Sabtu, 28 November 2020

Siap New Normal, Edu Agrowisata Ubaya Trawas di re Design

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Sejumlah ternak juga jadi bagian Edu Agrowisata Ubaya Trawas. Foto: Humas Ubaya

Memasuki tahun ke III Hibah PPUPIK (Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus) dari Kementerian Riset/Badan Riset dan Inovasi Nasional, tim Universitas Surabaya (Ubaya) yang memperoleh hibah melakukan terobosan dengan redesign program Edu-eco Agrowisata de-Farm IOC Trawas Ubaya. Redesign program wisata diarahkan untuk menghidupkan kembali aktifitas di Edu-eco Agrowisata IOC Ubaya Trawas yang terhenti karena Pandemi Covid-19 untuk merespon kebiasaan baru (new normal).

Hibah PPUPIK multi years ini dimulai sejak tahun 2008-2020. Dengan diketuai oleh Prof. Joniarto Parung, yang beranggotakan dua dosen yaitu Gunawan Ph.D, dan Ida Bagus Made Artadana M.Sc serta melibatkan enam mahasiswa Ubaya. Tahun terakhir ini Joniarto Parung dan tim memfokuskan pada pemanfaatan lahan untuk sayur organik dan persiapan menerima kedatangan pengunjung pembelajar mandiri di lokasi wisata de-Farm IOC Trawas Ubaya.

De-Farm IOC Trawas Ubaya merupakan lokasi pelatihan karakter, konservasi alam dan pertanian/peternakan yang ramai dikunjungi oleh siswa, mahasiswa, karyawan perusahaan dan keluarga yang ingin mengajak anggota keluarganya belajar bersama di alam. Namun sejak pertengahan Maret 2020 sampai akhir Juni 2020 kehilangan pengunjung. Memasuki era adaptasi kebiasaan baru, perlu melakukan adaptasi agar dapat kembali menerima pengunjung dan/atau mendapatkan penghasilan dari kegiatan di Edu-eco Agrowisata tanpa mengabaikan protokol kesehatan.

“Dulu sebelum pandemi COVID-19, kedatangan pengunjung ke lokasi Edu-eco Agrowisata mayoritas dalam kelompok atau rombongan dengan didampingi dosen/staf sebagai trainer atau quide. Sekarang, direncanakan hanya untuk kunjungan perorangan atau keluarga. Itupun tanpa pelatih pendamping dan hanya untuk berwisata menikmati pemandangan sambil belajar. Pengunjung belajar mandiri melalui papan informasi,” ungkap Prof. Joni.

Tahapan redesign yang dilakukan tim Ubaya dengan memanfaatkan dana hibah dilakukan dalam 4 tahap. Pertama discover, dengan mencari alternatif model penawaran paket secara tepat yang memugkinkan pengunjung tidak saling berinteraksi mengingat pemberlakukan protokol kesehatan. Kedua define, menganalisis setiap alternatif secara detail dengan mengkaitkan kondisi nyata yang dimiliki oleh de-Farm IOC Trawas Ubaya. Dengan memanfaatkan lahan yang belum termanfaatkan secara optimal untuk ditanami sayuran organik serta membuka lokasi edu-eco agrowisata untuk kunjungan perorangan atau keluarga tanpa pelatihan, merupakan dua alternatif yang paling memungkinkan untuk dijalankan.

Tahap ketiga develop¸ menciptakan pengembangan program hingga melakukan simulasi dan evaluasi seperti pada tanaman sayur organik. Pada tahap ini pula dikembangkan sistem penyampaian informasi yang efektif kepada calon pengunjung, yang diawali dengan penetapan target pasar utama. Pada tahap ini pula disiapkan fasilitas yang dapat mendukung kebahagiaan pengunjung diantaranya penyediaan tempat foto selfie. Keempat deliver, membuat time schedule untuk mengeksekusi kedua alternatif yang feasible.

Harapan dari upaya redesign Edu-eco Agrowisata de-Farm IOC Trawas Ubaya melalui dana hibah PPUPIK tahun ke III ini, pada akhir September 2020 dibuka kembali untuk kunjungan perorangan atau keluarga. Mengingat secara natural, redesign sudah menyatu dengan alam sehingga mudah beradaptasi dengan kebiasaan baru pandemi COVID-19 seperti penyiapan program yang memberi keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung langsung ke destinasi di alam terbuka.(tok/lim)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Kemacetan di Perak Barat

Kecelakaan di Simpang Empat Mertex Mojokerto

Surabaya
Sabtu, 28 November 2020
29o
Kurs