Senin, 29 November 2021

Epidemiolog: Kekebalan Komunal Tercapai Setelah Dua Dosis Vaksin

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Dokter Windhu Purnomo Epidemiolog Unair. Foto: dok. suarasurabaya.net

Dr. Windhu Purnomo Ahli Epidemiologi Univeritas Airlangga (Unair) Surabaya menyatakan, herd immunity atau kekebalan komunal di suatu daerah baru bisa tercapai setelah sebagian besar populasi mendapatkan dua dosis vaksin secara lengkap.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyampaikan, ambang batas tercapainya kekebalan kelompok di suatu daerah adalah 70 persen penduduk sudah vaksinasi. Windhu mengatakan, ambang batas ini untuk dua dosis vaksinasi.

Menurut Windhu, antibodi protektif individu terhadap virus penyebab Covid-19 hanya bisa muncul setelah dua dosis lengkap. “Artinya, herd immunity baru tercapai setelah sebagian besar populasi mendapatkan dua dosis vaksin secara lengkap,” ujarnya dikutip Antara, Sabtu (7/8/2021).

Kemarin, Jumat (6/8/2021), dalam salah satu kegiatan vaksinasi di Malang, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur menyatakan dua daerah di Jawa Timur sudah mencapai herd immunity karena sudah memenuhi ambang batas vaksinasi 70 persen seperti yang dinyatakan WHO.

Dua daerah yang dia maksudkan adalah Kota Mojokerto dan Surabaya. Sampai 5 Agustus kemarin, vaksinasi dosis pertama di Mojokerto sudah mencapai 93,93 persen dari total penduduk Mojokerto. Sedangkan dosis kedua sebanyak 30,42 persen.

Sedangkan di Surabaya, pada hari yang sama, capaian vaksinasi dosis pertama sudah sekitar 69,45 persen dan dosis kedua 37,74 persen. Khofifah saat itu meyakini, Surabaya bisa segera menyusul mencapai ambang batas 70 persen karena vaksinasi masih berlangsung.

Atas capaian ini, La Nyalla Mattalitti Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mengapresiasi kedua daerah di Jatim yang capaian vaksinasi dosis pertamanya sudah mencapai ambang batas 70 persen dari total jumlah penduduk, yang menurutnya bisa dikatakan telah memenuhi persyaratan memasuki herd immunity.

Lebih lanjut, Windhu Purnomo Epidemiolog menjelaskan, besaran coverage (ketercakupan/persen populasi) untuk bisa mencapai kekebalan komunal sangat tergantung dari sejumlah hal. Pertama, efikasi, yakni efektivitas vaksin. Semakin kecil efektivitas vaksin, kata dia, makin sulit mencapai kekebalan komunal.

Selanjutnya adalah tingkat penularan virus (Ro=bilangan reproduksi dasar). Dia jelaskan, saat ini varian Delta yang menyebar mempunyai Ro dua kali lebih tinggi daripada varian original. Artinya, semakin tinggi Ro makin sulit mencapai kekebalan komunal.

Terakhir adalah durasi titer (kadar/jumlah) antibodi di dalam tubuh pascavaksinasi dua dosis. Semakin cepat titer antibodi turun makin sulit mencapai kekebalan komunal.

“Secara teoritik dari hitungan epidemiologis, jika melihat efikasi vaksin dan varian Delta yang beredar, untuk Indonesia sangat sulit kekebalan komunal dicapai, nyaris tidak akan pernah tercapai,” katanya. “Jadi strategi yang harus dilakukan dan tidak boleh digantikan strategi lain adalah tes, lacak, dan isolasi semassif mungkin,” katanya.

Pelacakan, kata dia, harus mencapai rasio 1:15 (15 kontak erat dari 1 orang positif Covid-19/standar Kemenkes RI). Akan lebih bagus lagi bila bisa mencapai 1:30 (standar WHO). Sedangkan untuk pengetesan, dia berharap bisa mencapai 10-20 kali batas minimum WHO yang 1/1.000 jumlah penduduk per minggu.

“Di samping itu, prokes (protokol kesehatan) di masyarakat harus mendekati 100,” ujarnya. Jika hal itu dilakukan dengan baik, kata Windhu, maka pandemi di Indonesia akan lekas terkendali.(ant/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Senin, 29 November 2021
26o
Kurs