Kamis, 30 Juni 2022

Gubernur Jatim Minta Rapid Test Disegerakan

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi pelaksanaan rapid test. Foto : Istimewa

Dari 18.400 alat rapid test atau tes cepat pendeteksi antibodi untuk mengetahui infeksi Covid-19 yang sudah didistribusikan Pemprov Jatim, baru 1.316 alat yang terpakai untuk tes.

Dari keseluruhan alat tes cepat itu, 9.580 disebar ke rumah sakit rujukan Covid-19, sebanyak 7.020 lainnya dibagikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota. Sisanya, 1.800 dibagikan ke Dinas Kesehatan Provinsi.

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur dalam keterangan pers yang diterima suarasurabaya.net, Selasa (31/3/2020), meminta supaya rapid test secara massal disegerakan.

“Bagi rumah sakit dan dinkes yang belum, kami imbau segera melakukan tes cepat sesuai prioritas. Mulai tenaga kesehatan, PDP, hasil tracing pasien positif, ODP, sampai OTG (orang tanpa gejala),” katanya.

Khofifah sempat menyampaikan dalam konferensi pers di Grahadi Senin (30/3/2020) petang. Dari 1.316 tes yang sudah dilakukan, sebanyak 28 orang di beberapa daerah hasilnya positif.

Namun, untuk menegakkan diagnosa, 28 orang dengan hasil positif rapid test itu harus menjalani swab yang spesimennya harus di tes dengan metode PCR (polymerase chain reaction).

“Rapid test ini fungsinya hanya untuk screening awal. Ini penting juga untuk tracing berikutnya dalam upaya mencegah penyebaran virus corona di Jatim,” ujar Khofifah.

Tes PCR untuk orang yang berstatus pasien dalam pemantauan (PDP), Khofifah menjamin biayanya akan ditanggung oleh pemerintah. Apakah hasilnya positif atau negatif, semua akan ditanggung.

“Untuk PDP, kalau positif hasil swab-nya, biaya PCR ditanggung oleh pemerintah pusat. Kalau negatif yang menanggung kami di Pemprov Jawa Timur,” kata Gubernur perempuan pertama Jatim itu.

Meski meminta tes cepat atau rapid test disegerakan, Khofifah tetap mewanti-wanti petugas Kabupaten/Kota yang mengoordinasi pelaksanaan mengaturnya agar agar tidak menimbulkan kerumunan.

Hal yang sama disampaikan dr Joni Wahyuhadi Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim. Dia tegaskan, yang terdeteksi positif rapid test belum tentu terkonfirmasi positif Covid-19.

Sebagai alat screening awal yang lebih pada mendeteksi antibodi, bila hasilnya positif bisa saja antibodi yang terdeteksi alat itu adalah antibodi yang terbentuk karena ada virus corona jenis lain di dalam tubuh.

“Rapid test bukan gold standart untuk deteksi covid-19. Tetapi cukup untuk screening awal. Sehingga belum pasti yang positif di rapid test menderita infeksi Covid-19. Konfirmasi presisi tetap dengan PCR,” katanya.(den/iss/rst)

Berita Terkait

Surabaya
Kamis, 30 Juni 2022
31o
Kurs