Minggu, 5 Juli 2020

Dr Joni: Jika Tidak Ditangani Sistematis, Surabaya Bisa Jadi Wuhan

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
dr. Joni Wahyuhadi Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur. Foto: Dok suarasurabaya.net

Dokter Joni Wahyudi Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur membeberkan bahwa tingkat penularan virus SARS CoV-2 di Surabaya masih belum reda.

Menurutnya, secara epidemiologi, rate of transmission (tingkat penularan) di Surabaya masih di angka 1,6. Artinya, kalau ada 10 orang terinfeksi Covid-19, dalam satu pekan bisa menjadi 16 orang.

“Ini luar biasa, luar biasa penularannya di Surabaya,” ujar Joni usai menerima bantuan Mobil PCR dari Gugus Tugas Nasional di RS Lapangan, Rabu (27/5/2020).

Joni mengandaikan, kalau tidak ditangani secara sistematis, Surabaya bisa menjadi seperti Wuhan. Karena data grafik yang dia punya menyebutkan, 65 persen masalah Covid-19 di Jawa Timur ada di Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik).

“Ini tidak main-main kalau kita tidak hati-hati maka Surabaya bisa jadi Wuhan,” kata Joni.

Sebab itu, kebijakan yang diterapkan Gubernur Jatim, kata Joni, bahwa langkah ‘tiga T’ harus digalakkan. Yakni test, tracking, dan treatment (pengujian, pelacakan, dan penanganan).

“Untuk tes, telah dibantu Gugus Tugas Nasional dengan dua mobil PCR. Kita sebar di rumah sakit untuk tes PCR langsung hari ini ditargetkan 500-an, besok lebih banyak lagi. Karena ada 2 mobil, hari ini RSUA, RS Haji, dan RS darurat di samping lab yang sudah digunakan,” katanya.

Kata Joni, tes PCR skala besar ini akan dilakukan sekaligus untuk memilah pasien berat dan ringan. Misalnya pasien berat langsung diisolasi di RSUD dr Soetomo, kalau ringan-sedang ditempatkan di RS Darurat.

“Hari ini operasional untuk sementara 48 bed di RS Darurat, besok ditambah 50 bed. Di belakang 200-500 bed, tujuannya untuk pasien ringan dan sedang. Sehingga di RS Soetomo dan RSUA hanya merawat pasien sedang sampai berat karena butuh penanganan yang spesialis. Kita tahu kematian sekarang 10 persen,” katanya.

Joni mengatakan, kebutuhan ventilator untuk pasien berat mengandalkan bantuan dari donatur yang dibagikan ke sejumlah RS Rujukan. Namun, karena bantuan ini banyak ventilator jenis baru, maka pemakaiannya juga harus hati-hati, karena bisa berakibat fatal pada pasien. Maka dari itu, pihaknya mengkoordinasikan dulu ke RS sebelum diserahkan, apakah bisa menggunakan atau tidak.

“Kalau tidak bisa, kami datangkan ahlinya. Ventilator itu harus hati-hati, data kita menunjukkan di RSUD dr Soetomo 69,2 persen yang masuk ventilator itu meninggal, di Jakarta kira-kira 70 persen, di Wuhan 80 persen,” katanya.

Joni mengatakan, menyikapi hal ini di RSUD dr Soetomo tengah melakukan clinical research penggunaan obat-obat tertentu contohnya Avigan atau Plasma Convalescent.

“Bapak Menkes sudah memerintahkan ke saya dan obat-obat tertentu seperti pemakaian Aspirin. Semuanya kami coba dengan kaidah ilmiah tentunya,” katanya.

Joni juga mengatakan, pembuatan vaksin yang dilakukan tim RSUD dr Soetomo bekerja sama dengan Unair dan Manchester juga terus didorong.

“Kita berupaya membuat vaksin tadi pagi sudah saya tanda tangani suratnya, ya kita harapkan akhir tahun bisa animal study sehingga bisa mengakhiri pandemi ini karena kalau tidak ada obat dan vaksin tidak akan berhenti, melandai bisa tapi tidak akan terhenti untuk itu untuk kepentingan surveilans pasca peak pandemi kita terus melakukan surveilans agar tidak terjadi second wave,” katanya. (bid/den/rst)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Mobil Tabrak Pohon

Jangan Sembarangan Main Layang-Layang, Guys

Truk Mogok di Simpang 3 Boboh

Kecelakaan Truk di Tol

Surabaya
Minggu, 5 Juli 2020
31o
Kurs