Rabu, 3 Maret 2021

Sejumlah Berita Hoaks Vaksin Covid-19 yang Beredar Selama Januari 2021

Laporan oleh Anggi Widya Permani
Bagikan
Hoax. Grafis: Didik suarasurabaya.net

Informasi hoaks seputar Vaksin Covid-19 masih sering dijumpai bertebaran di media sosial. Kondisi tersebut tentu membuat resah dan menjadi kekhawatiran masyarakat yang mudah percaya, lalu ikut menyebarluaskan tanpa memastikan kebenarannya.

Berikut ini suarasurabaya.net menghimpun beberapa informasi Vaksin Covid-19 (mulai 1 Januari sampai 19 Januari 2021) yang ramai dibicarakan masyarakat dan berdasarkan cek fakta informasi tersebut masuk dalam kategori hoaks, disinformasi, dan salah/keliru.

1. Vaksin Covid-19 Mengandung Polisorbat 80 Berbahaya 

Beredar postingan di media sosial Facebook, tentang bahaya vaksin karena mengandung Polisorbat 80. Dalam postingannya terdapat gambar dengan narasi “Rahasia kotor Vaksin!! Polysorbate 80. Pengemulsi kimiawi ini menekan sistem kekebalan dan melewati sawar darah otak yang dapat menyebabkan anafilaksis, radang otak dan kemandulan” .

Dikutip dari Wikipedia, Polisorbat 80 adalah surfaktan nonionik dan pengemulsi yang sering digunakan dalam makanan dan kosmetik. Senyawa sintetis ini adalah cairan kuning kental yang larut dalam air.

Beredar postingan di media sosial Facebook, tentang bahaya vaksin karena mengandung Polisorbat 80.

 

Berdasarkan hasil cek fakta dikutip dari kominfo.go.id, klaim postingan yang menyebutkan Vaksin Covid-19 yang mengandung polisorbat berbahaya adalah tidak benar. Faktanya isu tersebut sudah pernah beredar sejak 2017.

Namun postingan serupa marak kembali dibagikan setelah Vaksin Covid-19 mendapat izin darurat (EUA) di beberapa negara. Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) Vaksin Covid-19 buatan Pfizer dan Mordena tidak mengandung Polisorbat 80.

Namun, Polisorbat 80 lazim digunakan di vaksin sebagai pengelmusi untuk menyatukan bahan. Tak hanya vaksin, Polisorbat 80 juga digunakan di produk kosmetik, vitamin, bahkan produk makanan seperti es krim.

“Biasanya dalam satu cangkir es krim mengandung lebih dari 300 ribu microgram Polisorbat 80. Sebaliknya jumlah Polisorbat 80 dalam formulasi vaksin hanya sekitar 50 gram,” ujar Suresh Mittal Profesor Virologi Purdue University pada AFP Fact Check.

“Tidak ada kekhawatiran yang signifikan tentang penggunaan Polisorbat 80 pada vaksin, kecuali ada orang yang alergi dengan bahan itu,” katanya.

Selain itu terdapat penjelasan dari Cosby Stone Jr, Instruktur alergi dan imunologi di Klinik Alergi Obat Universitas Vanderbilt.

“Kasus alergi akibat Polisorbat 80 juga sangat jarang terjadi, mungkin hanya satu dari sejuta. Polisorbat 80 seperti halnya penstabil dalam vaksin, jadi tidak mungkin menembus sawar darah otak,” kata Stone.

“Vaksin memiliki sejarah keamanan yang panjang dan menjalani pengujian keamanan dan kemanjuran yang ketat sebelum tersedia untuk umum. Bahan-bahan vaksin digunakan pada tingkat paling minimum untuk menjaga agar vaksin tetap aman dan seefektif mungkin,” tambahnya.

Kesimpulan: postingan yang menyebut vaksin covid-19 yang mengandung polisorbat berbahaya adalah hoaks.

2. Ada Microchip dalam Kandungan Vaksin Covid-19 

Beredar postingan di media sosial Facebook, tentang vaksin yang di dalam kandungannya terdapat microchip. Akun Novi Hardian mengunggah sebuah gambar dengan narasi, “WASPADALAH BAGI UMAT ISLAM SEMUA DENGAN ADANYA VAKSIN YANG MAU DI PROGRAMKAN PEMERINTAH… PADA AWAL TAHUN 2021 UMAT ISLAM HARUS BERANI TEGAS MENOLAKNYA KALAU TIDAK MAU DI BUAT TARGET PEMBANTAIAN 7,5 MILIYAR NYAWA…”.

Di gambar tersebut terdapat foto microchip serta foto scan tangan manusia dan narasi, “Ketika di vaksin, microchip yg sangat kecil dipasang tanpa terasa dg diam2. Tujuannya lain selain utk corona juga utk membunuh yg diprogram secara remote orang yg tdk disukai oleh Dajjal baru. New Dajjal siap membunuh 7.5 milyard manusia”.

 

Beredar postingan di media sosial Facebook, tentang vaksin yang di dalam kandungannya terdapat microchip.

 

Berdasarkan hasil cek fakta dikutip dari covid19.go.id, adanya microchip yang akan ditanamkan diam-diam tanpa terasa ketika divaksin Covid-19 yang diprogram untuk membunuh 7,5 miliar manusia adalah klaim yang keliru.

Faktanya, vaksin diberikan dengan cara disuntikkan ke dalam tubuh, dan ukuran microchip tidak cukup kecil untuk melalui jarum suntik. Vaksin pun merupakan salah satu cara untuk memberikan kekebalan pada tubuh terhadap penyakit tertentu yang berbahaya atau mematikan, sebagaimana yang telah terjadi pada vaksin campak dan polio. Begitu juga dengan Vaksin Covid-19 Sinovac.

Dikutip dari Science20, kebanyakan microchip RFID (Radio Frequency Identification) terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam jarum berukuran normal yang digunakan untuk vaksin. Mungkin saja membuat chip dengan ukuran yang lebih kecil, tapi tidak berguna apabila tidak memiliki antena sebagai penerima sinyal.

Sebuah chip harus memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mengambil daya dari gelombang mikro, yang kemudian mengirim kembali sinyal yang cukup kuat sehingga bisa diterima oleh penerima.

Chip RFID terkecil yang tersedia secara komersial, lengkap dengan antenanya, hanya dapat terbaca dari jarak milimeter. Sementara chip RFID terkecil yang tidak tersedia secara komersial hanya dapat terbaca dari jarak mikron.

Sejak April 2020, isu tentang microchip yang ditanamkan ke dalam tubuh manusia melalui vaksin beredar seiring dengan rumor bahwa pendiri Microsoft, Bill Gates, membuat vaksin Covid-19 yang dipasang microchip.

Selain itu, vaksin memiliki efek samping, tapi tidak mematikan. Vaksin, seperti obat-obatan lainnya, dapat menyebabkan efek samping. Yang paling umum terjadi adalah efek samping ringan.

Vaksin telah banyak digunakan untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya yang bisa berujung serius atau bahkan kematian. Vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah seseorang terinfeksi penyakit tertentu.

Dilansir dari BBC, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat vaksin mampu menurunkan kematian akibat campak hingga 80 persen sepanjang 2000-2007. Demikian pula dengan polio yang hampir tidak bisa dijumpai lagi di tengah masyarakat dibandingkan beberapa dekade lalu di mana jutaan orang menjadi korban polio.

Riset WHO lainnya mengestimasi efek ekonomi dari vaksinasi periode 2001-2020, yang menyebut vaksinasi 10 jenis penyakit menular dapat mencegah 20 juta kematian di 73 negara, termasuk Indonesia.

Vaksinasi juga dapat menyelamatkan kerugian yang ditimbulkan sebesar 350 miliar dolar Amerika Serikat (hampir Rp 5 ribu triliun) untuk biaya perawatan kesehatan. Adapun nilai ekonomi dan sosial yang lebih luas dari vaksinasi diperkirakan mencapai 820 miliar dolar AS (sekitar Rp 11.700 triliun) di 73 negara tersebut.

Kesimpulan: postingan yang menyebut vaksin covid-19 yang mengandung microchip adalah salah.

 

3. Danramil Kebomas di Gresik Meninggal Setelah Disuntik Vaksin Covid-19

Beredar sebuah tangkapan layar dari pesan berantai di Whatsapp yang mengklaim bahwa Danramil Kebomas Kodim 0817 Gresik, Mayor Kav Gatot Supriyono meninggal dunia akibat disuntik Vaksin Covid-19. Pada tangkapan layar tersebut juga diiringi narasi yang menyinggung nama Kasdim 0817/Gresik, Mayor Sugeng Riyadi.

Tangkapan layar dari pesan berantai di Whatsapp yang mengklaim bahwa Danramil Kebomas Kodim 0817 Gresik, meninggal dunia akibat disuntik Vaksin Covid-19.

 

Dikutip dari kominfo.go.id, klarifikasi langsung yang disampaikan oleh Brigadir Jenderal Supriyono WaAsops Kasad TNI AD, bahwa klaim yang menyebutkan bahwa Danramil Kebomas Gresik meninggal dunia akibat disuntik Vaksin Covid-19 adalah tidak benar atau hoaks.

Faktanya Mayor Kav Gatot Supriyono Danramil Kebomas meninggal dunia dengan indikasi serangan jantung dan belum pernah divaksin. Mayor Kav Gatot Supriyono melaksanakan rapid antigen di Poskes Gresik pada hari Kamis, 14 Januari 2021 dengan hasil negatif.

Di sisi lain, Mayor Inf Sugeng Riyadi Kasdim 0817/Gresik masih dalam keadaan sehat walafiat per Minggu 17 Januari 2021. Sugeng menjadi salah satu dari 7 orang yang mendapatkan vaksin perdana di Gresik.

Kesimpulan: postingan yang menyebut Danramil Kebomas Kodim 0817 Gresik meninggal akibat disuntik vaksin Covid-19 adalah hoaks.

 

4. Santri Pingsan Setelah Divaksin Covid-19

Beredar video dengan narasi “RATUSAN SANTRI DISUNTIK VAKSIN LANGSUNG PINGSAN DAN MUAL” di sejumlah jejaring media sosial jelang vaksinasi Covid-19 tahap pertama di Indonesia, Rabu (13/1/2021).

Dalam cuplikan gambar berdurasi sekitar dua menit itu, sejumlah laki-laki yang menggunakan sarung serta peci dan bermasker tampak terbaring di sebuah ruangan.

Banyak pula orang yang terlihat di video itu dengan kondisi lemas sehingga harus digotong rekannya menuju ruangan, sebagaimana termuat di Facebook maupun kanal berbagi video Youtube.

Tidak sedikit masyarakat yang percaya dengan video tersebut. Samsul Arifin pendengar Suara Surabaya membagikan ceritanya, saat pertama kali ia mendapatkan video berantai itu. Dia mengaku tidak percaya, karena saat itu pelaksanaan vaksin perdana belum dilakukan, yang mana Joko Widodo Presiden yang menjadi orang pertama disuntik vaksin Covid-19.

“Pertama kali muncul di sosmed, saya mikir ‘Presiden aja belum divaksin kok santri sudah pada divaksin?’. Itu kan gak masuk akal. Jadi harus pinter pakai logika juga sekarang,” ujarnya.

Video tersebut, kata dia, juga sempat beredar di lingkungan keluarganya. Tidak sedikit mereka ikut percaya. Samsul berupaya menjelaskan bahwa video itu tidak benar, tapi mereka terkesan ngeyel. Alasan kuatnya pada santri di video tersebut yang menggunakan masker, di mana di masa sekarang semua orang wajib menggunakan masker.

“Ngeyel mbak. Karena itu tadi santrinya pakai masker, mereka yakin kalau itu kejadiannya ya pas pandemi ini,” kata dia.

Benarkah ratusan santri pingsan setelah divaksin Covid-19 sebagaimana judul yang disematkan dalam video itu?

 

Beredar video santri pingsan setelah menjalani vaksin Covid-19.

Berdasarkan cek fakta yang dilakukan Kantor Berita Antara, bahwa narasi yang menyebut ratusan santri pingsan dan mual usai disuntikan vaksin dalam tayangan video itu merupakan hoaks.

Dari hasil penelusuran, video tersebut merupakan cuplikan gambar lama yang dimunculkan kembali dengan judul dan narasi yang direkayasa.

Kejadian yang terekam dalam video itu merupakan peristiwa yang berlangsung pada 2018 dan dimuat oleh akun Youtube Jember 1TV pada 28 Februari 2018.

“Puluhan santri pondok pesantren di Kecamatan Jenggawah Jember pingsan karena dehidrasi usai disuntik vaksin difteri, orangtua santri panik hingga berdatangan ke pondok pesantren tersebut,” demikian keterangan yang dimuat Jember 1TV dalam kanal Youtube-nya.

Kesimpulan: postingan yang menyebut santri pingsan setelah divaksin Covid-19 adalah salah/disinformasi.

5. Vaksin Sinovac Mengandung Sel Kera Hijau Afrika

Beredar di media sosial Facebook sebuah klaim yang menyebutkan bahwa vaksin Sinovac mengandung Vero Cell atau sel kera hijau Afrika. Dalam unggahannya, disertakan foto kemasan vaksin Sinovac serta foto hasil tangkapan layar definisi Sel Vero menurut situs Wikipedia.

 

Beredar di media sosial Facebook sebuah klaim yang menyebutkan bahwa vaksin Sinovac mengandung Vero Cell atau sel kera hijau Afrika.

 

Dikutip dari covid19.go.id, berdasarkan hasil penelusuran bahwa sel kera hijau Afrika (Vero Cell) bukan merupakan kandungan dalam vaksin Sinovac, melainkan digunakan untuk menguji keefektifan vaksin terhadap virus SARS-CoV-2, dengan cara menyuntikkan virus SARS-CoV-2 ke dalam paru-paru kera hijau Afrika yang menjadi objek penelitian.

Penyuntikkan melalui paru-paru dinilai paling efektif lantaran virus SARS-CoV-2 yang menyerang jaringan pernapasan. Virus kemudian berkembang di Sel Vero kera hijau Afrika. Vaksin Sinovac kemudian bekerja melawan virus SARS-CoV-2 yang berkembang di dalam Sel Vero kera tersebut.

PT Bio Farma telah menegaskan bahwa klaim yang beredar mengenai vaksin Sinovac mengandung sel kera hijau Afrika tersebut adalah tidak benar. Lebih lanjut, Prof. Dr. Zubairi Djoerban Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), melalui akun Twitter resminya juga telah menyatakan bahwa klaim mengenai kandungan vaksin Sinovac tersebut adalah hoaks.

Kesimpulan: postingan yang menyebut vaksin sinovac mengandung sel kera hijau afrika adalah hoaks dan dikategorikan sebagai konten yang menyesatkan. (ang/lim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Atap Ambruk di Rangkah

Berlubang dan Berkubang

Kebakaran Rumah di Wonosari Surabaya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Surabaya
Rabu, 3 Maret 2021
27o
Kurs