunikasi.

Munif Chatib menyampaikan materi dengan tema Merdeka Belajar Itu Guru Kreatif kepada ratusan guru-guru yang berasal dari penjuru Indonesia dan beberapa dari Malaysia ini, mengungkapkan bahwa guru tegas akan dibutuhkan daripada guru keras.

Satu diantara contohnya bahwa pada usia dini, anak-anak cenderung bersikap sesuai dengan apa yang diinginkan guru. Ketika mendapati guru memberikan perintah dengan nada tinggi misalnya, sangat mungkin siswa akan melakukan pekerjaan yang diperintahkan.

“Bisa jadi hal ini hanya merupakan tindakan untuk menyenangkan guru, bukan tindakan yang benar-benar ingin dilakukan oleh siswa. Bukan tidak mungkin hal ini dilakukan dengan disertai rasa terpaksa, takut, atau bahkan tertekan,” papar Munif Chatib Dosen Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini.

Munif yang juga penulis buku Sekolahnya Manusia ini menambahkan, sikap tegas cenderung membuat kelas menjadi lebih tertib dan teratur, sedangkan sikap garang cenderung menimbulkan suasana kelas yang menegangkan.

Yang penting untuk diingat adalah bahwa dunia dan kehidupan terus berkembang, begitu pula manusia yang ada di dalamnya. “Guru harus bersikap sebagai teman belajar sekaligus bermain bagi siswa, bukan seorang guru kelas semata,” pungkas Munif

Sejumlah guru dan pendidik dari berbagai penjuru Indonesia serta beberapa dari Malaysia, Kamis (9/1/2020) hadir mengikuti seminar dan international workshop di Auditorium Lantai 9 Tower Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Kampus B Jemursari Surabaya.(tok/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Senin, 15 Agustus 2022
27o
Kurs