Sabtu, 29 Januari 2022

Angka Stunting Tinggi, Kepala BKKBN Ingatkan Ancaman Kualitas SDM

Laporan oleh Manda Roosa
Bagikan
Dr (HC) dr Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) Kepala BKKBN pada acara Puncak Kegiatan Pencanangan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Bersama Mitra Kerja Tahun 2021 dalam rangka memperingati Hari Kontrasepsi Sedunia yang diselenggarakan secara virtual dan luring di Auditorium BKKBN, Jakarta, Senin (27/9/2021) Foto: Istimewa

Dokter Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan saat ini angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi.

“Angka stunting yang masih tinggi yaitu di angka 27,67 persen menunjukkan bahwa generasi saat ini sepertiganya masih belum berkualitas dengan baik,” kata dr Hasto Wardoyo dalam rangka memperingati Hari Kontrasepsi Sedunia yang diselenggarakan secara virtual dan luring di Auditorium BKKBN, Jakarta, Senin (27/9/2021).

Hasto menjelaskan, stunting itu punya tiga konsekuensi, konsekuensi yang pertama adalah postur tubuhnya jadi tidak memenuhi syarat untuk bersaing,  Meski semua stunting pendek tetapi orang pendek belum tentu stunting.Dan orang stunting ini intelektualnya tidak bisa mencapai optimal sehingga untuk bersaing menjadikan orang yang cerdas dan memiliki pengetahuan yang tinggi agak berat.

‘’Orang yang stunting pada hari tuanya usia 45 tahun ke atas mudah sakit-sakitan, sakitnya bisa gangguan metabolisme seperti kencing manis atau bisa juga gangguan kardiovaskuler seperti tekanan darah tinggi, stroke, kemudian serangan jantung. Itulah orang stunting, masa kecilnya tidak bisa bersaing masa tuanya cepat tidak produktif karena kemudian tidak sehat,” terang dr Hasto Wardoyo.

Hasto menambahkan, mencegah stunting itu penting untuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

“Jujur kalau saya ditanya apa nilai tukarnya Sumber Daya Alam (SDA), ketika SDA diambil sehingga akhirnya habis maka satu-satunya nilai tukar , yang nilainya sama adalah kualitas SDM karena suatu wilayah tetap akan bisa hebat dan kaya, meskipun SDA nya sudah habis kalau SDM nya unggul. Ini jelas kita lihat di beberapa negara tidak punya SDA tetapi SDM nya unggul tetap hebat dan sukses, yang punya SDA tapi SDM nya tidak unggul malah justru tidak hebat,” ujar Hasto.

Dijelaskannya, ada satu kunci yang perlu diketahui bersama bahwa jarak antara hamil yang satu dengan hamil yang berikutnya, kemudian jarak antara melahirkan satu dengan melahirkan berikutnya sangat berkorelasi dengan stunting dan sangat berkolerasi dengan autisme.

“Karena itu sudah jelas bahwa kalau habis melahirkan tidak memakai kontrasepsi kemudian nanti hamil lagi jaraknya kurang dari 2 tahun maka peluang untuk terjadi stunting cukup besar, peluang untuk menjadi autisme sangat besar, peluang untuk anaknya menjadi mental emotional disorder cukup besar. Inilah sebab kenapa kontrasepsi menjadi penting, jarak kelahiran menjadi penting dalam rangka untuk melahirkan generasi yang unggul bebas dari stunting,” imbuhnya.

Program stunting ini lanjutnya, akan dikuatkan dengan PKK, kemudian juga dengan Kepala Daerah kemudian juga dengan organisasi profesi sebagai pendamping keluarga di tengah-tengah masyarakat.

“Saya akan mendukung sepenuhnya kepada para Gubernur, dan BKKBN menyediakan anggaran melalui DAK, BOKB maupun DAK fisik yang langsung kita berikan ke daerah-daerah,” kata Hasto. (man/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Senja Penutup Tahun

Truk Derek Ringsek Setelah Tabrak Truk Gandeng Parkir

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Surabaya
Sabtu, 29 Januari 2022
25o
Kurs