Senin, 1 Maret 2021

Penularan Covid-19 karena Komorbid Tertinggi di Surabaya

Laporan oleh Zumrotul Abidin
Bagikan
Ilustrasi. 5.184 Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) se-Kota Surabaya melakukan Tes Swab yang difasilitasi Satgas Covid-19 Pemkot Surabaya. Foto: Anton suarasurabaya.net

Satgas Covid-19 Kota Surabaya menilai, orang yang mempunyai komorbid dan memeriksakan diri ke rumah sakit menjadi tertinggi penyebab penyebaran Covid-19 di Surabaya. Hal itu sesuai hasil analisis data hasil tracing mulai tanggal 18-24 Januari 2021 yang dilakukan pada 200 sampel kasus positif.

Irvan Widyanto Sekretaris Satgas Covid-19 Kota Surabaya mengatakan, penyebab karena memiliki komorbid ini angkanya 31 persen. Kemudian disusul kontak erat keluarga yang dinyatakan terkonfirmasi Covid-19 persentasenya mencapai 26 persen.

“Sehingga meski di posisi kedua, klaster keluarga masih dominan. Urutan penularannya bisa jadi anak muda keluyuran, nongkrong, lalu pulang ke rumah ketemu orangtua yang lanjut usia plus kormobid, akhirnya menular,” ujar Irvan kepada suarasurabaya.net, Senin (24/1/2021).

Setelah klaster keluarga, kata Irvan, lalu disusul penularan di tempat kerja sebesar 18,5 persen. Irvan bilang akan terus melakukan pengawasan protokol kesehatan di perkantoran/tempat kerja. Dia meminta juga kepada manajemen perkantoran agar mematuhi protokol kesehatan.

“Mengizinkan karyawan/pegawai di sebuah perkantoran/tempat kerja yang kesehatannya menurun/menunjukan salah satu gejala yang diakibatkan virus Covid-19 untuk tidak masuk kerja sampai dengan kesehatannya pulih atau sudah melaksanakan screening Covid-19 dan dinyatakan sehat,” katanya.

Bepergian dari luar kota menjadi penyebab orang terpapar Covid-19 dengan persentase 10 persen. Lalu, setelah dari keramaian/kerumunan persentasenya 7,5 persen.

“Pekerja di Rumah Sakit / Tenaga Medis persentasenya 5 persen, tes swab sebagai persyaratan perjalanan persentasenya 2 persen,” katanya.

Menurut Irvan dari 200 sample kasus Covid-19 itu, sebanyak 59 persen orang terkonfirmasi Covid-19 melaksanakan isolasi mandiri di rumah/apartemen. Sedangkan 36 persen melaksanakan isolasi di rumah sakit/tempat yang disediakan oleh pemerintah/swasta.

“Lalu 3 persen melaksanakan isolasi di tempat lainnya, 2 persen dinyatakan meninggal dunia,” tambahnya.

Satgas Covid-19 Surabaya menghimbau kepada masyarakat yang merasa kesehatannya menurun atau merasa tidak enak badan secara tiba-tiba untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Penyakit gejala yang sering timbul yang diakibatkan oleh virus Covid-19 sesuai hasil data analisis adalah hilang indra penciuman (anosmia), batuk berkepanjangan, sesak nafas, sakit tenggorokan, dan demam tinggi,” katanya.

Satgas Covid-19, kata Irvan, merekomendasikan perlu adanya pengetatan persyaratan terkait dengan pelaksanaan isolasi mandiri di rumah, dikarenakan terdapat banyak kasus yang terjadi akibat kontak erat dari keluarga yang terkonfirmasi Covid-19

“Penguatan Kampung Wani Jogo Suroboyo untuk memonitor warganya yang baru saja bepergian dari luar kota/negeri perlu dilakukan. Perlu juga dilakukan penanganan cepat/tracing untuk kontak erat pasien terkonfirmasi agar pemutusan mata rantai Covid-19 dapat terkendali,” katanya.

Kemudian kata Irvan, perlu adanya tindaklanjut atau pelaporan dari stasiun/bandara/biro perjalanan ke Satgas Penanganan Covid-19 untuk hasil dari screening test Covid-19 yang dilaksanakan terhadap calon penumpang. (bid/ang/lim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Berlubang dan Berkubang

Kebakaran Rumah di Wonosari Surabaya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Truk Terguling di Prigen

Surabaya
Senin, 1 Maret 2021
27o
Kurs