Senin, 6 Desember 2021

Sembilan Orang Jadi Korban Penipuan oleh Oknum Pegawai Pemkot Surabaya

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Dokumen. Balai Kota Surabaya.

Sembilan orang menjadi korban penipuan dengan diiming-imingi menjadi pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya. Pelaku berinisial TR yang tak lain adalah oknum pegawai Pemkot Surabaya.

Edo Edward warga Surabaya sekaligus pendengar Radio Suara Surabaya menceritakan penipuan tersebut pada Radio Suara Surabaya pada Rabu (24/11/2021) kemarin. Tak tanggung-tanggung, ia bersama delapan orang temannya mengalami ditipu sebesar Rp1.339.500.000.

Mendapati laporan tersebut, Suara Surabaya kemudian mengonfirmasi langsung ke pihak kepolisian dan Pemkot Surabaya.

Febriadhitya Prajatara Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya menyampaikan, pihak pemkot masih akan menelusuri lebih lanjut kasus tersebut.

“Aku dengar ada info tersebut, aku cek dan minta waktu, ya,” kata Febri pada Rabu (24/11/2021).

Dihubungi secara terpisah, Kompol Mirzal Maulana Kasatreskrim Polrestabes Surabaya mengatakan, laporan korban sudah diterima dan kasus masih diselidiki oleh Satreskrim.

“Kasus ini baru diterima laporannya dan masih dalam penyelidikan Unit Tipikor Satreskrim,” kata Kompol Mirzal saat dihubungi suarasurabaya.net pada Kamis (25/11/2021).

Menurut Edo, dari 9 korban tersebut, 8 di antaranya warga Surabaya dan satu orang lainnya warga Sidoarjo.

Dalam ceritanya, Edo menjelaskan kronologi penipuan yang ia dan kedelapan temannya alami.

Bermula pada Juni lalu, pelaku TR menawarkan kepada Edo untuk bekerja sebagai ASN di lingkungan Pemkot Surabaya. TR sendiri tak lain adalah langganan ojek online mobil yang dijalankan oleh Edo.

TR menawarkan jabatan ASN ke Edo dan teman-temannya diwajibkan membayar uang sebesar Rp150 juta per orang.

Karena Edo sudah berusia 53 tahun dan akan memasuki usia pensiun, TR berdalih nantinya korban akan diterima sebagai mutasi ASN dari Jakarta ke Surabaya. Ia dan teman-temannya pun percaya karena dengan meyakinkan, TR menunjukkan foto-foto sebagai bukti kedekatannya dengan Kepala Badan Kepegawaian Daerah hingga orang di Kementerian Dalam Negeri.

“Saya percaya karena di situ mencatut nama pimpinan BKD, menunjukkan kalau di belakangnya dia ada orang Mendagri, percakapan-percakapan ada semua,” kata Edo.

Ia dan kedelapan temannya pun akhirnya percaya dan memberikan uang yang diminta oleh pelaku. Mereka lalu diminta untuk bekerja dari rumah (work from home/WFH) dengan melakukan absensi secara online setiap pukul 07.30 dan 17.00 WIB.

Kesembilan korban pun sempat mendapatkan transfer gaji sebesar Rp4.700.000 per bulan. Gaji itu sempat ia terima selama tiga bulan, mulai bulan Agustus, September dan Oktober 2021.

Hingga kemudian, Edo berinisiatif untuk mengecek pengirim gaji tersebut.

“Setelah itu saya inisiatif mengecek transfer itu dari mana, Pemkot Surabaya atau perseorangan. Setelah saya cek ternyata perorangan dari oknum tersebut,” ujarnya.

Setelah itu, Edo langsung mendatangi Pemkot Surabaya untuk mengonfirmasi kejadian yang ia alami. Dan ternyata, salah seorang pimpinan di Pemkot Surabaya menjelaskan bahwa rekrutmen tersebut tidak pernah terjadi.

“Saya ketemu kepala bidang bahwa semuanya ternyata abal-abal. Saya ke Wali Kota menyerahkan berkas-berkas saya. Ke inspektorat, berkas saya kasihkan. Berkas saya kasihkan ke BKD juga lapor ke kepolisian tanggal 12 (November) kemarin tapi sampai sekarang masih proses,” paparnya.

Sedangkan saat mendatangi Pemkot Surabaya, petugas di sana mengatakan bahwa pihak pemkot masih berkoordinasi dengan Polrestabes Surabaya.

Sebelumnya, Edo juga melakukan upaya untuk mencegah agar pelaku tidak melarikan diri. Dia akhirnya melaporkan pelaku ke Ketua RT/RW serta Polsek Pakal agar pelaku diamankan. Namun, polisi sempat melepaskan pelaku.

“Karena takut dia lolos, saya minta bantuan RT/RW setempat karena pelaku tinggal di Benowo. Minta bantuan Linmas, Babinsa di Polsek Pakal akhirnya yang bersangkutan diamankan di Polsek Pakal. Lalu setelah itu dilepaskan lagi,” lanjutnya.

Kemudian sejak Jumat (19/11/2021), Edo menuturkan bahwa TR sudah tidak lagi pulang ke rumah, dan tidak lagi berangkat ke kantor.

Sedangkan pada Kamis (18/11/2021) sebelumnya, Edo melihat nomor handphone pelaku sempat aktif.

“Kamis kemarin nomor masih aktif dan masih merekrut orang. Jadi untuk warga Surabaya tolong hati-hati,” ujarnya.(tin/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Senin, 6 Desember 2021
26o
Kurs