Sabtu, 4 Desember 2021

Organisasi Ini Surati Jokowi Soal Pemakaian Ivermectin sebagai Obat Covid-19

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Konferensi pers FLCCC tentang kisah sukses pemakaian Ivermectin sebagai obat Covid-19 yang dihadiri Moeldoko Kepala Staf Kepresidenan, Senin (28/6/2021). Foto: screenshot zoom

Front Line Covid-19 Critical Care Alliance (FLCCC), organisasi kemanusiaan nirlaba yang terdiri dari kumpulan dokter dan peneliti klinis ahli dunia berbasis di Amerika Serikat sudah bersurat kepada Joko Widodo Presiden soal Ivermectin.

Dr Pierre Kory, Chief Medical Officer FLCCC yang mengatakan itu dalam konferensi pers virtual tentang “Kisah Sukses Ivermectin di Berbagai Negara sebagai Obat Pencegahan dan Terapi Melawan Covid-19,” Senin (28/6/2021).

Dalam konferensi pers itu dia yakinkan bahwa Ivermectin sudah dipakai 33 negara, melewati 60 uji klinis, melibatkan 549 ilmuwan, dan diterapkan terhadap 18,931 pasien untuk penanganan Covid-19.

Sebagai pencegahan atau profilaksis, kata Pierre, Ivermectin terbukti efektif melawan Covid-19 rata-rata 85 persen, sebagai pengobatan dini 76 persen, dan mengurangi tingkat kematian sebesar 70 persen.

Bahkan, menurutnya, dalam penelitian terbaru soal penggunaan Ivermectin, obat itu mampu menghalangi perkembangan virus varian baru penyebab Covid-19 seperti varian asal Inggris, Vietnam, dan India.

FLCCC, kata Pierre, sudah punya data yang sangat banyak dan tidak bisa disangkal atau harus menunggu penelitian lain dari negara berpenghasilan tinggi. Dia tegaskan, saatnya Ivermectin dipakai secara massal di dunia.

“FLCCC sudah menyampaikan surat kepada Joko Widodo Presiden. Dalam surat itu kami jelaskan tentang FLCCC dan ivermectin. FLCCC juga mengimbau pemerintah Indonesia agar segera memakai Ivermectin untuk menyelamatkan rakyatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Sofia Koswara Ketua FLCCC Alliance Indonesia bilang, sudah waktunya Ivermectin diberi izin sebagai obat terapi Covid-19 di Indonesia. Seperti Pemerintah Slovakia yang baru saja mengeluarkan izin edarnya.

“Bukti nyata dalam bentuk uji klinis, meta analisis, studi penelitian dan penggunaan di lapangan sudah ada dari berbagai negara, termasuk di Indonesia. Hasilnya semua menyatakan yang mirip: Ivermectin efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit Covid-19,” ujarnya.

Tingkat efikasi atau kemanjuran Ivermectin, kata dia, tidak bisa diabaikan. Menurutnya, akan menjadi sebuah kelalaian bila hasil dan fakta yang ada di depan mata didiabaikan oleh Pemerintah Indonesia.

“Keadaan di negara kita ini sudah darurat. Mau tunggu apa lagi? Saya mengimbau, Ivermectin segera diberi izin edar sebagai obat Covid-19, dan diizinkan sebagai obat tanpa resep supaya lebih terjangkau,” ujarnya.

Dalam keterangan tertulis yang diterima suarasurabaya.net, Ivermectin diklaim sudah dipakai di seluruh dunia selama 40 tahun dan digunakan lebih dari empat miliar manusia sebagai obat antiparasit.

Pada 2012 lalu, penelitian menemukan bahwa Ivermectin juga bisa menghalangi virus Zika, Dengue, West Nile, Influenza, HIV, dan lain sebagainya. Karena itulah penemuan Ivermectin mendapat penghargaan Nobel pada 2015 lalu.

Tidak hanya itu, Ivermectin juga disebut sebagai salah satu obat yang masuk dalam daftar obat esensial WHO, yang mana juga diklaim, belum pernah ada catatan manusia meninggal karena mengonsumsi Ivermectin.

Polemik Ivermectin di Indonesia bermula ketika Erick Thohir Menteri BUMN, Senin (21/6/2021) pekan lalu mengeklaim obat Ivermectin yang diproduksi PT Indofarma sudah dapat izin penggunaan dari BPOM untuk terapi Covid-19.

Karena itu, kata Erick, Ivermectin sudah mulai diproduksi oleh PT Indofarma dengan target produksi mencapai empat juta butir per bulan.

Beberapa waktu kemudian, sejumlah epidemiolog memprotes klaim tersebut. Izin edar Ivermectin hanya untuk obat cacing. BPOM RI membenarkan itu. BPOM belum mengeluarkan izin penggunaan Ivermectin sebagai obat Covid-19.

Baru hari ini, Senin (28/6/2021), Kepala BPOM RI menyampaikan bahwa badan yang dia pimpin telah mengeluarkan izin uji klinik atas Ivermectin untuk obat dan terapi pasien Covid-19.(den/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
30o
Kurs