Selasa, 7 Desember 2021

Tur Virtual SHT, Wujudkan Impian Wisata Tanpa Meninggalkan Rumah

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Tur guide wisata virtual memandu peserta tur virtual secara daring. Foto: Surabaya Heritage Track

Menghadirkan konsep Museum Luar Ruang, Tur Virtual Surabaya Heritage Track (SHT), Jumat (8/5/2020) menghadirkan perjalanan tur secara daring tentang cerita Kota Surabaya.

Tur Virtual Surabaya Heritage Track (SHT), Jumat (8/5/2020) yang menghadirkan konsep tema Museum Luar Ruang, tur ini mengajak trackers berjalan-jalan secara virtual, secara daring melihat sejarah Kota Surabaya, melalui peninggalan bangunan-bangunan dan gedung-gedung bersejarah.

Tidak hanya itu, peserta tur virtual juga menyambangi bangunan-bangunan cagar budaya serta kawasan bersejarah lainnya di Surabaya, sebagain bukti semangat pergerakan Arek-arek Suroboyo yang multikulural, serta identitas Surabaya sebagai kota, perdagangan dan pelabuhan melalui fasilitas street view pada google map.

Perjalanan wisata secara daring dimulai dengan cerita tentang Kota Surabaya yang dikenal secara luas sebagai Kota Pahlawan. Cerita ditandai dengan kedatangan Sekutu di Surabaya pada 25 Oktober 1945, yang kemudian sekaligus menjadi jalan kembali masuknya tentara NICA kembali menduduki Indonesia.

Rakyat Surabaya yang menolak dengan tegas upaya tersebut memberikan perlawanan kuat hingga menewaskan pimpinan tertinggi Sekutu, Jenderal AWS Mallaby, pada pertempuran 3 hari di bulan Oktober 1945. Meletusnya pertempuran 10 November menjadi pembuktian keinginan Arek-arek Suroboyo untuk merdeka.

Pada setiap penggal cerita yang disampaikan narator di gadget peserta tur virtual muncul ilustrasi visual sejumlah tempat bersejarah di Kota Surabaya. Tugu Pahlawan, Jembatan Merah, dan beberapa tempat peninggalan sejarah lainnya yang masih ada di Kota Surabaya.

Berlanjut dengan cerita Kampung dari Seberang, berlatar kisah di tahun 1843, saat Belanda memberlakukan wijkenstelsel atau pembagian wilayah pemukiman di Surabaya dengan berdasarkan ras atau etnis penduduknya saat itu.

Kalimas misalnya, digunakan sebagai pembatas. Disisi barat Kalimas diperuntukkan bagi pemukiman orang Eropa, sedangkan sisi timur dari Kalimas dikhususkan bagi masyarakat Timur Asing (Vremde Oosterlingen) yang terdiri dari pemukiman masyarakat etnis Tionghoa dan Arab.

Adanya kebijakan ini berdampak pada segregasi kawasan hunian bagi orang Eropa, Tionghoa dan Arab yang masih tampak jelas dari arsitektur bangunan yang hingga sekarang masih ada. Pemisahan wilayah tersebut juga berdampak pada budaya dan tradisi masyarakat yang terus berkembang.

“Kita tidak sekedar membaca cerita saja. Dari buku sejarah misalnya. Lewat tur virtual seperti ini, kita sekaligus melihat dan membayangkan seperti apa kawasan-kawasan Kalimas dan pembagian kluster penghuni atau masyarakatnya di masa itu. Ini sangat menarik. Karena ada visual secara langsung yang bisa kita saksikan. Ini tur masa depan. Tak perlu meninggalkan rumah untuk wisata,” ujar Adisty alumni jurusan Filsafat sebuah kampus negeri di Jogyakarta, Jumat (8/5/2020).

Tur virtual gelaran Surabaya Heritage Track (SHT) ini merupakan bagian upaya dukungan pada pemerintah tentang stay at home saat pandemi Covid-19, dan kegiatan tur virtual ini merupakan alternativ wisata yang dapat diikuti masyarakat tanpa harus meninggalkan rumah.

Kegiatan tur virtual kali ini juga sejalan dengan anjuran International Council of Museums (ICOM) untuk dapat selalu menjangkau dan terhubung dengan publik meski dari jarak jauh. Melalui program Tur Virtual Surabaya Heritage Track (SHT) yang sudah digelar sejak awal Mei 2020 ini, masyarakat tetap dapat menikmati wisata sejarah di Surabaya secara aman ditengah pandemi Covid-19.(tok/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Selasa, 7 Desember 2021
29o
Kurs