Kamis, 24 Juni 2021

Epidemiolog Menilai, Jatim Perlu PSBB dengan Istilah Lain

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Dokter Windhu Purnomo Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Surabaya. Foto : Istimewa

“Menurut saya, seharusnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Cuma namanya terserah. Mungkin kalau PSBB orang sudah ngelu (pusing) lah ya,” kata Windhu Purnomo Epidemiolog FKM Unair.

Windhu mengakui, secara psikologis masyarakat sudah lelah dengan istilah PSBB. Tapi menurut Windhu, solusi yang perlu dilakukan pemerintah untuk membatasi pergerakan orang, ya, PSBB.

“Orang sudah lelah secara psikologis. Mungkin bisa dipakai nama lain. Tapi yang penting membatasi pergerakan. Karena pergerakan itu yang menyebabkan penularan,” katanya.

Pembatasan pergerakan manusia di Jawa Timur menurut Windhu perlu dilakukan karena dia menilai, pengetesan (testing) Covid-19 terhadap masyarakat di Jatim tergolong rendah.

“Kita tahu, ya. Testing kita kan juga tidak tinggi. Mestinya testing itu ditingkatkan. Tracing kita juga lemah sekarang ini. Tracing harus dimasifkan lagi,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dia kumpulkan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, tracing terhadap kontak erat pasien positif hanya satu banding delapan.

Artinya, terhadap satu pasien terkonfirmasi positif Covid-19, petugas hanya melakukan tracing terhadap orang lain yang pernah kontak erat kurang lebih hanya 8 sampai 9 orang.

“Padahal seharusnya sampai 20-30 orang lho. Itu normalnya. Supaya kita menjaring dan mengisolasi banyak kasus. Kalau tidak, yang di bawah permukaan besar banget itu,” kata dia.

Lagi-lagi Windhu harus mengakui, pelacakan atau tracing terhadap kontak erat pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Jawa Timur memang tidak mudah. Stigma di masyarakat penyebabnya.

“Masih ada stigma di masyarakat. Menolak mereka di-tracing. Artinya, komunikasi publik dari pemerintah itu harus terus menerus, lho. Supaya stigma itu hilang, mereka mau di-tracing,” ujarnya.

Kalau saja, kata Windhu, masyarakat Jatim sangat sadar pentingnya protokol kesehatan dalam aktivitas sehari-hari, kasus Covid-19 di Jatim akan terkendali. Tidak perlu PSBB.

Dia menilai, masih banyak masyarakat Jawa Timur yang abai dengan imbauan pemerintah dalam menerapkan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan).

Karena itu dia menegaskan, berapa pun fasilitas tempat tidur di rumah sakit ditambah oleh pemerintah, ibarat banjir bandang, yang ada di hilir akan tetap kebanjiran juga.

“Banjir bandang kan begitu. Di hilir Anda bikin bak penampungan seberapa banyak pun tetap akan terlampaui. Tetap banjir. Karena yang terpenting yang ada di hulu,” katanya.(den/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran di Tanjungsari

Kemacetan di Tol Waru arah Dupak

Gerhana Bulan Total di Waru

Surabaya
Kamis, 24 Juni 2021
26o
Kurs