Jumat, 2 Oktober 2020
Hari Sepeda Sedunia

Hari Sepeda Sedunia, Komunitas GONTOR Ajak Pesepeda Patuhi Protokol Kesehatan

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Ilustrasi. Komunitas GONTOR saat berangkat kerja dari Depok ke Jakarta, Rabu (3/6/2020). Foto : Faiz suarasurabaya.net

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 3 Juni sebagai World Bicycle Day atau Hari Sepeda Sedunia.

PBB menyebut kalau sepeda adalah sarana transportasi berkelanjutan yang simpel, terjangkau, bisa diandalkan, bersih dan ramah lingkungan serta membuat tubuh sehat dan bugar.

Di tengah wabah Covid-19 ini, sepeda merupakan pilihan yang tepat untuk alat transportasi dalam melakukan kegiatan sehari-hari dibanding menggunakan transportasi umum.

Bagi mereka yang hobi bersepeda, dalam masa pandemi Covid-19 ini tinggal mengikuti protokol kesehatan, utamanya dalam memakai perlengkapan bersepeda.

Selain memakai masker, jaga jarak dan membawa hand sanitizer, masih ada protokol khusus lainnya seperti memakai kacamata, baju atau kaos lengan panjang, celana panjang, sepatu serta menggunakan sarung tangan.

Komunitas pesepeda GONTOR (GOwes Nuju kanTOR) yang berdiri sejak 2017 berusaha disiplin dalam melakukan protokol kesehatan saat bersepeda.

Saling menyapa ketika bertemu sesama goweser selalu menjadi tradisi. Foto : Faiz suarasurabaya.net

Adhi Prayogi Ketua GONTOR menjelaskan komunitasnya yang mempunyai anggota hampir 250 orang ini selalu saling mengingatkan untuk Gowes SMART istilah yang dibuat oleh dokter Aristi Prajwalita Madjid anggota GONTOR.

SMART yang dimaksud di sini adalah :

S: Solo Riding, Kalaupun mesti barengan, maksimal 3-5 orang dari unsur keluarga dekat, sekitar yang kita tau persis kondisi lingkungannya, namun gowes sendiri lebih disarankan

M : Masker adalah keharusan. Di waktu tertentu dibuka sebentar biar tidak kekurangan oksigen

A : Arm protection. Yang biasa pakai kaos lengan pendek, sebaiknya pakai lengan panjang dan jangan lupa sarung tangan

R: Route. Pilih yang sepi dan tidak harus banyak bertemu orang apalagi kerumunan

T :Timing. Pilih waktu yang tidak membuat kita harus bertemu banyak orang. Misalnya pagi antara jam 5-7.

“Sedapat mungkin kita mengikuti protokol Covid-19 yang di tetapkan oleh pemangku kebijakan, dan sebagai referensi kita mengikuti SMART-nya dokter Aristi yang beliau adalah pesepeda aktif juga,” ujar Yogi kepada suarasurabaya.net, Rabu (3/6/2020).

“Dan dalam WAG di antara kita juga saling mengingatkan untuk senantiasa menjalani protokol yang ada, karena sifat dasarnya manusia adalah pelupa, jadi kita saling mengingatkan,” imbuhnya.

Ketika ada pesepeda yang mengalami masalah dengan sepedanya, goweser sejati akan selalu menolong. Foto : Faiz suarasurabaya.net

Menurut Yogi, pada kesehariannya anggota GONTOR jarang bisa bersepeda bareng kekantornya, karena selain memang kantornya berbeda-beda, jam masuknya juga berbeda-beda, sehingga lebih sering bersepeda sendiri ke kantor masing-masing.

Kalaupun berbarengan di situasi wabah ini, maka sedapat mungkin mengikuti protokol Covid-19 yang ditetapkan oleh pemangku kebijakan.

Soal menghadapi jalanan jakarta yang macet dan polusi, kata Yogi, justru menjadi tantangan tersendiri, karena dengan bersepeda itulah mereka mengingatkan masyarakat kalau bersepeda itu mengatasi macet, polusi dan sehat.

“Buat kita yang memang dasarnya punya niat dan hobi bersepeda, rasanya macet, panas, polusi justru membuat kita semakin tertantang buat terus bersepeda ke kantor, karena secara otomatis itu merupakan sarana kampanye kita kepada pengguna jalan bahwa dengan bersepeda bisa mengatasi semua itu tadi, ya macet, polusi dan lain sebagainya. Mereka akan melihat meliuk liuknya kita di antara kendaraan yang macet, masih bisa menembus kemacetan itu dengan bersepeda, kalau polusi, semua penggunaan kendaraan apapun di jalanan Jakarta akan mempunyai risiko yang sama, kita bisa meminimalisir dengan menggunakan alat-alat keselamatan seperti helm, masker, kacamata dan pakaian serta alas kaki yang dapat melindungi kita dengan baik,” tegasnya.

Yogi menjelaskan, sejauh ini rutinitas GONTOR jelas menggunakan dan mengkampanyekan sepeda sebagai alat tranportasi alternative untuk menuju tempat beraktifitas, bukan hanya ke kantor, tapi juga ke sekolah, kampus, tempat ibadah atau manapun yang positif.

Untuk kegiatan sosial kata dia, karena memang moto pesepeda itu BAIKers itu bike (pesepeda itu baik), maka komunitas GONTOR sering mengadakan penggalangan dana untuk kegiatan-kegiatan sosial yang seringkali diadakan, baik secara individu maupun secara bersama.

“Program yang saat ini yang mau kita istiqomahkan yaitu sepeda untuk negeri, kita patungan spare part dan dana untuk merakit unit sepeda yang kemudian kita akan berikan kepada mereka yang kurang beruntung dalam kehidupan ekonomi namun mempunyai prestasi seperti penghafal Qur’an dan juara kelas,” ujar Yogi.

Untuk menjaga kekompakan dan mengelola GONTOR, kata Yogi, semua anggota selalu menyentuh dengan hati, tidak egois tapi berempati.

“Sentuhlah hatinya, maka kita akan mendapatkan hidupnya,” pungkas Yogi.

Sekadar diketahui, ratusan anggota GONTOR ini terdiri dari berbagai macam profesi seperti pegawai swasta, PNS, Guru, TNI, Polri, Pedagang dan Dokter.(faz/iss/ipg)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Hendra Lukas P. Hutagalung

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Jumat, 2 Oktober 2020
28o
Kurs