Senin, 6 Desember 2021

Harga Lebih Tinggi, Banyak Warga Pilih Jual ke Tukang Rombeng daripada Setor ke Bank Sampah

Laporan oleh Manda Roosa
Bagikan
Warga berkumpul mendengarkan penyuluhan di Balai RW 7 Kelurahan Perak Utara, Kamis (25/11/2021). Foto: Manda Roosa suarasurabaya.net

Dua kali menyabet penghargaan pengelolaan sampah secara mandiri dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur 2021. Ternyata menyimpan cerita menarik soal pengelolaan sampah di Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, hal ini disampaikan Bahrudin, Ketua RW 7 Kelurahan Perak Utara. “Ya tantangan terberat kami saingan dengan tukang rombeng,” kata Bahrudin saat ditemui suarasurabaya.net, di Balai RW 7 Kelurahan Perak Utara, Kamis (25/11/2021).

Sampah yang sudah dipilah warga, nyatanya dhargai lebih tinggi pengepul atau disebut tukang rombeng keliing ketimbang setor ke bank sampah. “Tukang rombeng berani bayar lebih mahal dan dibayar tunai,” jelasnya.

Sedangkan di bank sampah, dana baru cair seminggu setelah sampah tersebut diserahkan karena menunggu pencairan dana dari Pemkot.

Bahrudin menjelaskan, sampah-sampah tersebut oleh warga dipilah dahulu berdasar jenisnya, seperti botol plastik, kardus, kaleng dan pembungkus plastik. Pemilahan sampah ini sudah diterapkan di 3 RW, di antaranya RW 4, 7, dan 8.

“Sampah yang sudah dipilah ini nilainya lebih tinggi dibandingkan sampah curah,” terangnya.

Untuk harga jual dari masing-masing non organik. Misalnya untuk pembungkus plastik dihargai senilai Rp 2.000 per kilogram. Kemudian sampah karton/kardus harga jualnya senilai Rp 2.500 per kilogram. Sedangkan untuk botol-botol plastik nilai jualnya Rp 2.000 per kilogram.

“Harganya sudah patokan dari Pemkot (Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya). Jadi bukan harga dari kami,” ungkapnya.

Kemudian petugas bank sampah mengumpulkan sampah-sampah yang sudah dipilah-pilah warga itu lalu dijual, sehingga setiap rumah warga itu kini punya buku tabungan sampah.

Warga bisa sewaktu-waktu mengambil uang dari tabungan sampahnya. Hanya saja saldo dalam tabungan tersebut harus disisakan minimal Rp 10.000.

Agar warganya tetap menyetor ke bank sampah daripada ke tukang rombeng, Bahrudin berharap ada dana yang bisa dipinjamkan kepada warganya. “Nantinya untuk pelunasan mereka bisa ganti dengan menyetor sampah,” katanya. (man/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Senin, 6 Desember 2021
26o
Kurs