Minggu, 29 November 2020

Pengamat Pendidikan Sarankan Sekolah Mulai Siapkan Protokol Kesehatan

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi. Siswa sekolah menjalani pemeriksaan suhu tubuh sebelum memasuki lingkungan sekolah di SMP Al-Bayan Islamic School di Jakarta Barat, Rabu (11/3/2020). Foto: Antara

Prof Anita Lie Pengamat Pendidikan Jatim menyarankan pihak sekolah mulai menyiapkan protokol kesehatan mulai saat ini, jika sudah memasuki masa pembukaan sekolah sejak wabah pandemi Covid-19.

Menurutnya, Indonesia memiliki keuntungan karena bukan menjadi negara pertama yang menghadapi Covid-19. Sehingga kita dapat mencontoh beragam jenis protokol kesehatan yang diterapkan berbagai negara saat para siswa sudah kembali ke sekolah.

“Saya kira meski sekolah belum mulai, tapi harus bersiap-siap dengan protokol kesehatan, sudah harus dikomunikasikan. Kita bukan negara pertama, kita punya contoh dari negara-negara lain,” kata Anita kepada Radio Suara Surabaya, Jumat (29/5/2020).

Dalam protokol kesehatan tersebut, peraturan seperti cuci tangan, jaga jarak dan memakai masker harus diterapkan secara disiplin. Namun jika masih banyak sekolah belum siap melaksanakan protokol-protokol tersebut, sebaiknya sekolah harus mengulur waktu masuk sekolah para siswa.

“Sekolah yang sudah siap melaksanakan protokol kesehatan, titik imbangnya mulai Juli ini (bisa masuk sekolah) dengan berbagai risikonya, atau ditunda sampai Januari 2021 seperti yang diminta Darmaningtyas (pengamat pendidikan),” ujarnya.

Jika sekolah belum siap dan pembelajaran daring harus diperpanjang, maka Anita menyarankan agar petunjuk teknis dalam pola mengajar daring harus dibedakan berdasarkan kemampuan setiap sekolah atau setiap daerah yang memiliki perbedaan dalam segi akses digital.

Menurutnya, petunjuk teknis pembelajaran daring memiliki beberapa level mulai yang paling sederhana melalui Whatsapp, hingga dengan metode canggih melalui Learning Management System (LMS).

“Permasalahan kita itu adalah keberagaman di Indonesia dan kesenjangan digital. Saya kita petunjuk teknis itu tidak perlu dibuat sama di setiap sekolah karena tingkat kesiapan sekolah berbeda, tapi protokol (kesehatan) itu harus ada,” ujarnya.

Anita juga menyarankan sekolah dapat menggunakan metode pembelajaran campuran (blended learning), dengan menerapkan rotasi masuk atau para siswa masuk bergantian. Sistem ini hampir sama seperti yang telah diterapkan oleh perusahaan dengan mengatur shift karyawan.

“Masuknya rotasi, bergantian. Karena sekolah kan biasanya penuh, sulit untuk physical distancing. Kalau membangun ruang lagi kan tidak mungkin, jadi bisa disiasati dengan rotasi. Jadi tidak semua masuk dalam waktu bersamaan,” imbuhnya.

Meski bergantian, bukan berarti yang tidak masuk sekolah tidak belajar. Anita melanjutkan, siswa yang tidak memiliki jadwal masuk sekolah dapat melanjutkan dengan pembelajaran daring.

Menurutnya, blended learning tidak menjadi masalah asalkan prinsip-prinsip dasar pengajaran tidak berubah.

“Cara-cara lama yang sudah kita tinggalkan selama masa pembatasan itu, jangan lagi kembali kesitu kalau sudah bisa kita ubah tanpa mengubah esensinya,” kata Anita.

Menanggapi hal ini, Sutamah (56) pendengar sekaligus guru di salah satu SMK di Surabaya mengatakan, pihak sekolah masih menunggu mekanisme protokol kesehatan yang akan diterapkan. Begitu juga Frida (53) pendengar yang juga guru itu mengungkapkan, penting bagi guru untuk melakukan tatap muka langsung dengan siswa dalam pengajaran. Tinggal bagaimana sekolah menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.

“New Normal ini kan belum dijalankan. Kita sebagai guru juga belum tahu mekanismenya bagaimana, apa yang akan dilakukan juga belum dipikirkan karena berkaitan dengan tempat,” ujar Sutamah.

“Soal kekhawatiran orang tua itu wajar, tapi saya kira tergantung persiapan sebelum masuk sekolah. Protokol kesehatan kalau dijalankan ya bisa,” kata Frida.

Namun, rupanya pembukaan sekolah masih memunculkan kekhawatiran sendiri bagi para orang tua. Salah satunya adalah Basuki Rahmat (56) pendengar Radio SS. Dengan dibukanya sekolah, ia masih belum yakin apakah penularan Covid-19 dapat dicegah meski sudah diterapkannya protokol kesehatan.

“Saya setuju kalau dilakukan (pembelajaran) jarak jauh dulu. Kita fokus untuk menyelamatkan nyawa di tengah pandemi Covid-19 sesuai tujuannya. Anak bisa masuk sekolah saat pandemi sudah betul-betul aman. Dan saya belum yakin apakah sekolah itu disiplin atau anaknya yang bisa disiplin atau tidak,” kata Basuki.(tin/rst)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Kemacetan di Perak Barat

Kecelakaan di Simpang Empat Mertex Mojokerto

Surabaya
Minggu, 29 November 2020
25o
Kurs