Sabtu, 23 Oktober 2021

IDAI Jatim Catat 24 Anak Meninggal dari 2.949 Anak Terkonfirmasi Covid-19

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi.

Ikatan Dokter Anak (IDAI) Jawa Timur mencatat, per 14 Juni atau pekan lalu, ada 2.949 anak di Jawa Timur yang terpapar Covid-19 atau bertambah 86 kasus dalam waktu seminggu. Dari ribuan kasus tersebut, 24 anak di antaranya meninggal dunia.

“Ini data dari minggu lalu. Per 14 Juni, yang suspek ada 3.944 atau bertambah 82 anak. Yang confirm positif ada 2.949, ada penambahan 86 kasus dalam seminggu. Yang konfirmasi meninggal ada 24 anak, dan belum ada penambahan dari minggu sebelumnya, semoga tidak bertambah,” kata dr. Sjamsul Arief Sp.A (K) Ketua Ikatan Dokter Anak (IDAI) Jatim kepada Radio Suara Surabaya, Senin (21/6/2021).

Dokter Sjamsul mengatakan, data ini didapat dari pasien anak yang menderita Covid lalu dirawat oleh dokter anak. Sehingga ia memperkirakan jumlah anak yang terkonfirmasi Covid-19 keseluruhan bisa lebih dari itu.

“Data ini tidak sama dengan yang dikeluarkan Gugus Covid, karena tidak semua anak dirawat di dokter anak. Ada juga di dokter umum dan sebaiknya. Tentunya data Satgas bisa lebih tinggi dari data IDAI,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, saat terpapar covid, mayoritas anak-anak memiliki gejala klinis ringan dan tidak terlalu parah dibanding orang dewasa. Ini dikarenakan secara imunologi, imun anak tidak terlalu bereaksi terhadap inflamasi. Sehingga, imun anak yang lebih kuat membuat gejala klinisnya lebih lemah.

Namun dengan adanya 24 kasus anak di Jawa Timur yang meninggal akibat covid, tentu menjadi catatan tersendiri bagi IDAI.

Dokter Sjamsul mengatakan, anak-anak yang meninggal tersebut pada umumnya memiliki latar belakang kesehatan yang kurang baik sebelum terpapar Covid-19.

“Anak-anak yang meninggal pada umumnya tidak murni dikarenakan covid. Ada yang (penyakit) paru-paru, infeksi otak atau infeksi-infeksi lain seperti TBC, bahkan ada yang HIV karena tertular orangtuanya. Mereka meninggal, karena covid memperberat penyakitnya,” papar dr. Sjamsul.

Mengenai wacana dibukanya kembali sekolah tatap muka, dr. Sjamsul menegaskan IDAI Jatim sudah pernah mengirimkan rekomendasi ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk menunda rencana itu. Ini mengingat kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia masih mengkhawatirkan.

“Rekomendasi kita (sekolah tatap muka) jangan dibuka dulu, ditakutkan nanti ada klaster sekolah, lalu (virus) dibawa pulang. Jadi penularannya dari anak ke orangtua. Sudah, sudah pernah. Sudah langsung kita kirimkan (rekomendasi itu) ke Pak Menteri,” imbuhnya.

Melihat kasus ini, Edward Dewaruci Pembina Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim di kesempatan yang berbeda, juga angkat bicara. Ia turut prihatin, bahwa saat ini lebih banyak anak yang terpapar Covid-19 dan harus menjalani isolasi.

Menurutnya, sudah sepatutnya anak menjadi tanggung jawab orangtua dan orangtua harus menjaga anak dari risiko penularan Covid-19 saat anak berada di luar rumah.

Edward menilai, selama pelaksanaan sekolah daring sejak tahun 2020 lalu, otomatis anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Yang mulanya anak berada di sekolah di bawah pemantauan guru, saat ini anak sepenuhnya dibawah pengawasan orang tua. Sehingga ada masanya, orangtua kewalahan lalu ingin membiarkan anak mereka bermain di luar tanpa pengawasan.

Atau ada juga, lanjutnya, orangtua yang melihat anak mereka bosan berkegiatan di rumah lalu mengajak mereka berlibur atau jalan-jalan. Padahal di sisi lain, pandemi Covid-19 belum berakhir dan beberapa waktu terakhir terjadi tren peningkatan kasus.

“Kalau dalam prosesnya keberatan, anak-anak di rumah dirasa merepotkan. Atau bosan di rumah lalu diajak jalan-jalan sedangkan situasi tidak memungkinkan. Harusnya orangtua yang membuat bagaimana caranya anak mau dan bertahan di rumah,” kata Edward kepada Radio Suara Surabaya, Senin (21/6/2021) pagi.

Salah satunya dengan memberikan alternatif permainan atau belajar bersama di rumah. Jangan sampai, ketika anak bosan di rumah, lalu orangtua merasa keberatan, lalu orangtua melakukan pembiaran kepada anak-anak mereka.

“Pandemi ini ibarat perang, anak-anak dilepas ke garis depan medan perang. Harusnya anak-anak di rumah dengan tanggung jawab orangtua,” ujarnya.(tin/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat BBM Terbakar di Tol Pandaan

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Sabtu, 23 Oktober 2021
28o
Kurs