Kamis, 2 Februari 2023

Bukan Peta Sebaran, Pemprov Jatim Luncurkan Website Self Assessment COVID-19

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim tetap pada pendiriannya, tidak membuat peta sebaran COVID-19 yang bisa diakses publik. Dia memilih meluncurkan website self assessment (penilaian mandiri).

Lewat website bertajuk “Jatim Tanggap COVID-19 Jatim Self Assessment” beralamat checkupcovid19.jatimprov.go.id masyarakat bisa menilai diri sendiri apakah termasuk orang dengan risiko atau tidak.

Sejumlah pertanyaan asesmen yang disusun dr Makhyan Jibril Al Farabi, salah satu Anggota Satgas COVID-19 dari RSUD dr Soetomo, akan muncul dan harus dijawab masyarakat pengakses.

Misalnya, pertanyaan tentang apakah pengakses mengalami gejala-gejala yang mengarah ke COVID-19 seperti batuk, sesak napas, dan lain sebagainya, atau tidak? Juga beberapa pertanyaan lainnya.

Dokter Jibril salah satu anggota Tim Satgas COVID-19 yang menyusun pertanyaan asesmen saat menjelaskan website di Grahadi, Rabu (18/3/2020). Foto: Denza suarasurabaya.net

Pengakses akan mendapat kesimpulan dari semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, apakah pengakses berisiko tertular COVID-19 atau tidak, dan apa yang harus mereka lakukan.

Kalau pengakses berisiko, akan ada saran agar mereka segera memeriksakan diri ke faskes terdekat atau mengisolasi diri di rumah dan menghubungi call center 1500 117 untuk konsultasi lebih lanjut.

Dokter Jibril mengatakan, website ini tidak mendiagnosis, tetapi sifatnya screening. Dia contohkan, banyaknya masyarakat yang meminta dites corona, padahal hasilnya negatif.

Sementara, reagen untuk mengetes COVID-19 itu lebih dibutuhkan orang-orang dengan probabilitas tinggi tertular COVID-19 yang memang membutuhkan tes itu sehingga bisa segera ditangani.

“Cara ini sudah banyak dipakai di negara lain seperti Inggris, Kanada, dan US (Amerika Serikat). Sehingga mereka bisa mengalokasikan reagen dengan lebih efisien,” katanya.

Khofifah mengatakan, website ini dia harap bisa mengonfirmasi kebutuhan masyarakat atas gejala-gejala yang mereka alami di tengah wabah COVID-19 yang juga sudah masuk ke Jawa Timur.

“Website ini bisa menjadi jawaban supaya misalnya tidak terjadi masyarakat yang mengalami gejala batuk kemudian aparat daerahnya menyatakan, ini harus dibawa ke dr Soetomo, padahal dokter paru di daerahnya menyatakan pasien itu sudah cek torak dan tidak ada masalah,” ujarnya.

Selain fitur pengecekan secara mandiri itu, website ini juga memuat sejumlah informasi mengenai gejala COVID-19, 44 rumah sakit rujukan di Jawa Timur, dan informasi umum mengenai istilah pasien baik suspect, ODP, PDP, dan positif COVID-19.

Soal peta sebaran COVID-19 di Jatim, sebelumnya Khofifah menegaskan bahwa Pemprov tidak membuka akses bagi publik demi menghindari terjadinya alienasi orang yang dalam pemantauan maupun pasien dalam perawatan oleh masyarakat.(den/ipg)

Berita Terkait