Senin, 1 Maret 2021

Tahun 2020, Rumah dan Sekolah Masih Belum Jadi Tempat Aman Bagi Anak

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Ilustrasi dari The Asian Parent Indonesia

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, selama tahun 2020, seiring dengan laporan terjadinya kekerasan pada anak-anak, bahwa rumah dan sekolah masih belum jadi tempat aman beraktivitas bagi anak-anak.

Berkaitan dengan terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak di Jawa Timur tersebut, LPA membaginya menjadi dua data masukan. Pertama, berdasarkan laporan langsung. Kedua, berdasarkan data yang dihimpun dari media massa cetak atau online di Jawa Timur.

Secara keseluruhan memang terjadi penurunan kekerasan terhadap anak-anak di Jawa Timur. Tahun 2019 pelapor langsung tercatat 90, sedangkan di tahun 2020 menjadi 46 saja. Dan itu artinya kekerasan terhadap anak di Jawa Timur terjadi penurunan sampai 50%.

“Kalau berdasarkan data atau laporan kekerasan pada anak yang dihimpun melalui media massa di tahun 2019 tercatat 358 kejadian. Di tahun 2020, tercatat ada sekitar 140 kejadian. Terjadi penurunan sampai sekitar 20%,” terang Isa Anshori Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, Kamis (7/1/2021).

Dengan demikian dibanding tahun 2019, di tahun 2020 terjadi penurunan kekerasan terhadap anak di Jawa Timur. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah rumah dan sekolah dan jalan sebagai tempat antara rumah dan sekolah, ternyata masih menjadi tempat yang tidak aman bagi anak, apalagi selama Pandemi Covid-19 sejak Maret hingga Desember 2020.

Dalam data Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur sebelum dan sesudah pandemi terjadi peningkatan kekerasan terhadap anak sampai sekitar 100%. Yang terjadi pada bulan Pebruari sebanyak 6 kejadian, Maret 12 kejadian, April 14 kejadian, dan bulan Mei tercatat 16 kejadian.

“Dari catatan itu, dibutuhkan penguatan keluarga dan pengasuhan terhadap anak sangat diperlukan. Program pemerintah yang mengadakan program konseling pra nikah menjadi sebuah keniscayaan agar pengasuhan terhadap anak menjadi baik dan rumah menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang anak,” tambah Isa Anshori.

Disamping mendorong sekolah agar menjadi sekolah yang ramah terhadap anak, kata Isa Anshori merupakan sebuah keharusan bagi pemerintah, agar sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi anak-anak untuk tumbuh kembang dengan baik.

Program penguatan guru dalam pembelajaran yang memahami keragaman dan kebutuhan anak perlu digalakkan oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan Jawa Timur maupun di tingkat Kabupaten dan Kota.

Hal lain yang patut diperhatikan, lanjut Isa Anshori adalah lingkungan antara rumah dan sekolah, Pemerintah diharapkan melalui aparaturnya, seperti Kepolisian, Satpol PP ataupun Linmas, bisa ditempatkan di daerah-daerah yang sering menjadi lalu-lintas anak, sehingga dapat mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

“Akhirnya yang menjadi catatan penting adalah kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi ancaman di Jawa Timur ini. Demikian juga dengan rumah dan sekolah berdasarkan data kasus yang ada, masih belum menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk beraktivitas,” pungkas Isa Anshori. (tok/ang)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Wonosari Surabaya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Truk Terguling di Prigen

Terguling dan Muatannya Tumpah

Surabaya
Senin, 1 Maret 2021
25o
Kurs