Sabtu, 4 Desember 2021

HPN 2021, Ketua Dewan Pers: Pandemi Telah Memaksa Kita Berubah

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Muhammad Nuh Ketua Dewan Pers. Foto: Istimewa

Hari Pers Nasional (HPN) 2021 yang jatuh pada Selasa (9/2/2021) besok mengusung tema “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan”.

Muhammad Nuh Ketua Dewan Pers menjelaskan makna dari tema HPN kali ini. Menurutnya, dorongan agar pers terus berubah sudah muncul jauh sebelum pandemi Covid-19. Namun, perubahan dan inovasi itu benar-benar terjadi sejak pandemi menghantam tatanan sosial dan memaksa masyarakat keluar dari zona nyaman mereka.

“Meski sudah dikasih sinyal oleh perubahan sejak 15 tahun lalu, ternyata kita juga susah berubah. Kehadiran pandemi memaksa kita terus berubah karena orang itu taruhannya mau berubah kalau sudah di antara hidup dan mati,” kata Mendikbud periode 2009-2014 itu kepada Radio Suara Surabaya, Senin (8/2/2021).

Selain itu, pandemi juga memaksa masyarakat untuk saling bersinergi untuk membangun ekosistem bisnis yang baik dari semua sektor. Ini dikarenakan wabah tidak hanya mengantam dari segi kesehatan saja.

“Makanya yang kita angkat di konferensi nasional hari ini antara lain bagaimana caranya agar kita dapat mengembangkan ekosistem,” tambahnya.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jatim itu juga menceritakan, bagaimana cara media bertahan di tengah perubahan. Menurutnya, kunci bertahan di tengah perubahan itu adalah terus berubah.

Ia mengatakan, dulu dunia bisnis khususnya bisnis media, menerapkan sistem monopoli untuk terus bertahan. Sayangnya, sistem monopoli pada akhirnya hanya menghasilkan menang dan kalah. Hingga kemudian monopoli bergeser menjadi sinergi. Lalu dari pandemi membuat bersinergi bergeser menjadi pengembangan ekosistem.

“Jadi ngapain kalah menang kalau bisa sama-sama menang? Filosofi itu bergeser lagi jadi ekosistem. Kalau ingin bertahan, ekosistemnya bertahan dari apa saja yang terkait dengan core bisnis harus menjadi satu kesatuan utuh,” ujarnya.

M. Nuh mengatakan, media sendiri terbagi menjadi dua hal mendasar, lanjutnya. Media secara metode dan media secara substansi. Atau dalam kata lain, media sebagai ‘kendaraan’ atau media sebagai ‘muatan’.

Untuk menghadapi disrupsi, lanjutnya, membutuhkan kendaraan yang berubah untuk beradaptasi. Meski begitu, substansi atau pesan yang dibawa oleh media harus tetap sama, yakni informasi.

Dengan perkembangan digital yang kian melesat, disinformasi maupun malinformasi juga tak bisa dibendung. Untuk itu, sebuah informasi harus berangkat dari data dan fakta yang ada hingga terbentuk informasi yang bermanfaat.

Titik pertemuan antara informasi satu dengan informasi yang lain itu lah yang menghasilkan pengetahuan (knowledge) di mana pers harus mengambil peran.

“Tantangan terberat teman-teman jurnalis yakni melakukan transformasi dari data menjadi knowledge,” imbuhnya.

Tantangan lain yang harus dihadapi jurnalis, menurut M. Nuh, adalah kecepatan tanpa mengesampingkan kaidah jurnalistik yang ada.

“Media-media kita bisa diperbarui dengan terus mewaspadai konvergensi dari teman-teman medsos yang main kecepatan,” lanjutnya.

“Kalau fungsi kecepatan diambil alih oleh kawan-kawan jurnalis yang berpegang teguh pada kaidah etik jurnalistik, maka saya yakin bangsa ini akan dapat sesuatu yang luar biasa,” tutur alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.(tin/lim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
30o
Kurs