Sabtu, 21 Mei 2022

Ingin Jadi Relawan Vaksin Merah Putih? Perhatikan Hal Ini!

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Salah satu peserta vaksinasi massal di Gedung Airlangga Convention Center, Minggu (5/9/2021). Foto: Dokumen suarasurabaya.net

Tim pengembang vaksin asal Indonesia, vaksin Merah Putih, membuka pendaftaran bagi 500 relawan yang ingin terlibat uji klinis yang rencananya akan diadakan awal Desember nanti. Uji klinis akan dilakukan di bawah wewenang pakar medis dari RSUD dr. Soetomo, Surabaya.

Dr. dr. Gatot Sugiarto Sp.PD anggota tim pengembang vaksin Merah Putih menegaskan, poin utama dari kegiatan uji klinis ini adalah keamanan. Sehingga relawan terlebih dahulu melalui tahapan skrining dan pengecekan kesehatan.

“Kita akan mendata calon relawan, dicatat oleh tim praskrining. Tim akan mengumpulkan data awal seperti jenis kelamin, usia, riwayat penyakit apa saja, obat yang sedang dikonsumsi, rutin apa nggak, terkendali apa tidak,” kata dr. Gatot kepada Radio Suara Surabaya, Jumat (12/11/2021).

Bagi calon relawan yang sudah divaksinasi, baik dosis pertama maupun dosis kedua, masih bisa mengikuti kegiatan ini. Namun tidak bagi calon relawan yang telah mendapatkan vaksin ketiga atau booster.

“Kalau sudah mendapat vaksin ketiga, mohon maaf, belum bisa dilibatkan karena sudah ada booster. Kalau ingin booster, kan jadinya vaksin booster-nya dua kali,” jelasnya.

Masyarakat yang ingin menjadi relawan uji coba vaksin Merah Putih dapat menghubungi tim praskrining:
-dr. Fany Arsyad (081333355533)
-dr. Laksmi Wulandari (08123019591)
-dr. Randy Pangestu (089699668343)
-Lintang Prayogi (082232457512).

Di keempat kontak tim praskrining di atas, calon relawan tidak hanya bisa mendaftar, tetapi juga menanyakan informasi dan syarat yang dapat dipenuhi saat ingin mengikuti uji klinis vaksin Merah Putih.

“Kalau bisa chat saja, jangan telepon. Tulis nama siapa, berminat untuk jadi relawan. Atau nama siapa, mohon informasi soal bla bla bla, itu kalau masih ingin mencari informasi,” ujarnya.

Nantinya calon relawan akan datang ke RSUD dr. Seotomo dan dilakukan pemeriksaan. Dalam tahapan tersebut, relawan harus dipastikan tidak sedang terkena Covid-19. Jika berdasarkan hasil skrining calon relawan telah memenuhi syarat mengikuti uji klinis, tahapan selanjutnya adalah vaksinasi.

Setelah vaksinasi, relawan akan dipantau selama 30-60 menit, apakah relawan menunjukkan reaksi seperti nyeri, gatal, kemerahan di bekas suntikan. Jika tidak, relawan diperbolehkan pulang dengan tetap dalam pemantauan tim.

Nantinya, mereka akan dipertemukan dalam kelompok grub percakapan, yang mana setiap grub terdiri dari sekitar 10 relawan dengan 1 orang pemantau. Relawan akan dipantau secara berkala, mulai dari sekian hari hingga beberapa minggu. Dari sana akan diketahui, apakah antibodi pascavaksinasi sudah terbentuk apa belum, dan apakah antibodi tersebut tergolong tinggi atau tidak.

“Kami biasanya mengalokasikan dokter yang membawahi 10 orang subyek penelitian. Nanti jika ada keluhan, bisa langsung menghubungi PIC tersebut,” kata dr. Gatot.

Jika reaksi relawan tergolong berat, maka mereka akan mendapatkan perawatan secara gratis di RSUD dr. Seotomo Surabaya. Di sana, relawan akan diperiksa, apakah reaksi tersebut berkaitan dengan bahan penelitian pengembangan vaksin Merah Putih atau tidak.

“Tentu saja kita berharap partisipan rumahnya jangan jauh-jauh dari Surabaya karena untuk mempermudah pemantauan,” kata dr. Gatot.

Rupanya, pendaftaran relawan uji klinis vaksin Merah Putih ini mendapatkan respon yang baik dari masyarakat. Beberapa kali pendengar Radio Suara Surabaya menyampaikan ingin menjadi relawan.

Bahkan beberapa dari mereka, sudah lama menunggu vaksin yang dikembangkan oleh peneliti dari Universitas Airlangga (Unair) yang dipantau langsung Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini.

“Saya dengerin vaksin Merah Putih, saya tertarik untuk jadi relawan. Saya kebetulan belum divaksin sama sekali, sengaja menunggu vaksin ini,” kata Singgih Prasetyo (37 tahun) warga Surabaya.

Tidak hanya melalui radio, masyarakat juga berbondong-bondong menyampaikan ingin menjadi relawan melalui kanal Whatsapp Suara Surabaya. Salah satunya adalah Dody Prasetyo (38) tahun.

“Menyambung soal vaksin Merah Putih, sebagai anak bangsa saya bersedia untuk menjadi relawan. Usia saya 38 tahun,” tulis Dody.

Derasnya antusiasme masyarakat menyambut kehadiran vaksin Merah Putih membuat Prof Nasih Rektor Universitas Airlangga menangis haru. Ia pun menyampaikan terima kasih atas perhatian masyarakat yang luar biasa,” katanya.(tin/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Sabtu, 21 Mei 2022
25o
Kurs