Selasa, 30 November 2021

Ahli Patologi Klinik Jelaskan Mengapa Tes PCR Butuh Biaya Tinggi

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Petugas mengumpulkan sampel dari para Pengawas TPS yang akan dianalisis oleh Tim Laboratorium Kesehatan Daerah Surabaya, Kamis (3/12/2020). Foto: Anton suarasurabaya.net

Dokter Betty Agustina Tambunan, Sp.PK(K) dari Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) menjelaskan alasan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) membutuhkan biaya yang tidak sedikit, yakni karena banyaknya komponen dalam pemeriksaan tes PCR yang membutuhkan banyak alat dan reagen yang tidak murah.

Untuk komponennya saja, dr. Betty menyebut, harganya bisa lebih dari Rp550 ribu, di atas batas harga maksimal tes PCR yang diminta Joko Widodo Presiden pada Minggu (16/8/2021).

Ia menjelaskan, sebelum ada keputusan dari Jokowi Presiden soal pembatasan harga tes PCR, harga reagen untuk ekstraksi PCR hingga hari ini masih berkisar Rp450 ribu. Hal itu belum dengan komponen lain seperti VTM, swab kit dan biaya operasional yang lain.

“Yang kami beli (reagen) sekarang masih di atas Rp450 ribu belum lainnya. Bahan dasar yang kami keluarkan total lebih dari Rp550 ribu, bisa Rp600-700 ribu tergantung mereknya karena kita juga harus menyesuaikan dengan merek yang kita punya,” jelas dr. Betty kepada Radio Suara Surabaya, Senin (16/8/2021) kemarin.

Apalagi, proses pemeriksaan tes PCR sangat bergantung pada bahan-bahan atau peralatan yang sekali pakai. Jika nantinya harga tes PCR resmi diturunkan, ia berharap harga komponen tes juga dapat disesaikan.

Pihaknya  juga belum mengetahui, apakah pemerintah akan memberikan bantuan terkait komponen tes PCR atau membuat aturan baru sehingga harganya menjadi lebih terjangkau.

“Kami memang mendengar, tapi apakah pemerintah akan membantu dari sisi harga pembelian reagen-reagen yang kami butuhkan terkait PCR?,” kata dokter yang

Sebelumnya, hal serupa juga disampaikan oleh Dokter Dodo Anondo Ketua Pengurus Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jatim. Ia mengatakan, faktanya harga reagen tidak sesuai dengan harga yang tertera di e-katalog obat dan alat kesehatan yang hanya berkisar Rp150 ribu.

“Ini yang saya maksudkan, reagen sudah didiskusikan dengan tim lab memang tidak sesuai dengan yang ditulis (di e-katalog). Faktanya di luar sana Rp550 ribu sudah mepet. Ini lah yang saya katakan, pengendalian (harga reagen ini). Jangan sampai melebihi e-katalog,” kata dr. Dodo.

Belum lagi, lanjut dr. Dodo, kualitas tes PCR bisa berbeda yang tes PCR lainnya tergantung standar tahapan pemeriksaan yang dilakukan. Banyak tidaknya standar pemeriksaan yang dilakukan otomatis juga ikut mempengaruhi harga tes PCR.

Untuk itu, ia meminta agar pemerintah juga melakukan pengawasan dan pengendalian yang ketat terhadap harga reagen dan bahan-bahan terkait PCR dari distributor.(tin/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Selasa, 30 November 2021
26o
Kurs