Selasa, 27 Oktober 2020

Pekerja Seni Minta Wali Kota Terbitkan SE Izin Hiburan Resepsi Pernikahan

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Aliansi Pekerja Seni Surabaya menggelar aksi damai pada Rabu (5/8/2020) pagi, di Balai Kota Surabaya. Mereka mewakili Wedding Organizer, MC, kelompok seni tradisional, persewaan sound system, terop, panggung, pedagang bazar keliling dan sebagainya, menuntut diberikan izin mengadakan hajatan. Foto : Anton suarasurabaya.net

Aliansi Pekerja Seni Surabaya menggelar unjuk rasa di Balai Kota Surabaya. Mereka membawa perangkat sound system dan alat berkesenian diparkir memenuhi sepanjang Jalan Sedap Malam.

Mereka meminta agar Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya memberikan solusi dan izin untuk mereka kembali tampil berkesenian mengisi hajatan baik pernikahan maupun pesta rakyat.

Java Angkasa Ketua Aliansi Pekerja Seni Surabaya (APSS) mengatakan, keinginan bertemu dengan wali kota Risma untuk meminta agar diizinkan bisa kembali mengisi pesta hajatan. Pertimbangan utama mereka adalah roda ekonomi. Sebab sejak 23 Maret lalu mereka sudah menganggur.

Sekarang ini perwakilan massa diterima oleh Pemkot Surabaya untuk audiensi di dapur umum di Taman Surya.

“Kami kebingungan. Kami sudah mengadu ke Gubernuran, ke DPRD Surabaya, tapi tidak ada kejelasan. Kami sekarang mengadu ke Wali Kota tercinta kami,” kata Java di depan perwakilan Pemkot Surabaya.

Dalam audiensi itu, mereka mendesak Pemkot Surabaya mensosialisasikan hingga ke RT terkait izin penyelenggaraan hajatan indoor maupun outdoor. Mereka meminta Wali Kota menerbitkan SE izin penyelenggaraan hajatan sesuai protokol kesehatan. “Kami ingin segera diberi kejelasan nasib kami,” katanya.

Subekti perwakilan pedagang bazar keliling di hajatan mengaku sangat berat pukulan Covid-19 ini. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi dan sekolah anak-anak mereka.

“Anak-anak kami butuh kuota dan HP untuk sekolah online. Masak harus dijual untuk beli beras. Kalau berlanjut anak kami tidak bisa sekolah lagi. Kami juga ingin sehat, ingin Surabaya bersih, tapi kami juga ingin bisa bekerja,” katanya.

Subekti mengaku sudah keliling minta solusi ke Pemerintah Provinsi tapi belum juga ada solusi. Dia akan terus berjuang untuk anak-anak dan keluarganya.

“Kami sudah keliling ke Gubernuran, DPRD dan sebagainya. Kami ini jihad untuk anak anak kami. Dari pada kami mati kelaparan, lebih kami memilih mati berjuang,” katanya.

Salah satu peserta aksi dari kelompok perias manten membawa poster protes mereka dan berkeliling di sekitaran Taman Surya, Surabaya. Foto: Anton suarasurabaya.net

Sementara itu, Irvan Widyanto Kepala BPB Linmas Surabaya dalam audiensi dengan mereka mengatakan, Pemkot masih terus menggodok tata aturan hiburan di resepsi pernikahan.

“Kita akan secara maraton menggodok ini. Semoga tidak terlalu lama bisa menjawab solusi,” katanya.

Irvan bilang, tren Covid-19 di Surabaya mulai menurun. Saat ini tugas tanggungjawab bukan hanya di Pemkot Surabaya tapi juga seluruh warga Surabaya.

“Sekarang ini juga kami menggodok tata aturan yang terinci biar bisa menyelamatkan kita semua. Kita tidak ingin kondisi Surabaya memburuk lagi. Ibu Wali Kota tidak ingin rakyatnya kelaparan tapi juga tidak ingin rakyat kena virus. Kami akan atur secara rinci, pesta pernikahan indoor maupun outdoor,” katanya.

Sekadar diketahui, Aliansi Pekerja Seni Surabaya ini mewakili para Wedding Organizer, MC, kelompok seni tradisional, persewaan sound system, terop, panggung, pedagang bazar keliling dan sebagainya. (bid/iss/ipg)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Bundaran Margomulyo

Macet di Tol Waru arah Satelit

Kecelakaan Truk di Tol Ngawi-Solo

Surabaya
Selasa, 27 Oktober 2020
28o
Kurs