Kamis, 20 Januari 2022

Menristek: GeNose Sudah Bisa Diproduksi Massal

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
GeNose, alat skrining Covid-19, buatan Universitas Gadjah Mada. Foto: UGM

GeNose, alat skrining Covid-19, buatan Universitas Gadjah Mada, mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan dengan nomor AKD 20401022883 sehingga bisa diproduksi massal dan didistribusikan ke masyarakat.

“Jadi artinya mulai saat ini GeNose sudah bisa diproduksi massal dan didistribusikan atau dipakai untuk kepentingan masyarakat terutama dalam tentunya skrining Covid-19,” kata Bambang PS Brodjonegoro Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dalam konferensi pers virtual Perkembangan GeNose dan Rapid Test Antigen CePAD, Jakarta, Senin (28/12/2020).

Izin edar tersebut diperoleh pada 24 Desember 2020. Keberadaan alat itu penting untuk menjawab kebutuhan skrining Covid-19 dalam waktu cepat.

“Alat ini bisa dianggap sebagai alat yang akurat, cepat, aman dan terjangkau dengan teknologi dan desain lokal serta yang masih impor adalah komponen elektroniknya,” tutur Menristek Bambang.

GeNose memiliki sensitifitas 92 persen dan spesifitas 95 persen.

Kapasitas produksi pada Februari 2021 diharapkan lebih dari 5.000 unit.

Menristek Bambang menuturkan kelebihan GeNose adalah bersifat non invasif sehingga yang dibutuhkan hanya mengembuskan napas untuk mendeteksi Covid-19.

Hasil deteksi cepat diketahui tidak lebih dari lima menit.

Alat itu juga tidak memerlukan reagen dan bahan kimia lain.

Biaya tes dengan alat itu juga terjangkau dan hanya butuh NRM (non-rebreathing masker) dan hepa filter sekali pakai.

Alat tersebut memiliki realibilitas tinggi karena menggunakan sensor yang dapat dipakai hingga puluhan ribu pasien dalam jangka lama.

Data analisis GeNose telah terhubung ke sistem Cloud untuk diakses dalam jaringan (online).

Pada sistem kerja GeNose, nafas pasien diambil samplenya dengan meniup balon atau plastik. Sample napas tersebut dimasukkan ke “sensing unit” yang terdiri dari beberapa puluh sensor udara.

Sensor tersebut menggunakan pendekatan kecerdasan buatan yang akan mendeteksi partikel atau volatile organic compound (VOC) yang dikeluarkan spesifik pengidap Covid-19.

“Yang dideteksi di sini bukan virus penyebab Covid-19, tetapi yang dideteksi di sini adalah partikel atau senyawa yang memang secara spesifik akan berbeda kalau dia dikeluarkan oleh yang mengidap Covid-19,” ujarnya.(ant/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Senja Penutup Tahun

Truk Derek Ringsek Setelah Tabrak Truk Gandeng Parkir

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Surabaya
Kamis, 20 Januari 2022
28o
Kurs