Rabu, 1 Februari 2023

Manajemen Air yang Unik di Berbagai Negara

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
MOSE Project, singkatan dari Modulo Sperimentale Elettromeccanico merupakan megaproyek di Venesia yang akan mampu menopang air pasang setinggi tiga meter. Foto: Vincenzo Pinto/AFP/Getty Images

Manajemen air yang baik menjadi salah satu bentuk upaya menghargai air (valuing water), seperti tema yang diangkat dalam peringatan Hari Air Sedunia yang jatuh pada hari ini Senin (22/3/2021). Tidak ada salahnya Indonesia menengok negara-negara lain dalam upaya manajemen air. Mulai dari cara unik menggunakan ruangan bawah tanah sebagai tampungan air hingga pemanfaatan teknologi mutakhir.

Berikut cara unik di beberapa negara di dunia dalam memanajemen air.

1. Venesia

Venesia menjadi salah satu negara yang terancam tenggelam karena kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim. Untuk itu, pemerintahnya menggunakan teknologi MOSE Project, singkatan dari Modulo Sperimentale Elettromeccanico.

Dilansir dari laman water-technology.net, proyek spektakuler yang menghabiskan dana USD 5,5 miliar ini dibangun untuk mengendalikan banjir. MOSE Project dibangun di tiga pintu masuk utama lagoon, yaitu Gerbang Lido, Gerbang Malamocco dan Gerbang Chioggia.

Tiga titik MOSE Project

Yakni celah yang menghubungkan lagoon dengan laut bebas dan dimana gelombang pasang surut mengalir melalui celah tersebut. Di gerbang ini, kini sedang dikerjakan pemasangan konstruksi modul-modul gerbang yang dilaksanakan oleh para insinyur di FIAT.

Total sebanyak 78 gerbang yang bergerak dipasang di dasar laut sebagai bagian dari proyek MOSE. Mereka memiliki panjang 92 kaki, lebar 65 kaki dan berat 300 ton. Gerbang bergerak yang diletakkan di bagian bawah saluran masuk didukung oleh tiang baja dan beton sepanjang 125 kaki, berukuran diameter 500mm dan panjang 20m, didorong ke dasar laguna.

Cara kerja MOSE. Foto: telegraph.co.uk

Pintu air terdiri dari kotak besar berstruktur logam. Udara akan ditekan dengan pompa ke dalam kotak logam saat gelombang pasang lebih dari 110m. Sehingga udara akan menaikkan penghalang ke permukaan air untuk menghalangi aliran air pasang dan mencegah masuknya air ke laguna.

Pintu air dilubangi di bagian bawah, untuk memungkinkan kompresi hembusan udara. Mereka akan diisi dengan air dan diturunkan ke dasar laut jika tidak ada bahaya banjir. Proyek MOSE juga mencakup penguatan wilayah pesisir, peninggian dermaga dan pengaspalan kota.

2. Belanda

Belanda harus menghadapi ancaman banjir dan dampak perubahan iklim dengan naiknya permukaan laut. Salah satu penyebabnya karena sebagian wilayah Belanda yang sangat datar sehingga akan memperlambat aliran air ke laut.

Dilansir dari Tirto, Pemerintah Belanda menerapkan sistem Polder, yakni sebidang tanah yang rendah, dikelilingi oleh tanggul yang membentuk semacam kesatuan hidrologis buatan. Ini artinya tak ada kontak dengan air dari daerah luar.

Air buangan seperti air hujan di kumpulkan ke area Polder ini, dan di pompa ke sungai atau kanal yang langsung bermuara ke laut. Polder merupakan sistem tata air tertutup dengan meliputi berbagai elemen seperti tanggul, pompa, saluran air, kolam retensi, pengaturan lahan dan instalasi air kotor terpisah.

Pola sistem Polder yang ada di Belanda. Foto: Pinterest

Selain itu, kincir angin Belanda yang terkenal itu sebenarnya adalah salah satu solusi untuk mengatasi banjir. Sebab, bagian bawah kincir yang dibangun sejak abad 14 ini sesungguhnya terdapat saluran untuk memompa kelebihan air dari untuk mengeringkan areal persawahan di Belanda.

Pemerintah Belanda juga membangun tanggul-tanggul raksasa (Dijken) bagi daerah-daerah yang tidak memiliki Polder, agar terhindar dari gelombang pasang-surut laut. Dijken juga melindungi daerah rendah yang menjadi muara dari dua sungai besar Eropa yakni sungai Rijn dan sungai Maas. Tanggul ini terdapat di pinggir pantai provinsi Zeeland, Noord Holland, Frisland dan Groningen.

3. Jepang

Jika Jepang menjadi tujuan ziarah bencana dan pakar manajemen risiko, katedral raksasa ini adalah salah satunya. Katedral air banjir di Tokyo, Kepang ini berada tersembunyi 22 meter di bawah tanah adalah bagian dari Saluran Pembuangan Bawah Tanah Area Metropolitan (MAOUDC), dengan sistem terowongan sepanjang 6,3 km dan ruang silinder yang menjulang tinggi yang melindungi Tokyo Utara dari banjir.

Pompa di Saluran Pembuangan dapat mengosongkan kolam renang sepanjang 25m dalam waktu kurang dari tiga detik. Foto: Getty Images

Seperti yang dilansir BBC, ketika salah satu sungai meluap, maka airnya jatuh ke salah satu dari lima tangki silinder besar setinggi 70 meter yang tersebar di sepanjang kanal. Masing-masing tangki ini cukup besar untuk menampung pesawat ulang-alik atau Patung Liberty dan saling terhubung melalui jaringan terowongan bawah tanah sepanjang 6,3 km. Saat air mendekati Sungai Edo, ‘floodwater cathedral’ ini akan mengurangi alirannya, sehingga pompa dapat mendorongnya ke sungai.

Bayangkan kolam standar 25m, terisi hingga penuh, terhubung ke pompa tenaga kuda 13.000 yang melepaskan air dari Channel. Jika pompa dihidupkan, hanya membutuhkan dua hingga tiga detik untuk mengosongkan kolam, karena mereka dapat mendorong 200 ton air per detik.

4. Korea Selatan

Dilansir dari CNN Indonesia, Korea Selatan punya dam buatan manusia terpanjang di dunia. Letak dam ini terletak di tenggara semenanjung Korea, Tembok Laut.

Dam ini selesai dibangun pada 2010 dan digunakan untuk mengamankan muara Saemangeum dari gelombang pasang Laut Kuning.

Turap Saemangeum di Korea Selatan. Foto: smgc.kr

Dam ini terbentang sepanjang 33 kilometer, lebar 36,5 meter, dan tinggi 290 meter ini dijuluki sebagai Tembok Besar di laut. Pemerintah Koera Selatan menghabiskan Rp23,9 triliun (2 triliun won; 1 won=11,95) untuk membangun dam ini.

Pada tahun 1991, Pemerintah Korea Selatan mengumumkan bahwa sebuah tanggul akan dibangun untuk menghubungkan dua tanjung di sebelah selatan kota pelabuhan industri di Gunsan, 270 kilometer di sebelah barat daya Seoul, untuk menghasilkan 400 kilometer persegi lahan pertanian dan waduk air tawar. Sejak itu, pemerintah telah menghabiskan hampir 2 triliun won pada konstruksi tanggul, dengan tambahan 220 miliar yang dianggarkan untuk memperkuat tanggul dan 1.31 triliun won lanjutan untuk mengubah dataran yang bergelombang menjadi lahan yang dapat ditanami berikut waduknya. Lebar rata-rata dinding laut/dam adalah 290m (terlebar 535m) serta tinggi rata-ratanya 36m (tertinggi 54m).

5. Yordania

Berbeda dengan keempat negara di atas, Yordania adalah negara yang menerapkan kebijakan water pricing sebagai insentif untuk memperbaiki pengelolaan air, untuk menutupi biaya operasi dan pemeliharaan, serta sebagian dari biaya modal, yang digunakan sebagai instrumen untuk pengelolaan air yang efisien. Kebijakan tersebut menyatakan bahwa air dikelola sebagai komoditas ekonomi yang memiliki nilai sosial yang sangat besar.

Struktur tarif air perumahan dan nilai tagihan air di Yordania. Foto: researchgate.net

Perbedaan harga diterapkan untuk memperhitungkan kualitas air irigasi, pengguna akhir, dan dampak sosial dan ekonomi  di berbagai sektor. Karena kenaikan biaya marjinal pengumpulan dan pengolahan air limbah, biaya, biaya sambungan, pajak saluran air limbah dan biaya pengolahan harus ditetapkan untuk menutupi setidaknya biaya operasi dan pemeliharaan. Sangat diharapkan bahwa sebagian dari biaya modal dari layanan tersebut dapat dipulihkan.

Air relatif mahal di Yordania karena kelangkaan air dan mahalnya biaya memperoleh, pengobatan, pengangkutan dan distribusi. Biaya aktual pengiriman air ke konsumen diperkirakan sebesar 1,14 $/m3 untuk keperluan kota dan 0,32 $/m3 untuk irigasi di Lembah Yordania. Analisis biaya menunjukkan bahwa pemerintah Yordania telah memberikan subsidi air ke warganya karena air di Lembah Yordania dikenai biaya sesuai dengan prinsip diskriminasi harga.(tin/ipg)

Berita Terkait