Sabtu, 31 Oktober 2020

Umat Tri Dharma Usai Sembahyang Imlek, Siapkan Cap Go Meh

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Umat melaksanakan sembahyang Imlek, dan memanjatkan doa untuk tahun baru. Foto: Totok/Dok. suarasurabaya.net

Setelah menggelar rpersembahyangan Imlek 2571, umat Tri Dharma di Kota Surabaya, Senin (27/1/2020) mulai mempersiapkan persembahyangan menyambut pelaksanaan sembahyang Cap Go Meh.

Dalam Bahasa Hokkian, Cap Go Meh secara harafiah dimaknai sebagai: 15 hari setelah Imlek. Dan pada saat itu masyarakat Tionghoa biasanya melakukan persembahyangan juga.

“Tapi beda dengan Imlek. Saat sembahyang atau merayakan Cap Go Meh, biasanya umat membawa persembahan dalam berbagai bentuk, untuk mengucap rasa syukur serta memohon keselamatan di tahun baru, atau tahun yang akan dijalani,” terang A Kiong pengurus Klenteng Hong san Ko Tee, Surabaya.

Persembahan berupa Kue Keranjang serta hadirnya menu Lontong Cap Go Meh juga menjadi sebuah ciri khas dari perayaan Cap Go Meh yang memang dihelat 15 hari setelah dilaksanakannya sembahyang Imlek.

“Kue Keranjang dibagikan kepada siapa saja. Kalau yang merayakan di rumah, Kue Keranjang bisa dibagikan kepada tetangga, atau kerabat lainnya. Juga ada Lontog Cap Go Meh, yang biasanya disediakan klenteng untuk disantap bersama umat dan siapa saja yang mau,” tambah A Kiong.

Namun demikian A Kiong mengingatkan bahwa sejatinya sajian Lontong Cap Go Meh bukanlah menu asli masyarakat Tionghoa dalam rangka perayaan Cap Go Meh. Menu Lontong Cap Go Meh adalah sebuah akulturasi antara tradisi Tionghoa dan Indonesia, Jawa khususnya.

“Justru pada masyarakat asli Tionghoa, menu Lontong Cap Go Meh bukan yang selalu hadir. Lontong Cap Go Meh itu campuran antara makanan Tionghoa dengan tradisional Jawa. Tapi sekarang ini, Lontong Cap Go Meh sepertinya selalu jadi bagian umat saat merayakan Cap Go Meh,” kata A Kiong.

Di negara aslinya, perayaan Cap Go Meh dikenal dengan sebutan Festival Yuan Xiao. Yang dalam tradisinya merupakan puncak dari seluruh rangkaian persembahyangan Imlek yang telah dimulai sebelumnya.

“Disana malah tidak ada Lontong Cap Go Meh. Dan jangan lupa bahwa sembahyang Cap Go Meh adalah puncak dari seluruh persembahyangan dan ritual yang sudah dilaksanakan sejak sebelum persembahyangan Imlek. Ini memang puncaknya,” pungkas A Kiong, Senin (27/1/2020).(tok/ipg)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Pengunjukrasa Melintas di Diponegoro

Hujan di Bratang Surabaya

Kecelakaan Melibatkan Dua Truk di Pandaan

Kebakaran Gudang di Simorejo Sari

Surabaya
Sabtu, 31 Oktober 2020
28o
Kurs