Selasa, 19 Januari 2021

Reagen Spesifik Korona Wuhan Bisa Menjawab Keraguan tentang Indonesia

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Prof Mohammad Nasih Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Foto: Unair

Prof Mohammad Nasih Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengatakan, reagen spesifik virus korona Wuhan yang ditemukan bersama Kobe University bisa menjawab keragu-raguan masyarakat.

“Muncul keraguan masyarakat internasional. Sebenarnya betul enggak, di Indonesia tidak ada yang kena virus korona. Atau Indonesia yang belum mampu mengidentifikasi?” katanya, Senin (3/2/2020).

Keraguan itu muncul karena negara-negara tetangga Indonesia seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina sudah mengonfirmasi paparan virus itu. Bahkan di Filipina sudah ada yang meninggal.

Keraguan ini, kata Nasih, juga mulai merebak di kalangan masyarakat Indonesia mengingat belum ada lembaga yang punya reagen spesifik untuk mendeteksi virus baru ini kecuali korona penyebab SARS.

“Untuk penyakit akibat virus, misalnya SARS, dan lain-lain, memang sudah ada. Tetapi kita tahu korona Wuhan ini jenis baru dari yang sudah ada. Perlu alat atau media yang spesifik untuk mendeteksi,” ujarnya.

Karena itu, peralatan dan bahan reagen (cairan kimia pendeteksi virus) yang yang spesifik dan akurat diperlukan untuk mengidentifikasi virus, sehingga penanganan selanjutnya bisa dilakukan.

“Kalau tidak ada kasus, tidak ada kasus antisipasi tidak bisa dilakukan, apalagi sampai menemukan antivirus-nya. Nah, dengan adanya reagen ini LPT Unair siap mengidentifikasi dan menangani.”

Temuan reagen spesifik 2019-nCov ini, menurutnya adalah berita baik. Dapat bisa meyakinkan luas, bahwa di Indonesia memang tida ada kasus infeksi korona Wuhan.

“Jangan sampai, dikatakan di media tidak ada tapi sesungguhnya ada. Atau sebaliknya, hasilnya ada tapi sesungguhnya di masyarakat tidak ada,” ujarnya saat memberikan keterangan pers di Unair.

Berkaitan identifikasi pasien suspect virus korona Wuhan dan penanganannya, Lembaga Penyakit Tropis (LPT) RS Pendidikan Unair sudah menyiapkan tim yang siap bekerja sama dengan RS lain.

“Kami sudah bekerja sama dengan RSUD dr Soetomo, dan tidak menutup kerja sama ini untuk rumah sakit lainnya. Kemarin sudah ada permintaan dari Universitas Brawijaya, kami siap kerja sama,” ujarnya.(den/iss/ipg)

Potret NetterSelengkapnya

Truk Mogok di Manyar Gresik

Jeglongan di Wedi Gedangan

Jalan Rusak di Brigjend Katamso Sudah Ditambal

… Lewati Lembah, Sungai Mengalir, Eh Bukan

Surabaya
Selasa, 19 Januari 2021
29o
Kurs