Selasa, 11 Agustus 2020

Seniman Sabrot D. Malioboro Berpulang

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Cak Sabrot atau Sabrot D. Malioboro (baju putih) saat berdialog dalam sebuah diskusi seni bersama Omar Ishananto tahun 2019. Foto: Totok suarasurabaya.net

Sabrot D. Malioboro atau dikenal Cak Sabrot adalah gambaran sosok arek Suroboyo asli. Sikapnya yang tidak membedakan usia dan status sosial adalah bukti sikap egaliternya.

Gaya omong dan bicaranya yang lugas, terbuka dan suka Ludrukan atau guyonan juga bagian tak terpisahkan dari Sabrot D. Malioboro. Meski demikian, Sabrot juga dikenal tegas, berani dan punya solidaritas tinggi.

Arek Suroboyo iku kudu wani, kudu ndablek tapi kudu tetep pinter rek. (Arek Suroboyo itu harus berani, harus ndablek, tapi harus tetap cerdas)” ujar Luhur Kayungga Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menirukan ucapan Cak Sabrot.

Sabrot Dodong Malioboro tokoh kesenian Kota Surabaya meninggal dunia di usia 75 tahun, Sabtu (4/7/2020). Dia meninggal setelah sekitar seminggu di rawat di Rumah Sakit Darmo lalu dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Laut dr Ramelan Surabaya.

Nama Sabrot sendiri sebenarnya akronim. Nama asli seniman kelahiran 14 Agustus 1945 di kawasan Pengampon itu adalah Sanusi Broto. Cak Sabrot menjadi sapaan akrab orang-orang di dekatnya.

Sabrot lebih banyak menghabiskan waktu dalam aktivitas berkeseniannya bersama para seniman yang bernaung di bawah Bengkel Muda Surabaya (BMS) yang memang bermarkas di kompleks Balai Pemuda Surabaya, bersama dengan Dewan Kesenian Surabaya.

Sebagai penulis puisi, satu di antara karya Sabrot yang jadi pembicaraan banyak pihak di tahun 80an adalah Wartini Ledek Pasar Turi. Dia mengangkat Ledek, seniman tradisi, yang keberadaannya dikalahkan kemajuan dan perkembangan zaman.

Tidak hanya dikenal sebagai seniman, Sabrot dengan segala keberanian dan kelugasannya menghadapi persoalan sosial pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kota Surabaya di era orde baru dari PDI.

“Beliau juga pernah menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Surabaya (DKS) pada 2009 sampai 2014. Ketika itu beliau terpilih dari musyawarah yang dilakukan para seniman di Kota Surabaya,” kata Luhur Kayungga, Sabtu (4/7/2020).

Nonot Sukrasmono seniman muda yang dikenal dekat dengan Sabrot menyampaikan Cak Sabrot orangnya bersahaja. Tidak membeda-bedakan antara yang muda, yang masih belajar atau yang sesama seniman senior.

“Bersahaja sekali Cak Sabrot itu. Orangnya energik, selalu terbuka jika diajak diskusi, apalagi soal seni budaya. Beliau juga mau berbagi pengalaman, seperti strategi pengembangan organisasi, budaya, beliau tidak pelit ilmu. Enak diajak berdiskusi apa saja,” kata Nonot yang juga pelukis ini.

Tapi jangan salah, Nonot bilang, meskipun Cak Sabrot menyenangkan diajak diskusi akan berubah sangat keras dan tidak mau kompromi jika obrolan atau diskusi itu kemudian menyangkut soal idealisme.

“Nada suaranya akan berubah meninggi dan menolak kompromi jika diskusi atau obrolan kemudian menyangkut idealisme. Itulah Sabrot D. Malioboro. Berdiskusi dengan beliau siap-siap saja berselisih atau beda pendapat. Tapi ya sudah, selesai diskusi ya wis mari,” kenang Nonot.

Sabrot Dodong Malioboro juga dikenal sebagai aktivis dari organisasi Poetra Soerabaya (Pusura) yang berdiri sejak tahun 1936, yang dipelopori tokoh nasional Republik Indonesia seperti Roeslan Abdul Ghani, Doel Arnowo, Dr. Sutomo hingga KH Mas Mansyur. Selamat jalan Cak Sabrot. (tok/den)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Hendra Lukas P. Hutagalung

Potret NetterSelengkapnya

Pelangi Sore Hari di Surabaya

Kangen Tanggapan

Unjuk Rasa Aliansi Pekerja Seni Surabaya

Truk Patah As di Gedangan

Surabaya
Selasa, 11 Agustus 2020
27o
Kurs