Sabtu, 24 Februari 2024

Pemkot Surabaya Segera Luncurkan E-Peken, Aplikasi Pemberdayaan UMKM dan Toko Kelontong

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
M Fikser Kepala Diskominfo Surabaya saat meluncurkan aplikasi WargaKu. Foto: dok. suarasurabaya.net

Pemkot Surabaya terus berupaya menggerakan roda perekonomian dengan memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan toko kelontong melalui aplikasi digital.

Dalam waktu dekat ini Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Surabaya akan meluncurkan aplikasi E-Peken (Pemberdayaan dan Ketahanan Ekonomi Nang Suroboyo).

Lewat aplikasi itu, Pemkot Surabaya berupaya mempermudah transaksi antarpembeli, pedagang kelontong, koperasi, dan UMKM yang ada di Kota Pahlawan.

M Fikser Kepala Diskominfo Kota Surabaya mengatakan, pada tahap awal, Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Surabaya yang akan diwajibkan berbelanja kebutuhan dinas maupun pribadi melalui aplikasi itu.

Saat ini, kata Fikser, jumlah ASN yang bekerja di Pemkot Surabaya kurang lebih sebanyak 13 ribu orang, yang mana sembilan ribu di antaranya berdomisili di Surabaya.

“Setiap ASN akan berbelanja di toko kelontong sesuai domisilinya. Untuk yang domisili di luar Kota Surabaya akan diikutkan di wilayah kantornya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima suarasurabaya.net, Senin (5/7/2021).

Dia bilang, aplikasi e-Peken sudah seperti e-commerce lainnya. Lewat aplikasi itu, pembeli bisa melihat harga serta jumlah ketersediaan dari produk yang diinginkan.

Bila produk yang ingin dibeli tidak ada, calon pembeli bisa hubungi toko kelontong bersangkutan. Dengan demikian, toko kelontong itu bisa menyediakan produk yang diinginkan pembeli untuk pembelian berikutnya.

“Misal saya mau beli beras, saya ketik beras, nanti akan muncul di aplikasi, kalau stoknya kosong, kita bisa masukkan ke wishlist biar nanti disediakan oleh penjual,” paparnya.

Fikser menjelaskan, bahwa untuk pembayaran produk yang dibeli oleh ASN di aplikasi E-Peken dapat menggunakan QRIS yang bekerja sama dengan Bank Jatim.

Sementara untuk pengiriman produk ke pembeli, penjual dapat memilih untuk mengantarkan sendiri atau menggunakan jasa pengiriman. “Proses pembayarannya juga sudah sama seperti e-commerce lainnya,” jelasnya.

Dia bilang, di aplikasi E-Peken, selain toko kelontong terdapat juga UMKM dan koperasi yang bergabung di dalamnya.

Perangkat Daerah (PD) Pemkot Surabaya bisa membeli makanan, minuman, dan jajan yang dijual oleh UMKM untuk keperluan kegiatan. Bahkan, untuk menyamaratakan transaksi, nantinya akan ada ploting bagi PD agar membeli di UMKM yang ditentukan.

“Nah, untuk menyamaratakan transaksi yang diterima UMKM, nanti akan ada sistem yang mengatur. Mungkin Bagian Humas rapatnya lebih sedikit dari Diskominfo. Kan, UMKM yang diploting di Humas jumlah transaksinya sedikit, jadi nanti akan diputar, biar sama rata,” ujarnya.

Mantan Kabag Humas Pemkot Surabaya ini menuturkan, koperasi primer akan membawahi satu toko kelontong dan dua koperasi sekolah yang ada di wilayah kecamatan.

Fikser menjelaskan, fungsi koperasi primer adalah sebagai perantara antara koperasi sekolah, UMKM, dan toko kelontong dengan distributor. Misalnya, jika koperasi sekolah butuh seragam, bisa membeli dari koperasi primer, begitu pula jika UMKM ingin membeli kebutuhan pokoknya.

“Ini sudah menjadi satu alur, misal UMKM butuh beras dan tepung, UMKM membeli di koperasi primer, sedangkan koperasi primer membeli barang dari distributor,” katanya.

Dia bilang, untuk harga jual produk harus lebih murah atau minimal sama seperti harga pasar. Sebab itu, Pemkot Surabaya melalui Dinas Perdagangan (Disperindag) akan rutin melakukan pengawasan dan mengontrol lonjakan harga di aplikasi.

“Harga harus lebih murah atau sama dengan harga pasar, nanti Disperindag akan melakukan pengawasan,” ujarnya.

Sampai sekarang ada 150 toko kelontong yang sudah bergabung di e-Peken. Ke depan, Fikser menargetkan lebih dari 400 toko kelontong menjadi binaan Pemkot Surabaya. Sehingga dia mengakui bahwa saat ini jumlahnya belum merata di setiap kelurahan.

“Jujur saja, toko kelontong saat ini belum merata, ke depan jumlah toko kelontong akan merata di setiap kelurahan,” katanya.(ant/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok, Jembatan Branjangan Macet Total

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Bus Tabrak Tiang Listrik di Sukodadi Lamongan

Surabaya
Sabtu, 24 Februari 2024
27o
Kurs