Kamis, 26 Mei 2022

Presiden: Jangan Sampai Terjadi Gelombang Kedua Covid-19 di Indonesia

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Joko Widodo Presiden mengunjungi Markas Gugus Tugas Covid-19, di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (10/6/2020). Foto: Biro Pers Setpres

Joko Widodo Presiden mengingatkan tugas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 belum selesai, walaupun ada daerah yang kasus barunya turun, bahkan ada yang sudah nihil.

Menurut Jokowi, kondisi sekarang belum sepenuhnya aman karena belum ada vaksin khusus untuk Covid-19.

Presiden tidak mau pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memicu lonjakan kasus baru atau istilahnya gelombang kedua (second wave).

Maka dari itu, pembukaan kembali sejumlah sektor menuju fase masyarakat produktif dan aman dari Covid-19 harus melalui tahapan yang ketat dan hati-hati.

Pernyataan itu disampaikan Presiden, siang hari ini, Rabu (10/6/2020), di Markas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur.

“Tugas besar kita belum berakhir, ancaman Covid-19 masih ada, kondisi masih dinamis. Ada daerah yang kasus barunya turun, tapi juga ada daerah yang kasus barunya meningkat, ada daerah yang juga sudah nihil. Perlu saya ingatkan, jangan sampai terjadi gelombang kedua, the second wave. Jangan sampai terjadi lonjakan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Presiden menyampaikan lima arahan terkait adaptasi kebiasaan baru supaya masyarakat tetap produktif dan aman dari penularan Covid-19.

Pertama, pentingnya prakondisi yang ketat. Sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara masif terutama mengenai sejumlah protokol kesehatan yang harus diikuti seperti menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan atau keramaian, hingga menjaga imunitas tubuh.

“Saya kira ini terus disampaikan kepada masyarakat, diikuti dengan simulasi-simulasi yang baik, sehingga saat kita masuk ke dalam tatanan normal baru, kedisiplinan warga itu sudah betul-betul siap dan ada. Inilah prakondisi yang kita siapkan sehingga disiplin memakai masker, jaga jarak aman, sering cuci tangan, hindari kerumunan, tingkatkan imunitas saya kira perlu terus disampaikan kepada masyarakat,” paparnya.

Jokowi menambahkan, sudah memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk menghadirkan aparat di titik-titik keramaian di daerah untuk mengingatkan warga agar disiplin dan mematuhi protokol kesehatan.

Kedua, Presiden mengingatkan pentingnya perhitungan yang cermat dalam mengambil kebijakan yang harus didasarkan data dan fakta di lapangan.

Terkait hal itu, Presiden meminta tiap kepala daerah yang ingin memutuskan daerahnya masuk ke fase adaptasi kebiasaan baru agar berkoordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19.

“Datanya seperti apa, pergerakannya seperti apa, faktanya seperti apa, karena saya lihat di sini datanya ada semua. Jadi lihat perkembangan data epidemiologi terutama angka R0 dan Rt. Perhatikan juga tingkat kepatuhan dan masyarakat. Pastikan manajemen di daerah siap atau tidak melaksanakan. Kemudian, hitung kesiapan setiap daerah untuk pengujian yang masif, pelacakan yang agresif, kesiapan fasilitas kesehatan yang ada. Ini benar-benar semuanya harus kita hitung dan pastikan,” jelasnya.

Ketiga, Presiden juga mengingatkan soal penentuan prioritas yang harus disiapkan secara matang mengenai sektor dan aktivitas mana saja yang bisa dimulai dan dibuka secara bertahap.

Sebagai contoh, pembukaan tempat ibadah secara bertahap dengan terlebih dahulu menyiapkan dan menerapkan protokol kesehatan di tempat ibadah dinilai Presiden sudah sangat baik.

“Sektor ekonomi, sektor dengan penularan Covid yang rendah tapi memiliki dampak ekonomi yang tinggi itu didahulukan dan terutama ini sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, industri manufaktur, sektor konstruksi, logistik, transportasi barang, sektor pertambangan, perminyakan, saya kira ini sudah disampaikan oleh Ketua Gugus Tugas agar hal ini menjadi catatan kita semua,” ungkapnya.

Keempat, Kepala Negara minta konsolidasi dan koordinasi antara pemerintah pusat dengan daerah, mulai dari provinsi hingga tingkat RT, terus diperkuat. Dia juga berharap ada penguatan koordinasi di internal Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda).

“Lebih penting lagi libatkan semua elemen masyarakat sehingga kita semuanya bergotong royong, bersinergi, bekerja menyelesaikan persoalan besar ini,” imbuhnya.

Kelima, Presiden meminta agar dilakukan evaluasi secara rutin. Meski pun sebuah daerah kasus barunya sudah menurun, Presiden mengingatkan agar jajarannya tidak lengah terutama karena kondisi di lapangan masih sangat dinamis. Menurutnya, keberhasilan pengendalian Covid-19 sangat tergantung kedisiplinan dan protokol kesehatan.

“Perlu saya ingatkan jika dalam perkembangan ditemukan kenaikan kasus baru, maka langsung akan kita lakukan pengetatan atau penutupan kembali. Kita harus optimistis tantangan ini bisa kita kendalikan dengan baik, dengan harapan kita bisa menyelesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga kita bisa beraktivitas kembali,” tandasnya.(rid/tin/rst)

Berita Terkait

Surabaya
Kamis, 26 Mei 2022
26o
Kurs