Selasa, 7 Desember 2021

Data 1,3 Juta Pengguna Aplikasi eHAC Diduga Bocor, Kemenkes Minta Pengguna Uninstall

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
aplikasi eHAC milik Kemenkes yang datanya diduga bocor. Foto: Google Play

VPN Mentor, situs yang fokus pada Virtual Private Network (VPN), melaporkan adanya dugaan kebocoran 1,3 juta data pada Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Electronic Health Alert Card/eHAC).

eHAC merupakan merupakan aplikasi untuk memverifikasi penumpang yang melakukan perjalanan selama pandemi Covid-19 milik Kementerian Kesehatan.

Antara mengutip laporan itu pada Selasa (31/8/2021), kebocoran data berasal dari penggunaan database Elasticsearch yang tidak memiliki jaminan untuk menyimpan data sekitar 1,3 juta pengguna eHAC.

Ada pun data yang bocor dan bisa diakses dari database eHAC di antaranya merupakan data pribadi pengguna aplikasi, antara lain nama, nomor KTP, paspor, foto profil yang dilampirkan dalam eHAC, detail hotel pengguna, hingga detail waktu akun tersebut dibuat.

Selain data pribadi, dokumen hasil tes Covid-19 juga bisa diakses serta data dari rumah sakit hingga klinik yang dimasukkan di dalam aplikasi eHAC, meliputi dokter yang bertanggung jawab, kapasitas rumah sakit, detail rumah sakit hingga titik koordinat lokasi rumah sakit.

Data yang seharusnya hanya diketahui oleh pembuat aplikasi pun ikut bocor seperti data sandi yang digunakan untuk akun eHAC hingga alamat email.

Laporan tersebut menyebutkan kebocoran itu membuat pengguna rentan mengalami serangan siber.

“Dengan akses informasi ke paspor, tanggal lahir, riwayat,dan data lainnya. Peretas bisa menargetkan pengguna sebagai korban dan mencuri identitas mereka. Mereka dapat tertipu secara langsung dan kehilangan ribuan dolar AS,” kata laporan berbahasa Inggris tersebut.

Tim VPN Mentor yang dipimpin Noam Rotem dan Ran Locar mengeklaim telah menghubungi otoritas terkait mengenai masalah ini. Pada 22 Agustus 2021, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) segera mengambil tindakan menonaktifkan server tersebut pada 24 Agustus 2021.

Menanggapi kebocoran data tersebut, Kementerian Kesehatan melalui konferensi pers menyebutkan bahwa data yang bocor berasal dari aplikasi eHAC yang lama.

Aplikasi itu sudah tidak lagi digunakan sejak Juli 2021.

Anas Ma’ruf Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI pun meminta agar para pengguna aplikasi eHAC yang lama segera menghapus aplikasi itu dari perangkat gawainya masing- masing agar bisa melakukan pencegahan yang optimal.(ant/dfn/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Selasa, 7 Desember 2021
25o
Kurs