Senin, 26 Oktober 2020

Terima MURI, UWKS Kukuhkan Diri Sebagai Kampus Budaya

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Sebagian Gamelan asli Mojopahit tahun 1200 (ditutup kain ungu) dimainkan saat seremoni penyerahan sertifikasi MURI untuk UWKS. Foto: Totok suarasurabaya.net

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) kukuhkan disi menjadi kampus budaya ditandai penyerahan sertifikasi MURI, Senin (6/1/2020) sebagai kampus berwawasan kebudayaan.

Pasca pemberian rekomendasi Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi sebagai kampus berawasan budaya Kemojopahitan, UWKS kukuhkan diri sebagai kampus budaya.

“Kami ingin memberikan inspirasi atau mencoba menggelitik generasi muda dengan budaya asli negeri sendiri. Satu diantara contohnya adalah dengan menghadirkan arsitektur tradisional pada bangunan kampus UWKS. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik karena kami mencoba menggali dan mengapresiasi peninggalan tradisi atau budaya sendiri,” terang Drs. Soedijatmiko M.M., Ketua Yayasan Wijaya Kusuma Surabaya.

Saat ini, lanjut Soedijatmiko, belum banyak masyarakat atau khususnya generasi muda bangsa ini yang memiliki kepedulian terhadap budaya atau tradisi negeri sendiri. “Padahal ada banyak nilai penting dan sangat bernilai terkait peningggalan budaya dan tradisi bangsa ini. Hanya saja kita belum menggalinya,” tambah Soedijatmiko.

Oleh karena itu Soedijatmiko berharap melalui pengenalan dan pelestarian budaya tradisi peninggalan bangsa in akan banyak anak muda yang memiliki kepedulian kemudian mengaplikasikannya dengan seni modern.

Sementara itu, penyerahan sertifikasi Museum Rekor Indonesia (MURI) kepada UWKS sebagai kampus berwawasan budaya Kemojopahitan dijadwalkan dilaksanakan pada Senin (6/1/2020) malam di Green Tower Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dengan beberapa penampilan unik diantaranya adalah penampilan gamelan asli Mojopahit yang diperkirakan dibuat tahun 1200.

Gamelan asli Mojopahit tersebut merupakan milik Yohanes Wong warga Kota Surabaya yang terdiri dari 16 alat diantaranya adalah: Bonang Barung, Bonang Panembung, Kenong, Kendang dan juga Gong yang dijadwalkan bakal dimainkan pada seremoni penyerahan sertifikasi MURI.

“Gamelan ini terakhir kali dimainkan di tahun 1995 di Trowulan, Mojokerto pada sebuah acara. Lalu tidak lagi pernah dimainkan sampai dengan Senin (6/1/2020) malam ini, yang akan kembali dimainkan bersamaan penyerahan sertifikasi MURI untuk UWKS sebagai kampus berwawasan budaya Kemojopahitan,” tegas Soedijatmoko.

Selain penampilan Gamelan asli Mojopahit tersebut, dijadwalkan tampil Wayang Kulit lakon: Babad Alas Tarik, Berdirinya Kerajaan Mojopahit dengan dalang Ki Sabdho Sutedjo alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas WIjaya Kusuma Surabaya.

“Ki dalang bernama asli Tee Boen Liong ini adalah alumni UWKS dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan tahun 1984 yang merupakan satu diantara murid dari dalang kondang negeri ini, (Alm.) Ki Narto Sabdo,” tambah Rica S. Wuryaningrum Humas UWKS.(tok/ipg)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Bundaran Margomulyo

Macet di Tol Waru arah Satelit

Kecelakaan Truk di Tol Ngawi-Solo

Surabaya
Senin, 26 Oktober 2020
29o
Kurs