Jumat, 12 Agustus 2022

Manuver Jack, Mengajar Musik di Era Pandemi

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Abdul Kodir Zaelani Pengajar dan Penguji Musik di Sekolah Musik Yamaha. Foto : istimewa

Pandemi Covid-19 berdampak global terhadap sisi-sisi kehidupan manusia, termasuk juga bagi kehidupan seorang guru musik. Untuk bisa bertahan, mereka harus bisa bermanuver, berimprovisasi dan berinovasi di bidang musik.

Hal inilah yang dialami dan dilakukan oleh Abdul Kodir Zaelani (47) seorang guru sekaligus penguji musik di sekolah musik Yamaha. Dia pernah bergabung juga di Purwacaraka dan juga Citras Musik serta berpengalaman sebagai guru dan penguji musik selama 23 tahun.

Menurut Jack panggilan akrabnya, selama pandemi Covid-19 ini dia harus mengikuti pola hidup yang baru dan mengukuti arus yaitu memanfaatkan era digital.

“Untuk tantangan mengajar di era Pandemi Covid-19 ini, pastinya kita melihat dan mengikuti arus yang ada dengan era digital. Kita mengikuti era hidup baru yang tentunya dengan terus meningkatkan atau bermanuver, berinovasi, dan improvisasi supaya musik tetap berjalan, sistem pengajaran berjalan, dunia musik tetap berjalan serta bermanfaat bagi semuanya,” ujar Jack di Jakarta, Selasa (9/3/2021).

Jack menjelaskan, untuk metode pengajaran sekolah musik agar tetap berjalan, saat ini menggunakan siatem online, meskipun ada kendalanya dengan menggunakan metode ini, seperti masalah sinyal dan suara yang terdengar tidak maksimal karena tidak secara langsung.

“Sekolah musik sekarang melakukan metode dengan cara sistem online, bisa dilakukan dengan sarana Zoom, WA Video Call dan lainnya. Tapi pastinya ada kendala-kendala dan adaptasi dengan hal-hal tersebut, terutama masalah sinyal daripada akses Zoom atau Video Call, termasuk dari segi suara yang dihasilkan melalui metode online tersebut, sehingga tidak maksimal karena biasanya kita mendengar suaranya langsung dibanding dengan metode online. Pastinya kita akan terus beradaptasi dengan hal tersebut,” jelasnya.

Kendala lain, kata dia, sistem online ini akan berdampak pada penurunan jumlah siswa, karena ada juga murid-murid yang tidak punya sarana dari alat musik yang dipelajari.

“Jadi itu juga yang membuat murid-murid yang ada berhenti dulu atau cuti dulu atau bisa juga berhenti sambil menunggu Pandemi Covid-19 ini usai,” kata Jack.

Jack mengaku pandemi Covid-19 ini berdampak pada penurunan antusiasme atau animo masyarakat terhadap dunia musik, khususnya sekolah musik atau dunia pengajaran sekolah musik yang sangat tidak diinginkan.

“Saya pribadi sebagai guru musik harus survive selama pandemi Covid-19 ini tentunya mempertahankan murid-murid yang ada dengan sistem online tersebut. Kita berinovasi, improvisasi untuk bagaimana caranya mempertahankan murid dan juga mengiklankan lewat sekolah musik untuk mendapatkan murid-murid dengan sistem pengajaran online tersebut,” ujar Jack.

Kata Jack, banyak juga teman-temannya sesama guru musik akhirnya membuat karya-karya baru untuk menghidupkan band-band lamanya atau membuat band-band baru dan berkarya membuat satu lagu. Lagu itu kemudian direkam dan diunggah di You Tube agar bisa mendapat penghasilan dari akun tersebut.

“Upload di YouTube yang tentu itu tujuannya adalah membuat penghasilan dan juga mencari subscriber serta lain-lainnya,” jelas Jack.

“Tidak menutup kemungkinan banyak juga guru-guru atau musisi-musisi yang akhirnya mungkin karena kebutuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19, banyak juga yang menjual alat musik yang mereka punya. Mungkin dengan harapan setelah Covid-19 ini selesai bisa membeli kembali alat musiknya dan bisa kembali berkarya,” imbuhnya.

Biasanya, menurut Jack, selain mengajar, guru musik atau musisi itu selalu mengisi acara di kafe kafe, event-event wedding atau acara-acara yang membutuhkan live music. Tetapi selama Covid-19 ini semuanya berhenti dan tidak berjalan kembali.

Tapi Jack bersyukur karena setelah pandemi Covid-19 berjalan sekitar satu tahun, geliat musik sudah mulai ada, sistem mengajar offline atau bertemu langsung sudah dimulai dengan protokol kesehatan.

“Tapi Alhamdulillah setelah Covid-19 ini kurang lebih setahun lebih berjalan satu tahun, mulai ada geliat seperti kafe-kafe mulai buka kembali dengan protokol kesehatan dan pembatasan waktu jam bukanya, event-event sudah mulai ada yang buka atau melaksanakan event dengan musiknya diikutsertakan seperti itu. Dan juga ada juga sekolah musik yang mulai buka pengajarannya dengan sistem offline atau langsung dengan protokol kesehatan tentunya,” jelasnya.

Menurut Jack, ini sesuatu yang positif dan bisa diharapkan ke depannya. “Mudah-mudahan terus seperti itu, terus membaik dan Covid ini cepat selesai,” harapnya.(faz/bid)

Bagikan
Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Jumat, 12 Agustus 2022
27o
Kurs