Rabu, 21 Oktober 2020

Stunting, Generasi Milenial Diminta Sadar Gizi

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Ilustrasi. Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita untuk mencegah kegagalan tumbuh kembang anak (stunting) saat kegiatan Posyandu balita. Foto: Antara

Tren balita stunting di Jawa Timur berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) yang diadakan 5 tahun sekali menunjukkan, terjadi penurunan prosentase kasus di provinsi ini.

Berdasarkan data Riskesdas terbaru tahun 2018, capaian balita stunting di Jatim turun menjadi 32,5 persen dari angka 35,8 persen dari lima tahun sebelumnya.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tentang capaian balita stunting di Jatim.

Jumlah peringkat prosentase kasus balita stunting di tiap daerah juga mengalami pergeseran. Tahun 2013 lalu, tiga besar kasus stunting terletak di Bondowoso, Sumenep dan Probolinggo. Lanjutnya, pada tahun 2018, data itu bergeser menjadi Sampang, Pamekasan, dan Bangkalan.

Kota Surabaya yang sebelumnya tahun 2013 berada di posisi terendah, kini berada di posisi 10 dari bawah pada riset yang diadakan 2018 lalu.

Herlin Ferliana Kepala Dinas Provinsi Jatim mengatakan, tahun ini mereka mengambil fokus hari gizi pada peran penting anak muda dalam mencegah stunting.

“Hal yang sangat penting, generasi milenial saat ini merupakan kelompok umur produktif, dan merupakan calon ibu atau ibu muda. Jadi mereka adalah komunitas yang memberikan peran besar untuk kualitas generasi Indonesia ke depan,” ujar Herlin pada suarasurabaya.net.

Karenanya, Dinkes Jatim akan gencar melakukan penyuluhan agar anak muda memiliki pemahaman yang bagus dan benar terkait kebutuhan asupan gizi yang optimal dan melakukannya. Hal ini penting, untuk memastikan semua balita Jatim di masa depan tidak mengalami masalah stunting. (bas/tin/rst)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Truk di Tol Ngawi-Solo

Kecelakaan Mobil di Raya Darmo

Mendung Sore Ini

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Surabaya
Rabu, 21 Oktober 2020
30o
Kurs