Kamis, 26 Mei 2022

Pandemi Covid-19, Ibu Hamil & Bayi Wajib Asupan Gizi Seimbang dan ASI

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Webinar Geliat Airlangga membahas kesehatan bayi dan ibu hamil saat pandmei Covid-19. Foto: Humas Geliat Airlangga

Selama pandemi Covid-19, ibu hamil dan bayi harus tetap mendapat asupan gizi seimbang dan air susu ibu (ASI), guna meningkatkan imunitas tubuh juga sebagai upaya menekan angka kematian ibu hamil dan melahirkan, serta kematian bayi.

dr. Karina Widowati, M.P.H., Nutrition officer UNICEF, menyampaikan bahwa asupan gizi yang berimbang dan beragam diperlukan untuk menjaga metabolism daya tahan ibu sekaligus menjaga perkembangan optimalisasi bayinya.

“Dengan tambahan kalori tadi. Artinya, asupan makanannya ibu hamil dan menyusui ini bukan dari satu kali porsi lalu menjadi dua kali porsi, tetapi porsi makanan tersebut ditambahkan kudapan agak berat lain. Seperti kentang rebus, satu gelas susu dengan tiga keping biscuit,” terang Karina Widowati, pada Webinar Series Geliat Airlangga Seri 13: Gizi Ibu Hamil & Ibu Menyusui, Rabu (14/10/2020) di Surabaya.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Geliat Airlangga bekerjasama dengan S3 Kesehatan Masyarakat FKM Unair dan didukung UNICEF tersebut, Karina menekankan pada masa menyusui kebutuhan energi akan meningkat sebesar 500 kalori per hari dibanding kebutuhan biasanya. Sementara saat hamil kebutuhan energi meningkat sekitar 300 kalori per hari.

Selama ini keberagaman makanan yang dikonsumsi ibu hamil dan menyusui seringkali terbatas. “Mau pandemi atau tidak, itu harus dikerjakan. Mumpung pandemi itu harus dipenuhi agar imun lebih baik untuk menangkal. Selama ini kita abai terkait keberagaman makanan yang harus diasup tersebut, padahal itu harus dipenuhi agar pertumbuhan bayi bagus dan komplikasi bisa dihindari,” tegas Karina.

Hal yang sama diungkapkan Dr. drg. Nyoman Anita Damayanti, M.S., person in charge (PIC) Geliat Airlangga, bahwa pendekatan dan pendampingan langsung yang dilakukan Geliat Airlangga kepada ibu hamil, melahirkan dan menyusui selama ini, terbukti mampu menekan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan serta kematian bayi.

“Ini bagian dari menjaga 1.000 hari pertama kehidupan. Ketika kita menjaga ibu hamil dengan baik, sampai bayinya lahir dengan baik, maka itu akan sama artinya kita bisa menyelamatkan keduanya,” tutur Anita Damayanti.

Geliat Airlangga menurut Anita Damayanti, selama ini juga menyediakan dan memberikan edukasi yang tepat tentang kesehatan kehamilan, edukasi tentang nutrisi, termasuk penguatan mental, psikologis ibu hamil. Termasuk memudahkan akses, baik akses informasi maupun akses ke fasilitas kesehatan. Dari hasil survei, diperoleh informasi bahwa yang berpengaruh besar terhadap pemberian ASI eksklusuf menurut Anita Damayanti adalah suami.

Sehingga penyuluhan tidak cukup hanya diberikan kepada para ibu hamil dan ibu menyusui saja, melainkan juga harus diberikan kepada keluarga si ibu hamil tersebut. “Kami di Geliat Airlangga ini berkontribusi untuk merangkai puzzle. Puzzlenya itu apa, yaitu membuat si ibu hamil dan si bayi menjadi sehat,” ujar Anita.

Angka kematian ibu (kematian yang terkait kehamilan) pada tahun 2015 lalu di Jawa Timur, lanjut Anita bahkan melampaui angka 500 kasus kematian. Sedangkan angka kematian bayi bahkan menyentuh angka 5.700 kasus. “Meskipun saat ini angkanya terus menurun namun tetap masih tinggi,” kata Anita.

Selain kebutuhan asupan makanan yang beragam dan bergizi, menurut pakar kesehatan anak Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya, Dr. dr. Alpha Fardah A, SP.A(K), pemberian ASI kepada bayi di masa pandemi juga penting dan tetap harus terus dilakukan.

“ASI adalah asupan paling murah, bergizi, dan paling mudah yang bisa diberikan kepada bayi hingga usia 6 bulan, dibandingkan dengan memberi asupan susu formula. Di ASI ada serat yang nantinya akan menjadi probiotik dan prebiotik yang berfungsi sebagai pembentuk kekebalan dalam tubuh,” tegas Alpha Fardah.

Di masa pandemi seperti saat ini, proses menyusui harus jalan terus. “Proses menyusui harus tetap diberikan di masa pandemi covid, meski ibu dalam kondisi sakit. Tentunya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Menggunakan masker, face shield, cuci tangan pakai sabun. Jika tidak bisa menyusui secara langsung bisa dengan cara diperah,” jelas Alpha Fardah.

“Di dalam ASI tidak ditemukan SARS Cov-2. Penelitian masih terus berlanjut dan tidak perlu khawatir, karena global recommend masih menyebutkan ASI tetap harus diberikan,” tambah Alpha.

Dari sisi psikologis, situasi pandemi ini memang harus diperhatikan bagi ibu hamil. Pasalnya menurut Dosen Fakultas Psikologi Unair, Endang Retno Surjaningrum, S.Psi., M.APPPSYCH., PH.d, pandemi Covid-19 ini dapat menyebabkan kondisi tekanan psikologis yang berlebihan.

“Situasi ini menambah tinggi resiko kesehatan mental di masa kehamilan. Ini kerap tidak menjadi perhatian dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Pergantian suasana perasaan dan emosi, bagi beberapa masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang biasa atau bawaan bayi. Tidak semua ibu -ibu mampu mengenali bahwa itu sebenarnya adalah perubahan kondisi psikologis,” papar Retno Surjaningrum.

Ditambahkan Retno kejadian depresi yang tinggi umumnya pada usia kehamilan di trimester ketiga. Depresi juga terjadi setelah kelahiran (3-6 hari selama 14 hari pertama) yang kerap disebut dengan baby blues.

“Sekitar 50-80% ibu-ibu kehamilan ini menunjukkan suasana baby blues. Ini yang harus diperhatikan,” pungkas Retno. Kondisi kesehatan mental secara umum, tambah Retno akan berpengaruh kepada kesehatan fisik ibu sendiri. Secara langsung atau tidak langsung juga akan berpengaruh kepada kesehatan janin saat kehamilan dan suah melahirkan. (tok/dfn)

Berita Terkait

Aktivitas Fisik Tepat Untuk Ibu Hamil


Surabaya
Kamis, 26 Mei 2022
26o
Kurs