Sabtu, 23 Oktober 2021

Kasus Covid-19 Turun, ITD Unair Ingatkan Prokes untuk Waspadai Gelombang Ketiga

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan

Berdasarkan data yang dilansir dari situs covid19.go.id, jumlah kasus Covid-19 harian di Indonesia terus mengalami penurunan. Sejak puncak kasus pada 15 Juli 2021 dengan 56.757 kasus per hari, jumlah kasus harian terus menurun hingga saat ini. Pada Kamis (26/8/2021), tercatat kasus baru di Indonesia turun menjadi 16.899 kasus.

Meski kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) belum dicabut, namun Joko Widodo Presiden mengumumkan beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Surabaya Raya, sudah mulai turun dari level 4 ke level 3. Presiden mengatakan, PPKM telah berhasil menurunkan level penanganan pandemi di banyak daerah khususnya Jawa-Bali.

Hal itu dibenarkan oleh Maria Inge Lusida dr. Direktur Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (Unair). Menurutnya, salah satu faktor penyebab turunnya kasus Covid-19 di Indonesia adalah pembatasan mobilitas yang ketat dengan penerapan PPKM.

“Dengan penerapan PPKM, terasa kasusnya sangat menurun. Tidak hanya dari pidato Pak Jokowi, tapi keliatan di rumah sakit yang dulu penuh sekarang mulai kosong tinggal beberapa,” kata dr. Inge kepada Radio Suara Surabaya, Jumat (27/8/2021).

Walaupun begitu, dr. Inge tetap mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga disiplin protokol kesehatan dan menjadikan prokes sebagai kebiasaan sehari-hari. Karena ia melihat, di negara-negara lain tidak sedikit yang saat ini menghadapi gelombang ketiga Covid-19. Untuk itu, dengan tetap taat prokes, masyarakat tetap waspada dengan kemungkinan peningkatan kasus.

“Jangan lengah, meski turun (kasus Covid-19), prokes harus dijalankan oleh semua masyarakat. Terlihat di beberapa negara ada gelombang ketiga, keempat dan seterusnya. Kita harus tetap waspada,” tegasnya.

Selain melakukan diagnosa terhadap tes usap, tim ITD Unair sekaligus melakukan penenelitian tentang varian virus Covid-19 yang terus berkembang. Dalam hasil penelitian tersebut, dr. Inge memastikan sebagian besar kasus Covid-19 di Jawa Timur saat ini merupakan varian Delta.

Dibanding kasus yang berkembang pada tahun lalu, varian Delta diakuinya memiliki risiko kematian tinggi jika tidak cepat mendapatkan penanganan. Apalagi, tingkat vaksinasi di Indonesia belum mencapai standar kekebalan kelompok (herd immunity).

“Memang varian delta ini lebih mematikan daripada yang aslinya tahun lalu. Kalau deteksinya lebih dini lebih baik, jangan sampai tidak cepat teratasi,” ujarnya.

Ia melihat, tracing yang dilakukan pemerintah melalui tim satgas sudah berjalan baik. Ia berharap, tracing dilakukan lebih cepat agar penanganan lebih optimal tidak mununggu sampai menyebar.

Yang paling penting, dr. Inge juga meminta masyarakat untuk melakukan tracing mandiri dalam lingkup keluarga. Jika satu anggota keluarga terkonfirmasi Covid-19, anggota keluarga yang lain memiliki kesadaran untuk memeriksakan diri.’

“Kedua, masing-masing keluarga mentracing sendiri. Kalau satu anggota keluarga kena, semua keluarga diperiksa agar penanganan lebih cepat,” lanjutnya.(tin/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat BBM Terbakar di Tol Pandaan

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Sabtu, 23 Oktober 2021
Kurs