Minggu, 29 Mei 2022

IDI Surabaya: Kalau Sudah Begini Harus Tarik Rem

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Dokter Brahmana Askandar Ketua IDI Jatim. Foto diambil pada 2019 lalu sebelum merebaknya pandemi Covid-19. Foto: dok. suarasurabaya.net

Banyak pendengar Radio Suara Surabaya yang mengeluh kesulitan mendapatkan rumah sakit yang masih bisa memberikan pelayanan kesehatan. Ada juga yang sudah sampai di rumah sakit tapi tidak segera mendapatkan penanganan di kamar atau ruangan-ruangan. Atau ada pula yang mengeluh tertahan di Instalasi Gawat Darurat dan tidak segera ditangani oleh dokter.

Dr.dr. Brahmana Askandar SpOG(K) Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya mengatakan, semua keluhan yang masuk ke Radio Suara Surabaya maupun keluhan yang sering didapati di masyarakat itu adalah fakta yang sedang terjadi saat ini. Dia bahkan menegaskan, itu terjadi di semua rumah sakit yang ada di Kota Surabaya.

“Semua rumah sakit di Surabaya penuh. Jadi begini, bahkan kalau dokter sakit pun saat ini tidak mudah mencari tempat perawatan. Dokter sakit pun tidak selalu ada tempat perawatan di rumah sakit tempat dia bekerja. Mungkin itu bisa menggambarkan betapa penuhnya rumah sakit di kita (Surabaya),” ujarnya ketika mengudara di radio, Selasa (28/6/2021).

Dia benarkan, sejumlah rumah sakit sudah beberapa kali menambah tempat tidur untuk perawatan pasien Covid-19. Tapi menurutnya itu percuma. Karena jumlah pasien yang datang masih melebihi kapasitas tempat tidur yang tersedia, meskipun sudah ada penambahan. Bila hal ini terus terjadi, dia tegaskan, rumah sakit manapun di Surabaya tidak akan mampu menangani.

“Kalau sudah begini, harus tarik rem. Mau tidak mau harus tarik rem. Karena kalau remnya tidak ditarik, krannya masih terbuka lebar, ini enggak akan pernah mampu. Mau ditambah dokter berapa pun, mau ditambah kapasitas berapa pun, tidak akan mampu! Jadi yang kami harap, krannya harus disetop untuk sementara waktu. Remnya harus ditarik,” ujarnya.

Apa yang dia maksud dengan “rem” merujuk pada kebijakan pemerintah Republik Indonesia tentang “Gas dan Rem” dalam penanganan Covid-19 yang seringkali disampaikan Joko Widodo Presiden, serta dikutip oleh banyak kepala daerah. Kebijakan “gas” dengan menggenjot aktivitas ekonomi dilakukan ketika kasus Covid-19 melandai. Sedangkan kebijakan “rem” atas aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat dilakukan saat kasus Covid-19 meningkat.

“Menurut saya, sekarang sudah waktunya. Kalau boleh, nih, kita kalau enggak ada perlu, di rumah saja. Jadi kita hanya beraktivitas sosial ketika ada yang urgent (mendesak) saja. Jadi ketika tidak urgent, misalnya kongkow-kongkow, kemudian ngobrol bersama, santai-santai, ditahan dulu untuk sementara ini,” ujarnya.

Aktivitas bekerja, kata Brahmana, menurutnya memang terkategori dalam aktivitas yang mendesak atau urgent. Tetapi, kata dia, kalau memang pekerjaan itu bisa tetap dikerjakan dengan cara kerja dari rumah (work from home), maka dia menyarankan agar kerja dari rumah lebih diprioritaskan.

“Jadi kondisinya sekarang ini, bukan karena kami ingin santai-santai, ya. Artinya ini sudah betul-betul sangat mengkhawatirkan. Karena saat ini kami (dokter) khawatir tidak bisa memberikan layanan dengan baik kepada masyarakat,” ujarnya. “Sekadar informasi, tenaga kesehatan kita, dokter-dokter itu, sudah banyak yang mulai terpapar.”

Brahmana sendiri sebagai Ketua IDI Surabaya khawatir, bila para dokter dan tenaga medis lainnya mulai terpapar, dokter atau tenaga medis yang akan memberikan pelayanan terhadap pasien jumlahnya semakin terbatas. Padahal, untuk menambah jumlah tenaga kesehatan atau dokter, misalnya dengan memberikan pelatihan, menurutnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Oke, kami bisa melatih tenaga dokter. Tapi sampai kapan penambahan tenaga ini akan dilakukan? Rumah sakit, kan, punya keterbatasan juga. Kemudian bukan hanya dokter saja. Perawat dan lain-lain. Belum lagi tenaga yang keahliannya spesifik, kan, terbatas. Ventilator bisa ditambah, misalnya. Tapi siapa perawat yang bisa mengoperasikan ventilator? Siapa dokternya? Tidak bisa dikebut semudah membalik tangan,” katanya.

IDI Surabaya mencatat, sampai Selasa (28/6/2021) ini, sudah ada 124 dokter yang terpapar Covid-19. Sebanyak 41 orang dokter di antaranya saat ini sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Sedangkan dokter yang menjalani isolasi mandiri saat ini sebanyak 83 orang. Brahmana menegaskan, catatan itu bisa terus berubah setiap harinya. Bisa jadi yang terpapar akan terus bertambah.

“Misalnya begini. Di setiap satu rumah sakit, dokter anestesi yang mengoperasikan ventilator jumlahnya ada dua orang. Kalau satu terpapar (Covid-19), tinggal satu yang bisa mengoperasikan ventilator. Kalau yang satu terpapar lagi, enggak ada yang mengoperasikan ventilatornya. Initnya, kami khawatir tidak bisa melayani masyarakat dengan maksimal,” katanya.

IDI Surabaya pun sudah menginstruksikan kepada dokter-dokter yang ada untuk tetap menjaga prokes. Selain itu, para dokter diimbau menunda operasi yang tidak darurat, tidak mendesak, dan tidak menyangkut keselamatan jiwa. “Karena dokternya juga terbatas, kemudian perawatan pascaoperasi kadang butuh intensif care. Itu juga terbatas, masih penuh untuk perawatan Covid-19,” ujarnya.

Brahmana berharap, rancangan kebijakan pemerintah pusat yang sedang dibahas soal pembatasan jam operasional mal sampai pukul lima sore bisa mengurangi jumlah yang terpapar Covid-19. “Paling tidak mulai ada acting untuk menyetop kran itu. Kita harus tetap optimistis dan menjalankan peran masing-masing dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.(den)

Berita Terkait

Surabaya
Minggu, 29 Mei 2022
27o
Kurs