Minggu, 5 Desember 2021

Penyebab Banjir di Desa Tempuran Mojokerto

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Banjir di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto Senin (4/1/2021). Foto: Fuad Maja FM untuk suarasurabaya.net

Sebanyak 267 rumah warga Dusun Tempuran dan Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto sampai Senin (4/1/2021), masih terendam banjir.

Petugas Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Kabupaten Mojokerto mencatat, banjir terjadi sejak malam tahun baru Jumat (1/1/2021) hingga kini.

Fuad reporter Maaja FM melaporkan, di Dusun Tempuran terdapat 29 rumah (95 jiwa) yang terendam banjir. Sedangkan 238 rumah lainnya (737 jiwa) berada di Dusun Bekucuk.

Banjir terparah merendam permukiman warga di kawasan Dusun Bekucuk RT03/RW 03. Ketinggian air mencapai sekitar 60 centimeter hingga satu meter.

Slamet Kepala Desa Tempuran mengatakan, penyebab banjir tahunan kali ini adalah meluapnya air Sungai Avur Jombok dan Sungai Watudakon, serta pengerjaan tanggul sungai yang belum selesai.

”Tanggul yang belum selesai dicor itu panjangnya sekitar satu kilometer. Itu ada di selatan Jembatan Bekucuk. Di tambah guyuran hujan beberapa hari yang lalu membuat volume air sungai juga akibat kiriman dari Jombang,” ujarnya.

Kondisi ini diperparah dengan banyaknya tumpukan sampah di bawah Jembatan Prabon yang menghambat aliran sungai. Warga telah berupaya mengangkat sampah di bawah Jembatan Prabon sebelum Dam Sipon.

”Jadi kalau sampah ini tidak diangkat, air yang mau mengalir ke sungai jadi sulit. Kalau aliran sungainya lancar, genangan di permukiman bisa mengalir ke sungai,” ungkapnya.

Sementara itu, Maslucman Camat Sooko, mengatakan pihaknya sudah berupaya menanggulangi bencana banjir di kawasan Dusun Bekucuk, Desa Tempuran yang disebabkan luapan Sungai Avur tersebut.

“Ada pembersihan tanggul di jembatan Prabon masih berlangsung namun yang menjadi kendala sekarang adalah sampah yang ada di sungai yaitu sampah rumah tangga dan sampah berasal dari tanaman Eceng Gondok,” ungkapnya di lokasi banjir, Desa Tempuran, Senin (4/1/2021).

Maslucman menyebut apabila pembersihan sungai Avur tidak dilakukan secara periodik maka kawasan Desa Tempuran akan tetap terendam banjir. Selain normalisasi, pembersihan sampah di sungai secara periodik mutlak diperlukan untuk menjaga aliran sungai Dam Sipon Pageruyung.

Masih kata Maslucman, aliran Dam Sipon tersumbat gara-gara dipicu sampah rumah tangga, ranting pohon dan sampah tanaman eceng gondok yang menumpuk terbawa arus sungai.

“Sampah eceng gondok inilah yang harus dibersihkan minimal dua bulan sekali oleh dinas terkait (BBWS Solo, Red),” ujarnya.

Pemerintah Daerah kini masih berupaya untuk berkoordinasi bersama dinas terkait pemeliharaan sungai. Pembersihan sungai Avur secara periodik diharapkan dapat mencegah banjir terulang setiap tahun.(fad/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Minggu, 5 Desember 2021
30o
Kurs